belajar bahasa inggris tak lagi menakutkan bagi siswa sdn 02 solokanjeruk lewat tebakan hewan dan papan misteri - News | Good News From Indonesia 2026

Belajar Bahasa Inggris Tak Lagi Menakutkan: Siswa SDN 02 Solokanjeruk Belajar Tebakan Hewan dan Papan Misteri

Belajar Bahasa Inggris Tak Lagi Menakutkan: Siswa SDN 02 Solokanjeruk Belajar Tebakan Hewan dan Papan Misteri
images info

Dokumentasi Pribadi


Di sebuah sudut kelas SDN 02 Solokanjeruk, seorang siswa kelas 4 berdiri cukup lama di depan sebuah papan berisi sepuluh pintu berwarna.

Ia baru saja memilih satu pintu yang ternyata menyimpan kategori school things. Setelah memandangi bangku dan meja di sekelilingnya, ia mulai menulis dengan ragu di kertas kelompoknya.

"Cahir?"

Beberapa temannya tertawa, bukan untuk mengejek, melainkan karena tahu kata yang ingin ia tuliskan. Beberapa temannya membantu menjawab, "Chair!" Yang lain ikut menambahkan kosakata lain yang mereka ingat, mulai dari table, book, bag, hingga whiteboard. Dalam beberapa menit, robekan kertas buku tulis yang semula kosong dipenuhi daftar benda-benda di dalam kelas.

Momen seperti itu terus berulang di 4 ruang kelas berbeda selama program EASY (English Activity for Smart Youngsters). Acara ini diselenggarakan mahasiswa KKN-T IPB University pada 24 dan 29 Juli 2026.

baca juga

Di setiap kelas, selalu ada siswa yang awalnya ragu menjawab, lalu perlahan ikut mengangkat tangan setelah melihat teman-temannya berani mencoba.

Program tersebut lahir dari kebutuhan yang ditemukan langsung di sekolah. Saat melakukan observasi awal bersama guru, tim KKN mendapati bahwa Bahasa Inggris masih menjadi mata pelajaran yang membuat banyak siswa enggan mencoba bahkan sebelum proses belajar dimulai. Rasa takut salah terlihat lebih dulu dibandingkan keinginan untuk menjawab.

Kondisi itu juga tidak lepas dari perubahan kurikulum dalam beberapa tahun terakhir. Bahasa Inggris sempat tidak diwajibkan sebagai mata pelajaran di sekolah dasar, sebelum akhirnya kembali masuk ke dalam kurikulum terbaru. Akibatnya, ada jeda ketika sebagian siswa hampir tidak memperoleh pembelajaran Bahasa Inggris secara formal.

Awalnya, tim KKN berencana menyesuaikan kegiatan dengan materi yang sedang dipelajari di kelas. Namun, karena tahun ajaran baru saja dimulai, guru belum memasuki materi pembelajaran. Pihak sekolah kemudian memberikan arahan yang berbeda. Alih-alih mengejar materi tertentu, mereka berharap kegiatan KKN dapat menjadi pengenalan yang menyenangkan agar siswa lebih tertarik mempelajari Bahasa Inggris.

Masukan tersebut menjadi dasar penyusunan program EASY. Fokusnya sederhana, membuat siswa berani mencoba lebih dulu. Bukan mengejar banyak materi dalam waktu singkat, melainkan membangun pengalaman belajar yang menyenangkan melalui permainan. Sasarannya adalah siswa kelas 3 dan 4, dengan total peserta lebih dari 120 anak.

Kegiatan pertama mengajak siswa menghias bingkai foto menggunakan stiker hewan. Setiap kelas dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan habitat, yaitu farm, wild, dan sea. Sebelum menempelkan stiker ke bingkai kelompok masing-masing, siswa harus menebak terlebih dahulu nama hewan tersebut dalam Bahasa Inggris.

Nama-nama seperti cow, sheep, atau fish relatif mudah ditebak karena sudah cukup familiar. Sebaliknya, beberapa hewan lain membuat siswa saling berdiskusi sebelum berani menjawab. Setiap jawaban yang benar disambut sorakan teman-teman satu kelompok karena memberi kesempatan menambah satu stiker lagi pada bingkai mereka.

baca juga

Tanpa disadari, permainan sederhana itu membuat siswa berulang kali mengucapkan kosakata yang sama. Mereka mendengar jawaban dari teman, menirukannya, lalu menghubungkannya dengan gambar hewan yang mereka pegang. Proses menghafal berlangsung secara alami di tengah suasana yang lebih mirip permainan daripada pelajaran.

Permainan berikutnya menggunakan papan berisi sepuluh pintu misteri. Di balik setiap pintu tersembunyi satu kategori kosakata, mulai dari animals, fruits, school things, colors, hingga feelings. Setelah sebuah pintu dibuka, setiap kelompok diberi waktu untuk menuliskan sebanyak mungkin kosakata sesuai kategori yang muncul.

