Setelah seminggu terlibat dalam berbagai kegiatan relawan di pantai, mulai dari mengenal lingkungan pantai hingga penanaman mangrove, para Exchange Participants (EPs) dan Local Volunteers (LVs) mendapatkan sebuah ruangan untuk refleksi dan mengekspresikan pengalaman mereka dengan cara yang berbeda.
Pada kesempatan pada sesi Incoming Global Volunteer Summer Peak 2026 yang diadakan oleh AIESEC in BINUS, para EPs dan LVs berkesempatan dengan menceritakan pengalamannya melalui kreativitas seni visual dalam workshop melukis bersama Komunitas Mari Menggambar pada Kamis, (6/8/2026) di JWC Campus, BINUS International.
Aktivitas ini tersebut dihadiri oleh sekitar 40 peserta. Sesi tersebut dibuka dengan pemaparan dari Kak Anca dari Komunitas Mari Menggambar, yang mengajak para peserta melihat lautan dari sebuah sudut pandang yang baru dengan cara mengenal dasar-dasar seni dengan cara yang lebih dekat dengan keseharian mereka.
Alih-alih hanya berfokus pada teori, materi disampaikan secara interaktif, bahkan dengan menyelipkan berbagai meme agar pemaparan materi seni mudah dipahami dan terasa lebih ringan.
Para EPs dan LVs juga diperkenalkan terhadap teori warna, bentuk komposisi, hingga perspektif sebelum membuat karya melalui kanvas.

Kak Anca juga mengajak para EPs dan LVs untuk melihat sebuah karya bisa bermakna lebih dari satu, tergantung pada perspektif orang yang melihatnya.
“Laut rupanya memiliki banyak sisi. Sama juga seperti seni, setiap orang bisa melihatnya dan menemukan berbagai makna yang berbeda,” ujar Kak Anca.
Hal yang membuat sesi tersebut lebih interaktif adalah para peserta tidak melukis karyanya sendiri. Para EPs dan LVs dibagikan ke dalam kelompok dengan latar individu yang berbeda. Setiap kelompok kemudian mendapatkan satu kanvas untuk dikerjakan bersama.
Dari satu kanvas, banyak sekali berbagai ide-ide dan gagasan yang bertemu. Ada salah satu peserta yang melukiskan hal-hal yang mereka sukai dari kehidupan laut, ada yang membawa pengalaman dari kegiatan penanaman mangrove, sementara lainnya menuangkan imajinasi dan interpretasi personal ke dalam sebuah lukisan.
Proses berkarya tersebut secara perlahan berubah menjadi sebuah ruang untuk berkomunikasi antara satu peserta ke peserta lainnya. Para peserta saling untuk berbagi kreativitas dengan ide yang dilukiskan, menghargai ide, dan menentukan berbagai elemen yang akan digunakan, hingga menghasilkan sebuah lukisan yang bermakna dalam satu kanvas.
Tidak hanya itu, para LVs dan EPs melakukan pertukaran ide lintas budaya dan membagikan cerita dari masing-masing pandangan maupun budaya yang dimiliki. Tidak selalu melalui percakapan panjang, tetapi melalui keputusan kecil tentang warna, bentuk, dan gambar yang akhirnya dipilih bersama.
Dari pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu harus berujung pada sebuah kesamaan, melainkan perspektif yang berbeda dapat saling melengkapi dan juga menghasilkan sebuah ide yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh satu orang saja.
Sesi melukis tersebut berlangsung sekitar tiga jam, lalu masing-masing kelompok saling mempresentasikan hasil lukisannya. Salah satu karya bahkan memperlihatkan berbagai sudut pandang yang dapat mengubah keseluruhan cerita dalam sebuah gambar.
Lara, salah satu Exchange Participant, bersama kelompoknya menemukan bahwa lukisan yang mereka buat dapat terlihat seperti pemandangan pantai dan matahari terbenam ketika dilihat dari satu arah. Namun, saat kanvas diputar, gambar tersebut berubah menjadi gambaran yang jauh lebih imajinatif.

“Kalau kamu membalik posisinya ke atas, kelihatannya seperti matahari terbenam dan pantai, kan? Tapi kalau kamu memutarnya, seolah-olah ada invasi alien yang datang ke Bumi dan memandang ke arah laut! Kreativitas kami berjalan cukup lancar dalam menciptakan karya seni yang memiliki dua makna, karena mentor menjelaskan teori seni dengan sangat jelas.” ujar Lara saat menceritakan karyanya.
Bagi Lara dan kelompoknya, satu kanvas ternyata dapat menghadirkan dua cerita yang sama sekali berbeda. Pengalaman tersebut menjadi gambaran kecil tentang bagaimana perspektif seseorang dapat membentuk cara mereka memahami sesuatu.
Hal serupa juga terjadi selama proses workshop. Di sela-sela melukis, para EPs dan LVs berbagi cerita, tertawa, saling membantu, dan menikmati waktu bersama. Setelah melewati berbagai aktivitas dalam program, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi mereka untuk beristirahat sekaligus membangun kedekatan dalam suasana yang lebih santai.
Pada akhirnya, setiap kelompok memang hanya menghasilkan satu lukisan. Namun, di dalam satu kanvas tersebut terdapat banyak pengalaman, gagasan, dan perspektif yang datang dari orang-orang berbeda.
Melalui kolaborasi Incoming Global Volunteer AIESEC in BINUS dan Komunitas Mari Menggambar, seni menjadi medium bagi peserta untuk kembali terhubung dengan pengalaman mereka mengenai laut sekaligus mengenal satu sama lain.
Mereka belajar bahwa perbedaan perspektif tidak selalu perlu disamakan. Dengan ruang untuk saling mendengar, perbedaan justru dapat menjadi bagian dari karya yang lebih utuh.
Sama halnya seperti laut yang tidak pernah hanya memiliki satu sisi, dunia pun demikian. Terkadang, yang kita butuhkan bukan jawaban baru, melainkan keberanian untuk melihat sesuatu dari sudut yang berbeda.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


