gedung mount felix saksi bisu tewasnya residen thomas parr fakta keberanian masyarakat bengkulu - News | Good News From Indonesia 2026

Gedung Mount Felix, Saksi Bisu Tewasnya Residen Thomas Parr: Fakta Keberanian Masyarakat Bengkulu

Gedung Mount Felix, Saksi Bisu Tewasnya Residen Thomas Parr: Fakta Keberanian Masyarakat Bengkulu
images info

Mount Felix, Balai Raya Semarak Bengkulu (source: M. Veven)


Mount Felix merupakan kediaman resmi Residen Thomas Parr sebagai orang nomor satu kolonial Inggris pada tahun 1805-1807 di Bencoolen (Bengkulu). Kini, bangunan tersebut berfungsi sebagai rumah dinas Gubernur Bengkulu.

Semasa menjabat sebagai residen, Thomas Parr dikenal kejam dan keras hati serta memaksakan kebijakan yang kontroversial. Di antaranya, tanam paksa kopi dan intrusi adat.

Kebijakan tersebut memicu kemarahan masyarakat Bengkulu hingga merenggut nyawa Residen Thomas Parr. Kejadian tersebut dikenal sebagai peristiwa Mount Felix.

Kawan GNFI, mungkin saja bertanya-tanya, kenapa kematian residen Thomas Parr dikaitkan dengan Mount Felix?

Nah, pada tahun 1685 di awal abad ke 16 Inggris menjajah Bengkulu karena kaya akan rempah-rempah. Provokasi melalui politik menjadi strategi koloni Inggris maupun bangsa asing lainya untuk memecah kekuatan bangsa, mengadu antara wilayah dan merampas kekayaan alam Nusantara.

Menurut Abdullah Siddik dalam buku Sejarah Bengkulu (1996), Thomas Parr meminta bantuan pihak EIC (EastIndiaCompany) untuk menerapkan denda bagi masyarakat yang tidak patuh.

baca juga

Tak hanya itu, perkebunan pala dan cengkeh milik EIC diperluas secara paksa, sementara masyarakat dipaksa menanam kopi. Bagi mereka yang tidak mematuhi perintah, akan disiksa dan diperlakukan tidak selayaknya manusia.

Kekejaman lainnya menurut Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan (1982) dalam buku SejarahPerlawananTerhadapKolonialismeDanImperialismeDidaerahBengkulu, menyatakan bahwa bagi rakyat yang merintih kehausan saat dihukum, Thomas Parr akan memberikan air kencingnya pengganti air dan dilakukan secara paksa.

Atas dasar penindasan yang dilakukan menimbulkan rasa dendam kepada residen yang berjiwa kejam, masyarakat Bengkulu mempersiapkan perlawanan di pertengahan tahun 1807. Musyawarah dilakukan bersama beberapa desa dan tokoh yang membenci Thomas Parr.

Sebelumnya, Dusun Besar mengundang Thomas Parr untuk bertukar pikiran, tetapi enggan menghadiri undangan tersebut.

Malam sebelum kematian, terjadi pembakaran Kantor Kompeni Inggris, Thomas Parr menyadari, semangat perlawan masyarakat Bengkulu kembali menggelora setelah banyak yang terbunuh oleh Letnan Hastings Dare atas pemberontakan.

Dengan cepat Thomas Parr memerintahkan, kebijakan menanam kopi yang menjadi pemicu utama perlawanan dibatalkan. Sayangnya, kabar tersebut tidak menyebar kepada rakyat suku Lembak di Sungai Hitam, Dusun Besar, Sukarami, dan Langan.

Hingga akhirnya, pada tanggal 23 Desember 1807, sekelompok pemuda berhasil memasuki kediaman Thomas Parr. Istrinya, Frances Roworth mendengar keributan di depan pintu berusaha memberitahu suaminya yang terlelap. Sayangnya, pergerakan yang begitu cepat tidak ada waktu melarikan diri.

Segala upaya telah dilakukan oleh sang istri, termasuk berteriak memanggil serdadu. Hanya saja, suaranya tenggelam di balik hujan yang turun pada malam kejadian. Asistennya (Charles Murray) dengan setia memasang badan untuk keselamatan Thomas Parr, imbasnya ada beberapa tusukan pada tubuhnya.

Ketiga orang yang berada di kamar kediaman Mount Felix memegang kendali, tangan Thomas Parr ditahan di belakang tubuhnya, berlutut, dan kepalanya dipenggal dengan senjata tradisional di hadapan Frances Roworth yang pasrah sambil meronta-ronta menangis.

Tubuh Thomas Parr tergeletak tanpa kepala saat serdadu tiba di lokasi. Begitupun istrinya yang tubuhnya ditusuk pisau terbaring lemas. 

baca juga

Kabar meninggalnya Residen Thomas Parr terbesar dengan cepat dan mengguncang pemerintah kolonial Inggris. Kendati demikian, pembalasan dendam dilakukan lebih kejam dan membabi buta, masyarakat yang tidak bersalah terkena imbas. Rumah-rumah di desa dibakar bahkan hewan pun. 

Frances Roworth, sebagai saksi kunci atas pembantaian sang suami, hanya mengingat perawakan penyusup tersebut yang menyerupai orang Melayu. Namun, ia tidak dapat menjelaskan bagaimana penyusup itu masuk ke kediaman—melalui pintu atau jendela. 

Lantaran, pembunuhan tersebut sebuah komisi yang bertugas kesulitan menemukan siapa dalangnya. Didasari oleh kejadian sebelumnya, ada satu nama yang dilontarkan oleh Depati Sukarami, yakni Mabela.

Mabela dipecat oleh Thomas Parr karena korupsi, yang mana mengharuskannya melepas jabatan sebagai kapten. Didasari alasan inilah, Mabela tertuduh sebagai otak dari pembunuhan tragis dengan motif balas dendam. Nah, ternyata tuduhan itu berbalik, Depati Sukarami menjadi tersangka utama. 

Kawan GNFI, jika ada mesin waktu yang bisa membawa ke zaman Indonesia sebelum merdeka, apakah ada yang ingin melihat secara langsung kekejaman, ketidakadilan, dan penindasan yang terjadi? Tentu, kita akan berpikir berkali-kali!

Kekayaan alam dirampas, siksaan dirasakan. Semuanya telah berlalu berkat perlawanan para pahlawan yang berani mempertaruhkan nyawa demi memperjuangkan kemerdekan.

Terima kasih, para pahlawan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YT
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.