mahasiswa ipb perkenalkan padi ipb 9g dan biopestisida untuk pertanian adaptif di desa gunungjati - News | Good News From Indonesia 2026

Mahasiswa IPB Perkenalkan Padi IPB 9G dan Biopestisida untuk Pertanian Adaptif di Desa Gunungjati

Mahasiswa IPB Perkenalkan Padi IPB 9G dan Biopestisida untuk Pertanian Adaptif di Desa Gunungjati
images info

Pemberian benih padi IPB 9G, PGPR, Biopestisida, serta buku panduan pertanian berkelanjutan kepada petani Desa Gunungjati. (Dokumentasi Pribadi)


Mahasiswa IPB University melalui program KKN TematikĀ Inovasi IPB 2026 memperkenalkan sejumlah inovasi pertanian kepada petani di Desa Gunungjati, Kabupaten Tegal. Program tersebut mencakup pemberian benih padi hasil pemuliaan IPB varietas 9G, Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR), serta biofungisida dan bioinsektisida sebagai alternatif pendukung pengelolaan tanaman yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Program ini berangkat dari berbagai tantangan yang dihadapi petani dalam budidaya padi. Berdasarkan hasil wawancara dengan petani, gangguan organisme pengganggu tanaman menjadi salah satu persoalan yang dapat memengaruhi proses budidaya.

Belalang dan hama putih menjadi beberapa jenis hama yang ditemukan, sementara tikus menjadi salah satu hama yang paling sulit dikendalikan.

Serangan tikus bahkan dapat menyebabkan kegagalan penanaman berulang. Petani selama ini melakukan berbagai upaya pengendalian, salah satunya menggunakan racun tikus yang dicampurkan dengan bahan pakan seperti nasi, bekatul, atau singkong.

baca juga

Namun, pengendalian tersebut belum sepenuhnya efektif. Salah satu kendalanya adalah pola tanam yang belum serempak, sehingga masih terdapat lahan kosong yang dapat menjadi tempat tikus berkembang.

Selain hama, petani juga menghadapi gangguan penyakit tanaman seperti busuk akar. Tingkat serangannya dapat berbeda, tergantung pada kondisi musim dan lokasi lahan. Untuk mengatasi berbagai gangguan tersebut, petani selama ini telah menggunakan sarana pengendalian yang tersedia di tingkat lokal.

Melihat kondisi tersebut, tim KKNT memperkenalkan bioinsektisida dan biofungisida sebagai bagian dari alternatif pengelolaan organisme pengganggu tanaman. Bioinsektisida diperkenalkan untuk membantu pengendalian hama serangga, sedangkan biofungisida diarahkan untuk membantu pengendalian penyakit yang disebabkan oleh organisme pengganggu tanaman.

Pengenalan kedua produk tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pilihan pengendalian yang dapat dipertimbangkan petani sesuai kondisi lahannya.

Mengenalkan Padi IPB 9G

Selain pengendalian organisme pengganggu tanaman, kondisi lingkungan menjadi pertimbangan dalam pengembangan budidaya padi. Sebagian lahan di Desa Gunungjati berada dalam kondisi relatif kering dan pada waktu tertentu sulit ditanami karena tanah menjadi keras.

Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar pengenalan padi IPB 9G kepada petani. Varietas ini diperkenalkan karena memiliki karakter adaptasi yang luas, efisiensi penggunaan sumber daya khususnya pupuk dan air, serta potensi hasil pada kondisi suboptimal.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa memetakan petani yang aktif menanam padi sebagai calon penerima benih. Benih kemudian diberikan secara langsung untuk diuji coba di lahan petani dan disertai buku panduan praktik penanaman.

Pendampingan juga dilakukan melalui komunikasi WhatsApp untuk memantau proses penanaman dan perkembangan tanaman.

Pengenalan varietas ini diharapkan dapat memberikan alternatif bagi petani dalam menghadapi variasi kondisi lahan, baik pada lahan sawah maupun lahan yang memiliki keterbatasan air.

baca juga

PGPR sebagai Pendamping Pertumbuhan

Inovasi lain yang diperkenalkan adalah PGPR atau Plant Growth-Promoting Rhizobacteria. PGPR merupakan bakteri menguntungkan yang hidup di sekitar perakaran tanaman dan dapat membantu produktivitas pertumbuhan tanaman.

Pada tanaman padi, PGPR dapat mendukung pertumbuhan melalui hormon, nutrisi, dan kolonisasi akar. Pemanfaatannya diharapkan dapat membantu perkembangan akar dan biomassa tanaman, meningkatkan vigor, serta mendukung efisiensi serapan hara.

PGPR juga dapat mendukung mekanisme pertahanan tanaman melalui berbagai aktivitas mikroorganisme di sekitar perakaran. Dalam program ini, penggunaannya diharapkan dapat membantu meningkatkan ketahanan tanaman dan menekan keparahan penyakit penting pada tanaman padi.

Pengenalan PGPR dilakukan melalui penjelasan dan demonstrasi kepada petani. Petani kemudian didorong untuk mencoba penerapannya pada lahan yang sesuai dengan kondisi setempat.

Menghubungkan Inovasi dengan Pengalaman Petani

Program KKNT Inovasi IPB 2026 di Desa Gunungjati tidak hanya berfokus pada pemberian benih dan produk pertanian, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara inovasi perguruan tinggi dan pengalaman petani.

Informasi mengenai hama, penyakit, kondisi lahan, pola tanam, serta praktik pengendalian yang selama ini dilakukan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program.

Dengan demikian, inovasi seperti padi IPB 9G, PGPR, biofungisida, dan bioinsektisida diperkenalkan sebagai alternatif yang masih perlu diuji dan disesuaikan dengan kondisi lokal.

baca juga

Petani menunjukkan ketertarikan untuk mencoba berbagai inovasi tersebut. Salah satu harapan yang muncul adalah agar teknologi yang diberikan tidak hanya bermanfaat bagi penerima awal, tetapi juga dapat dibagikan kepada petani lain apabila hasil penerapannya sesuai dengan kondisi Desa Gunungjati.

Melalui program ini, mahasiswa berharap padi IPB 9G dapat menjadi salah satu alternatif varietas yang mendukung produktivitas pada kondisi lingkungan yang beragam. Sementara itu, PGPR, biofungisida, dan bioinsektisida diharapkan dapat mendukung pengelolaan tanaman dan organisme pengganggu secara lebih beragam.

Keberlanjutan program selanjutnya akan bergantung pada proses uji coba, monitoring, dan pengalaman petani dalam menerapkan inovasi tersebut. Melalui pertemuan antara pengetahuan akademik, inovasi teknologi, dan pengalaman petani setempat, KKNT Inovasi IPB 2026 berupaya membangun langkah awal menuju pertanian Desa Gunungjati yang lebih adaptif, produktif, dan berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

FS
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.