cucak jenggot si janggut putih dari jawa yang makin terancam - News | Good News From Indonesia 2026

Cucak Jenggot: Si Janggut Putih dari Jawa yang Makin Terancam

Cucak Jenggot: Si Janggut Putih dari Jawa yang Makin Terancam
images info

Burung Cucak Jenggot. Gambar: Repro AI


Di balik suara burung yang ramai di hutan Jawa dan Bali, ada kicauan tajam yang terdengar seperti rentetan tembakan pendek. Pemilik suara itu adalah cucak jenggot atau empuloh janggut (Alophoixus bres), burung pengicau dari keluarga Pycnonotidae.

Burung ini endemik Jawa dan Bali, sehingga kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada kondisi habitat di kedua pulau tersebut.

Nama “jenggot” berasal dari bulu putih di dagu dan tenggorokannya. Tubuhnya berukuran sekitar 22 sentimeter, dengan punggung cokelat zaitun, bagian bawah kekuningan, pipi abu-abu, iris kemerahan, paruh hitam, serta kaki cokelat keabu-abuan. Ciri tersebut membuatnya relatif mudah dikenali ketika bergerak di tajuk bawah hutan.

baca juga

1. Burung Kecil dengan Ciri yang Tidak Biasa

Cucak jenggot hidup di hutan primer, hutan sekunder, semak rapat, dan kawasan agroforestri. Penelitian Agus Nurrofik dan kawan-kawan dalam “Preliminary Observation on Nesting Ecology of Endangered Brown-Cheeked Bulbul (Alophoixus bres) in Jatimulyo Agroforestry” (2023) mencatat bahwa spesies ini dapat ditemukan dari dataran rendah hingga sekitar 1.500 meter.

Makanannya terdiri atas buah dan berbagai jenis serangga. Penelitian tersebut menemukan anak cucak jenggot diberi serangga pada pagi hari dan buah pada tengah hari. Jenis serangganya antara lain ulat, Lepidoptera, Coleoptera, Orthoptera, dan Diptera, sedangkan buah yang ditemukan antara lain mangir, lempeni, dan senggani.

Burung ini biasanya hidup sendiri atau berpasangan dan aktif mencari makan pada tajuk bawah. Suaranya keras, kasar, dan memiliki rangkaian tembakan yang rapat. Karakter tersebut membuat cucak jenggot populer di kalangan penghobi burung, tetapi popularitas itu sekaligus menghadirkan persoalan serius.

2. Dari Suara Populer menuju Masalah Konservasi

Cucak jenggot sering dihargai karena kemampuan vokalnya. Suaranya bahkan dimanfaatkan sebagai suara masteran untuk burung pengicau lain. Masalah muncul ketika nilai ekonomi burung mendorong penangkapan dari alam, terutama ketika perdagangan berlangsung tanpa memperhitungkan kemampuan populasi untuk pulih.

BirdLife International dalam The IUCN Red List of Threatened Species: Alophoixus bres (2020) mencatat cucak jenggot berstatus Endangered atau Terancam Punah. Status tersebut menunjukkan risiko kepunahan yang serius dan menjadi peringatan bahwa tekanan terhadap habitat serta populasi tidak dapat dianggap sepele.

Status tersebut menarik karena cucak jenggot belum tercantum sebagai satwa dilindungi dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018. Peraturan itu merupakan perubahan kedua atas daftar jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

Perbedaan tersebut perlu dipahami dengan hati-hati. Status Endangered menurut IUCN merupakan penilaian risiko kepunahan, sedangkan status dilindungi merupakan kategori hukum nasional. Dengan demikian, tidak tercantum sebagai satwa dilindungi bukan berarti populasinya otomatis aman.

baca juga

3. Janggut Putih dan Masa Depan di Alam

Salah satu penelitian penting tentang cucak jenggot dilakukan melalui pengamatan sarang di Jatimulyo, Yogyakarta. Nurrofik dan rekan-rekannya menemukan sarang aktif pada 19 Desember 2021, berada di cabang bambu apus sekitar 1,5 meter dari tanah. Sarang berbentuk cawan itu memiliki dua anak dan dibuat dari bahan tumbuhan.

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa agroforestri dapat menjadi habitat penting bagi burung yang terancam. Artinya, konservasi tidak selalu harus berbentuk hutan yang sepenuhnya tertutup dari aktivitas manusia. Lanskap pertanian yang dikelola dengan mempertahankan pohon, semak, dan sumber pakan juga dapat memberi ruang hidup bagi satwa liar.

Data mengenai umur maksimum, umur pertama kali berkembang biak, lama pengeraman, dan usia anak menjadi mandiri masih terbatas. Karena itu, angka pasti mengenai aspek tersebut sebaiknya tidak diklaim tanpa penelitian lapangan yang memadai. Keterbatasan data justru menunjukkan masih luasnya ruang penelitian mengenai kehidupan burung ini.

Cucak jenggot mengajarkan sesuatu yang sederhana. Burung tidak harus menunggu menjadi satwa dilindungi untuk mendapatkan perhatian konservasi. Ketika status globalnya sudah Endangered, menjaga habitat, mengurangi penangkapan liar, dan memperkuat penelitian jauh lebih masuk akal daripada menunggu suaranya benar-benar menghilang dari hutan Jawa dan Bali.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.