indonesia peringkat 2 konsumsi mi instan terbanyak kenapa banyak masyarakat menyukainya - News | Good News From Indonesia 2026

Indonesia Peringkat 2 Konsumsi Mi Instan Terbanyak, Kenapa Banyak Masyarakat Menyukainya?

Indonesia Peringkat 2 Konsumsi Mi Instan Terbanyak, Kenapa Banyak Masyarakat Menyukainya?
images info

Mi instan | Unsplash/Nathan Cima


Dari yang muda sampai tua, mi instan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Kelezatannya yang khas dan kepraktisannya yang membuat kuliner cepat saji ini selalu digemari dalam berbagai situasi.

Bahkan, makanan ini juga menjadi andalan bagi anak kos yang biasanya merasa malas untuk memasak makanan berat. Walhasil, mi instan menjadi solusi praktis yang dipilih karena sangat mudah dibuat.

Namun, tahukah Kawan GNFI jika kecintaan masyarakat Indonesia pada mi instan menjadi salah satu yang tertinggi di dunia? Data World Instant Noodles Association menunjukkan bahwa Indonesia berada di posisi ke-2 di dunia yang masyarakatnya paling suka makan mi instan. Kira-kira, apa alasannya?

Daftar Negara dengan Konsumsi Mi Instan Tertinggi di Dunia

Berdasarkan laporan World Instant Noodles Association (WINA) yang dirangkum Seasia Stats, berikut adalah daftar 10 negara yang memiliki angka konsumsi mi instan tertinggi di dunia:

  1. Tiongkok & Hong Kong: 42,2 miliar porsi
  2. Indonesia: 14,5 miIiar porsi
  3. India: 8,7 miliar porsi
  4. Vietnam: 8,1 miliar porsi
  5. Jepang: 5,8 miliar porsi
  6. Amerika Serikat: 5,1 miliar porsi
  7. Filipina: 4,4 miliar porsi
  8. Korea Selatan: 4,0 miliar porsi
  9. Thailand: 4,0 miliar porsi
  10. Nigeria: 3,0 miliar porsi

WINA menyebut, permintaan mi instan di seluruh dunia telah menembus angka fantastis hingga melebihi 120 miliar porsi di tahun 2023 saja. Dari jumlah tersebut, wilayah Asia mendominasi pasar global dengan mencatatkan angka konsumsi hingga miliaran porsi setiap tahunnya.

baca juga

Alasan di Balik Tingginya Konsumsi Mi Instan di Indonesia

Tingginya angka konsumsi mi instan di tanah air tentu didorong oleh berbagai faktor yang sangat dekat dengan pola hidup masyarakat. Faktor utama yang paling sering dirasakan adalah kemudahan dalam proses penyajian serta harganya yang sangat murah dan ramah di kantong. Hal ini menjadikan mi instan pilihan paling praktis untuk mengganjal perut saat sibuk ataupun saat kondisi keuangan sedang menipis.

Penelitian Agnes Risma Ronsumbre, dkk., di Jurnal Ilmiah Gizi yang membahas mengenai perilaku konsumsi mi instan di kalangan mahasiswa, alasan utama responden mengonsumsi mi instan adalah karena kemudahan penyajiannya yang mencapai angka 65 persen. Di samping itu, faktor harga yang terjangkau juga menjadi alasan krusial berikutnya bagi sekitar 20 persen responden dalam memilih kuliner praktis ini.

Penelitian tersebut juga menyoroti bahwa pola konsumsi mi instan ini jauh lebih dominan terjadi pada kelompok mahasiswa yang tinggal di kos atau asrama dibandingkan mereka yang tinggal bersama keluarga. Keterbatasan waktu dan finansial yang dihadapi sering membuat para penghuni kos untuk beralih ke makanan yang serba cepat dan murah. Tak hanya itu, ketersediaan mi instan yang melimpah dan mudah didapatkan kian mempermudah mahasiswa untuk menjadikannya stok harian.

Bukan cuma soal kepraktisan, mayoritas responden atau sekitar 75 persen sebenarnya memiliki tingkat pengetahuan gizi yang tergolong kurang baik. Kurangnya pemahaman inilah yang akhirnya memicu kebiasaan makan yang kurang terkontrol karena pemilihan makanan cenderung mengabaikan aspek nutrisi penting.

Di sisi lain, bukan hanya mahasiswa atau anak kos yang suka makan mi instan, masyarakat biasa pun juga banyak yang menjadikan mi instan sebagai solusi saat perut lapar. Harganya yang murah membuat mi instan menjadi pilihan untuk mengganjal perut karena memberikan efek kenyang selayaknya nasi.

Di sisi lain, American Society for Nutrition menerangkan jika mi instan mengandung MSG atau natrium. Kandungan ini bisa meningkatkan rasa kenyang jika dikombinasikan dengan protein tambahan yang biasa diberikan saat orang mengonsumsi mi, seperti telur. Selain itu, rasa MSG yang cenderung gurih juga membuat banyak orang ‘kecanduan’ dengan mi instan.

Namun, perlu diingat jika jangan menjadikan mi instan sebagai makanan utama yang sering dimakan terus-menerus, ya, Kawan! Asupan gizi seimbang dari real food dinilai jauh lebih bergizi dan memberikan energi baik yang diperlukan oleh tubuh.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.