Kategori seperti colors dan animals biasanya dapat diselesaikan lebih cepat. Sebaliknya, ketika kategori schoolthings muncul, beberapa siswa tampak berpikir lebih lama. Mereka mulai menunjuk benda-benda yang ada di sekitar kelas sambil saling bertanya nama bendanya dalam Bahasa Inggris.

Ada yang masih menuliskan ejaan yang keliru, tetapi keberanian untuk mencoba justru menjadi bagian penting dari permainan tersebut.

Mahasiswa KKN yang mendampingi tidak langsung membenarkan setiap kesalahan. Mereka lebih sering mengajak siswa lain membantu menemukan jawaban yang tepat. Cara itu membuat diskusi kecil muncul di hampir setiap kelompok.

Siswa yang sudah mengetahui jawabannya ikut membantu temannya, sementara yang belum tahu memperoleh kosakata baru tanpa merasa sedang diuji.

Di balik suasana yang ramai, pelaksanaan kegiatan juga diwarnai berbagai tantangan.

Tim KKN menemukan bahwa beberapa siswa ternyata masih belum lancar membaca. Kondisi tersebut membuat mereka membutuhkan pendampingan lebih lama ketika harus mengenali atau menuliskan kosakata. Tidak sedikit yang sebenarnya mengetahui nama benda atau hewan yang dimaksud, tetapi kesulitan menuliskan ejaannya.

Dinamika khas anak sekolah dasar juga muncul sepanjang kegiatan berlangsung. Di satu kelas, dua siswa sempat berselisih karena sama-sama merasa benar atas jawabannya sendiri.

Di kelas lain, kegiatan harus berhenti beberapa menit ketika seorang siswa muntah dan dibantu Tim KKN keluar ruangan. Ada pula siswa yang sejak awal mengatakan terus terang bahwa Bahasa Inggris merupakan pelajaran yang paling tidak ia sukai.

baca juga

Pengalaman tersebut mengubah cara tim memandang kegiatan yang mereka jalankan. Mereka menyadari bahwa tantangan utamanya tidak berhenti pada memperkenalkan kosakata baru, melainkan membuat siswa merasa Bahasa Inggris bukan sesuatu yang menakutkan.

Sebagian besar siswa menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari. Artinya, mereka sebenarnya sudah terbiasa berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain. Bahasa Inggris hanya menjadi bahasa ketiga yang belum akrab bagi mereka.

Ketika proses menerjemahkan dikemas dalam bentuk permainan, siswa mulai menyadari bahwa mereka sebenarnya mampu menemukan banyak kosakata yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Perubahan itu memang tidak langsung membuat semua siswa fasih berbahasa Inggris. Namun, mereka mulai lebih berani menjawab, berdiskusi, dan menebak meskipun belum yakin jawabannya benar.

Selain menumbuhkan keberanian tersebut, kegiatan EASY juga memperkenalkan kosakata dasar yang dekat dengan keseharian siswa. Nama hewan, buah, warna, benda-benda di kelas, hingga berbagai ungkapan perasaan menjadi materi yang mereka jumpai selama permainan berlangsung.

Wali kelas 3, Firdaus, mengaku sempat terkejut ketika mengetahui mahasiswa yang mengisi kegiatan tersebut bukan berasal dari program studi pendidikan. Meski demikian, ia mengapresiasi cara tim KKN berinteraksi dengan siswa selama kegiatan berlangsung.

Menurutnya, pendekatan belajar melalui permainan membuat anak-anak lebih antusias mengikuti kegiatan. Ia juga menyampaikan terima kasih atas kesediaan mahasiswa mendampingi siswa dengan berbagai dinamika yang muncul di kelas, sekaligus membuka peluang kolaborasi pada kegiatan lain, termasuk penelitian atau tugas akhir mahasiswa.

Program EASY juga dirancang agar manfaatnya tidak berhenti setelah mahasiswa KKN menyelesaikan masa pengabdian di Desa Solokanjeruk.

Bingkai foto yang digunakan dalam permainan hewan dan papan sepuluh pintu misteri sengaja dibuat sebagai media belajar yang dapat digunakan berulang kali. Setelah kegiatan selesai, kedua media tersebut diserahkan kepada pihak sekolah sehingga guru dapat memanfaatkannya kembali saat mengulang kosakata atau membuat variasi permainan di kelas.

Siswa yang di awal kegiatan masih menulis "cahir" memang belum langsung fasih berbahasa Inggris ketika program berakhir. Namun, pada akhir sesi ia tidak lagi ragu mengangkat tangan untuk menyebutkan nama benda-benda lain di sekelilingnya.

Perubahan kecil seperti itulah yang menjadi harapan dari program EASY, memberi siswa pengalaman pertama bahwa belajar Bahasa Inggris tidak selalu dimulai dari menghafal, tetapi bisa berawal dari keberanian untuk mencoba.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.