sejarah baitul asyi wakaf muslim aceh di arab saudi yang digagas habib bugak asyi 200 tahun lalu - News | Good News From Indonesia 2026

Sejarah Baitul Asyi, Wakaf Muslim Aceh di Arab Saudi yang Digagas Habib Bugak Asyi 200 Tahun Lalu

Sejarah Baitul Asyi, Wakaf Muslim Aceh di Arab Saudi yang Digagas Habib Bugak Asyi 200 Tahun Lalu
images info

Sejarah Baitul Asyi, Wakaf Muslim Aceh di Arab Saudi yang Digagas Habib Bugak Asyi 200 Tahun Lalu


Setiap musim haji, ribuan jamaah asal Aceh menerima manfaat dari pengelolaan wakaf di Makkah bernama Baitul Asyi. Nilainya terus berubah dari tahun ke tahun, tetapi tradisi pembagiannya sudah berlangsung cukup lama dan masih berjalan hingga sekarang.

Di balik wakaf tersebut, ada kisah panjang tentang hubungan masyarakat Aceh dengan Tanah Suci. Semua bermula dari gagasan seorang ulama dan saudagar bernama Habib Bugak Al-Asyi pada awal 1800-an. Dari rumah singgah sederhana dekat Masjidil Haram, wakaf itu kemudian berkembang menjadi aset produktif yang nilainya mencapai miliaran riyal Arab Saudi.

Apa Itu Wakaf Baitul Asyi

Baitul Asyi atau Rumah Aceh merupakan wakaf yang diperuntukkan bagi jamaah haji asal Aceh di Makkah. Wakaf ini awalnya berupa rumah singgah yang dibangun di dekat Masjidil Haram untuk membantu jamaah Aceh yang datang berhaji maupun menetap sementara di Tanah Suci.

Pada abad ke-19, perjalanan haji dari Nusantara menuju Makkah dilakukan menggunakan kapal laut dan memakan waktu sangat lama. Banyak jamaah membutuhkan tempat tinggal selama berada di Makkah, terutama mereka yang kehabisan bekal atau ingin memperdalam ilmu agama setelah musim haji selesai.

Dari situ muncul inisiatif Habib Bugak Al-Asyi untuk mengumpulkan dana wakaf dari masyarakat Aceh. Dana tersebut kemudian digunakan membeli tanah di kawasan dekat Masjidil Haram. Di atasnya dibangun penginapan sederhana yang diberi nama Baitul Asyi.

Dalam perkembangannya, wakaf ini tidak hanya digunakan untuk jamaah Aceh. Dalam ikrar wakaf disebutkan bahwa apabila tidak ada lagi jamaah Aceh yang datang berhaji, manfaat wakaf dapat digunakan untuk pelajar Jawi dari Asia Tenggara hingga kebutuhan Masjidil Haram.

Tokoh Habib Bugak Al-Asyi: Figur Ulama dan Saudagar Aceh sebagai Pendiri Wakaf

Habib Bugak Al-Asyi memiliki nama lengkap Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi. Ia berasal dari Makkah dan datang ke Aceh sekitar tahun 1760 pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Mahmud Syah I.

Di Aceh, ia dikenal sebagai ulama sekaligus saudagar yang dekat dengan lingkungan Kesultanan Aceh. Julukan “Bugak” sendiri merupakan sebutan yang cukup dikenal untuk tokoh agama di Aceh.

Tidak hanya mengajak masyarakat Aceh ikut berwakaf, Habib Bugak Al-Asyi juga menggunakan dana pribadinya untuk membeli tanah di Makkah. Setelah dana terkumpul, ia kembali ke Tanah Suci dan membeli lahan yang lokasinya saat itu berada di sekitar Masjidil Haram.

Ketika pemerintah Saudi mulai melakukan penataan administrasi aset wakaf, para dermawan Aceh meminta Habib Bugak Al-Asyi menjadi penanggung jawab wakaf tersebut. Ia sempat menolak karena khawatir manfaat wakaf nantinya bergeser menjadi milik keluarga atau keturunannya.

