Tidak semua jejak sejarah berada di museum besar atau kawasan wisata populer. Di tengah suasana alam Sukabumi yang masih asri, terdapat sebuah situs yang menyimpan cerita masa lampau meskipun belum banyak dikenal masyarakat luas. Situs tersebut dikenal dengan nama Situs Batu Kujang.
Situs Batu Kujang berada di Kampung Tenjolaya Girang, Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug, Sukabumi. Lokasinya berada di lereng Gunung Salak pada ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut. Untuk mencapai lokasi, pengunjung perlu melewati jalan perkampungan dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju area situs.
Saat berada di kawasan situs, suasana yang terasa justru cenderung tenang dan sunyi. Pepohonan di sekitar area masih cukup rindang, membuat tempat ini memiliki nuansa berbeda dibandingkan lokasi wisata pada umumnya. Tidak ada keramaian berlebihan ataupun bangunan modern yang mendominasi kawasan tersebut.
Di area situs terdapat struktur batu yang membentuk punden berundak. Selain itu, ditemukan pula sejumlah menhir berukuran besar yang tersebar di beberapa bagian situs. Salah satu peninggalan yang paling menarik berada di teras tertinggi, yaitu sebuah menhir setinggi sekitar 208 sentimeter yang bentuknya menyerupai kujang. Dari bentuk inilah masyarakat kemudian mengenalnya dengan nama Batu Kujang.
Tidak hanya itu, di kawasan situs juga ditemukan batu jolang atau batu berlubang yang diduga memiliki fungsi tertentu pada masa lampau. Dalam kajian arkeologi, batu semacam ini sering dikaitkan dengan aktivitas ritual maupun tempat penyimpanan jenazah.
Keberadaan Situs Batu Kujang menjadi salah satu bukti bahwa wilayah Sukabumi tidak hanya kaya akan wisata alam, tetapi juga memiliki warisan sejarah dan budaya yang menarik untuk dikenali lebih jauh. Sayangnya, keberadaan situs ini masih cukup asing, bahkan bagi sebagian masyarakat di daerahnya sendiri.
Pada awal 2025, Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Sukabumi turut menyoroti keberadaan situs ini. Kepala Disbudpora Kabupaten Sukabumi, Yudi Mulyadi, menyebut bahwa kawasan Batu Kujang diduga berkaitan dengan tradisi megalitik masyarakat Sunda lama yang digunakan dalam kegiatan spiritual dan penghormatan terhadap leluhur.
Menurutnya, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan usia dan latar sejarah situs tersebut. Beberapa naskah Sunda kuno juga menggambarkan adanya bangunan bertingkat yang digunakan sebagai ruang sakral pada masa lampau, yang memiliki kemiripan dengan struktur punden berundak di Situs Batu Kujang.
Selain diduga menjadi tempat ritual, situs ini juga diperkirakan memiliki kaitan dengan aktivitas penguburan. Dugaan tersebut diperkuat dengan keberadaan Batu Jolang yang dalam kajian arkeologi dikenal menyerupai sarkofagus. Hingga saat ini, Situs Batu Kujang masih berstatus sebagai Objek yang Diduga Cagar Budaya (ODCB).
Bagi sebagian masyarakat, situs seperti ini mungkin hanya terlihat sebagai kumpulan batu biasa. Namun sebenarnya, terdapat jejak budaya, kepercayaan, dan cara hidup masyarakat masa lalu yang tersimpan di dalamnya. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Sunda pada masa lampau telah memiliki tradisi dan sistem budaya yang cukup kompleks.
Di sisi lain, keberadaan situs sejarah lokal sering kali kalah populer dibandingkan tempat wisata modern yang lebih ramai di media sosial. Tidak sedikit generasi muda yang lebih mengenal tempat nongkrong atau destinasi viral dibandingkan sejarah yang berada di daerahnya sendiri.
Padahal, situs seperti Batu Kujang dapat menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk bangunan besar atau kisah kerajaan yang sering muncul di buku pelajaran. Sejarah juga hidup melalui peninggalan sederhana yang berada dekat dengan kehidupan masyarakat.
Jika terus diperhatikan dan dikenalkan kepada masyarakat, Situs Batu Kujang punya potensi menjadi salah satu ruang edukasi sejarah dan budaya lokal di Sukabumi. Tidak hanya untuk mengenalkan warisan masa lalu, tetapi juga untuk menumbuhkan kepedulian terhadap pelestarian sejarah daerah.
Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, keberadaan situs seperti Batu Kujang menjadi pengingat bahwa setiap daerah memiliki cerita dan jejak budayanya sendiri. Warisan seperti inilah yang perlahan membentuk identitas masyarakat dari masa ke masa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


