Rujak adalah perpaduan antara buah mangga muda yang renyah, nanas yang segar, atau kedondong yang asam dengan sambal cabai, gula merah, dan kacang.
Sekilas, rasa manis, pedas, asam, gurih, bahkan asin seperti tidak seharusnya berada dalam satu piring. Namun, justru perpaduan itulah yang membuat rujak begitu akrab di lidah masyarakat Indonesia.
Dari warung sederhana hingga acara keluarga, rujak hadir dalam banyak bentuk. Lantas, sejak kapan perpaduan rasa tersebut dikenal? Bagaimana sejarah rujak membuatnya bertahan dan berkembang menjadi bagian dari budaya kuliner Nusantara?
Sebelum Ada Sambal, Dari Mana Cerita Rujak Bermula?
Jejak rujak dapat ditelusuri hingga masa Jawa Kuno. Istilah rurujak telah ditemukan dalam Prasasti Taji yang berasal dari 901 Masehi di Jawa Timur. Catatan tersebut menjadi salah satu petunjuk bahwa olahan buah telah dikenal masyarakat Jawa lebih dari seribu tahun lalu.
Namun, temuan tersebut tidak berarti bentuk rujak pada masa itu sama persis dengan rujak buah yang dikenal sekarang. Bahan, bumbu, dan cara penyajiannya sangat mungkin mengalami perubahan seiring perkembangan masyarakat.
Buah seperti mangga dan jambu juga telah dikenal sebagai bahan pangan pada masa kerajaan.
Sementara itu, Sanghyang Siksa Kandang Karesian yang berasal dari 1518 Masehi menunjukkan bahwa cita rasa asam dan pedas dari olahan buah telah dikenal dalam budaya Sunda.
Karena itu, sejarah rujak lebih tepat dipahami sebagai perjalanan panjang sebuah tradisi mengolah hasil bumi, bukan cerita tentang satu resep yang dibuat pada satu waktu tertentu.
Menelusuri Makna di Balik Nama 'Rujak'
Kata rujak sendiri sudah muncul dalam sumber tertulis kuno. Salah satu bentuk awalnya adalah rurujak yang tercatat dalam Prasasti Taji.
Dalam penggunaan sehari-hari, rujak kemudian dikenal sebagai sajian berbahan buah, sayuran, atau bahan pangan lain yang dipadukan dengan bumbu. Maknanya pun berkembang mengikuti kebiasaan masyarakat di berbagai daerah.
Istilah rujak akhirnya digunakan untuk berbagai sajian dengan bahan dan cita rasa yang berbeda. Kesamaannya terletak pada cara bahan-bahan tersebut dipadukan menjadi satu hidangan.
Ketika Manisnya Buah Bertemu Sambal yang Menggigit
Rahasia rujak terletak pada keseimbangan rasa. Buah yang manis dan segar menjadi dasar, kemudian bertemu cabai yang pedas, gula merah yang manis, asam dari buah atau asam jawa, serta gurih dari kacang dan terasi.
Perpaduan tersebut membuat setiap rasa saling menonjolkan. Pedas membuat rasa buah terasa lebih kuat, sementara gula merah membantu menyeimbangkan rasa asam dan cabai.
Bumbu rujak juga menunjukkan bagaimana bahan lokal dapat diolah dengan cara sederhana. Cabai, gula, kacang, terasi, dan berbagai buah tidak membutuhkan teknik memasak yang rumit.
Cukup diulek dan dicampurkan, bahan-bahan tersebut berubah menjadi sajian dengan rasa yang kompleks.
Bukan Satu Rujak, Melainkan Banyak Cerita di Nusantara

Rujak Cingur | Foto: (Gunkarta | Wikipedia Commons)
Kekayaan rujak terlihat dari banyaknya variasi yang berkembang di berbagai daerah. Perbedaan bahan dan bumbu membuat setiap jenis memiliki karakter tersendiri.
- Rujak U Groh, Aceh, menggunakan batok kelapa muda yang dikerik dan dipadukan dengan bumbu serta perasan jeruk nipis.
- Rujak Mie, Palembang, memadukan mi, pempek, mentimun, dan kuah cuko.
- Rujak Juhi, Jakarta, menggunakan cumi-cumi kering bersama sayuran, kentang, dan kerupuk mi dengan saus kacang.
- Rujak Cingur, Surabaya, memadukan sayuran, buah, dan irisan cingur dengan bumbu petis.
- Rujak Soto, Banyuwangi, mempertemukan bumbu rujak dengan kuah soto yang gurih.
- Rujak Kuah Pindang dan Rujak Bulung, Bali, menunjukkan bagaimana bahan laut seperti kuah pindang dan rumput laut dapat masuk ke dalam sajian rujak.
- Rujak Terasi, Lombok, mengandalkan cabai, terasi, gula merah, dan buah segar dengan rasa yang lebih tajam.
Keragaman tersebut memperlihatkan bahwa rujak tidak memiliki satu bentuk yang mutlak. Masyarakat menyesuaikannya dengan bahan yang tersedia, kebiasaan makan, dan cita rasa daerah masing-masing.
Dari Cobek ke Meja Makan: Rujak sebagai Makanan yang Mendekatkan Orang
Rujak juga memiliki tempat dalam berbagai kegiatan sosial. Salah satu contohnya dapat ditemukan dalam tradisi Mitoni atau tujuh bulanan dalam budaya Jawa.
Di sejumlah tradisi, rujak dibuat dari tujuh macam buah dan disajikan sebagai bagian dari rangkaian upacara.
Di Yogyakarta, rujak menjadi salah satu hidangan dalam kenduri Mitoni. Upacara tersebut dihadiri keluarga dan kerabat sebagai bentuk doa untuk keselamatan ibu dan calon bayi.
Rujak dalam tradisi tersebut tidak hanya dimakan. Proses membuat dan membagikannya menjadi bagian dari interaksi antara keluarga dengan orang-orang yang hadir.
Dalam beberapa tradisi Mitoni, terdapat pula prosesi menjual rujak kepada tamu menggunakan uang simbolis.
Hal ini menunjukkan bahwa sepiring rujak dapat memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar makanan. Ia bisa menjadi bagian dari perayaan, doa, dan kebersamaan.
Dari Sepiring Rujak, Kita Bisa Belajar Cara Indonesia Merayakan Perbedaan
Rujak mengajarkan satu hal sederhana bahwa sesuatu yang berbeda tidak selalu harus dipisahkan.
Mangga yang asam, gula merah yang manis, cabai yang pedas, kacang yang gurih, dan terasi yang kuat justru menjadi nikmat ketika dipertemukan dalam takaran yang tepat.
Begitu pula dengan kuliner Nusantara. Kekayaannya tidak selalu lahir dari bahan mahal atau teknik memasak yang rumit. Sering kali, kreativitas muncul dari kemampuan masyarakat memanfaatkan apa yang tumbuh di sekitar mereka.
Rasa rujak adalah pertemuan sederhana antara buah segar dan sambal. Dari cobek hingga meja makan, perpaduan itu terus diwariskan dan menemukan bentuk baru di berbagai daerah Indonesia.
Sumber:
https://www.popmama.com/life/health/sejarah-rujak-buah-sebagai-bagian-dari-tradisi-kuliner-nusantara-00-nzqrb-s6r2fc
https://rri.co.id/bandung/kuliner/2293320/menelusuri-jejak-panjang-sejarah-rujak-di-nusantara
https://www.indonesia.travel/id/id/travel-ideas/gastronomy/11-rujak-di-indonesia-dengan-rasa-yang-lezat-sudah-coba-semua
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