Karena itu, dibuatlah ikrar wakaf tertulis yang menjelaskan bahwa Baitul Asyi sepenuhnya diperuntukkan bagi kepentingan jamaah Aceh dan kepentingan umat. Ikrar tersebut masih menjadi dasar pengelolaan wakaf hingga sekarang.

Manfaat untuk Jamaah Haji Aceh: Distribusi Dana dan Fasilitas untuk Jamaah Aceh

Manfaat wakaf Baitul Asyi masih dirasakan jamaah Aceh hingga hari ini. Setiap musim haji, jamaah asal Aceh menerima dana hasil pengelolaan aset wakaf di Makkah.

Pada masa lalu, manfaat yang diberikan berupa tempat tinggal dan kebutuhan selama berada di Tanah Suci. Namun setelah aset wakaf berkembang, manfaat tersebut kemudian dibagikan dalam bentuk uang tunai.

Nominal yang diterima jamaah berubah setiap tahun tergantung hasil pengelolaan aset wakaf. Pada musim haji 2026 misalnya, sebanyak 5.426 jamaah Aceh menerima manfaat sebesar 2.000 riyal Arab Saudi per orang.

Penyaluran dana dilakukan langsung oleh nazir wakaf Baitul Asyi di Makkah. Selain membantu kebutuhan jamaah selama berhaji, pembagian dana ini juga menjadi bagian dari amanah wakaf yang sudah dijaga selama lebih dari dua abad.

Wakaf Produktif: Transformasi Aset Wakaf Menjadi Hotel dan Properti Modern

Perjalanan wakaf Baitul Asyi berubah ketika pemerintah Arab Saudi melakukan perluasan Masjidil Haram. Tanah wakaf yang sebelumnya berada dekat area tawaf ikut terdampak proyek tersebut.

Sebagai gantinya, pengelola wakaf menerima kompensasi dari pemerintah Saudi. Dana itu kemudian digunakan kembali untuk membeli tanah baru sekitar 500 meter dari Masjidil Haram.

Di atas lahan baru tersebut, pengelola wakaf membangun aset produktif berupa hotel dan properti dengan sistem bagi hasil. Dari sinilah manfaat wakaf terus berkembang hingga sekarang.

Beberapa aset wakaf Baitul Asyi yang dikenal antara lain Hotel Elaf Al Masyair, Hotel Ramada, hotel wakaf di kawasan Aziziyah, kantor wakaf di Makkah, hingga gedung tempat tinggal warga keturunan Aceh di Arab Saudi.

Karena terus berkembang dan dikelola secara profesional, Baitul Asyi sering disebut sebagai salah satu contoh sukses wakaf produktif dari Nusantara di Tanah Suci.

Hubungan Aceh-Makkah: Jejak Historis Hubungan Keagamaan Aceh dan Hijaz

Keberadaan Baitul Asyi tidak bisa dilepaskan dari hubungan panjang masyarakat Aceh dengan Makkah. Sejak masa lalu, Aceh dikenal sebagai salah satu daerah di Nusantara yang memiliki hubungan kuat dengan pusat-pusat keilmuan Islam di Hijaz.

Banyak jamaah dan pelajar asal Nusantara menetap di sekitar Masjidil Haram untuk belajar agama. Mereka dikenal dengan sebutan komunitas Jawi. Di Makkah sendiri, dahulu juga terdapat rumah singgah dan kawasan yang digunakan masyarakat Asia Tenggara selama berada di Tanah Suci.

Karena itu, Baitul Asyi bukan hanya soal aset wakaf atau pembagian dana untuk jamaah haji. Wakaf ini juga menjadi bagian dari jejak hubungan sosial, keagamaan, dan pendidikan antara Aceh dan Makkah yang sudah berlangsung selama ratusan tahun.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Raras Wenny lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Raras Wenny.

RW
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.