Keheningan pedesaan tak pernah menyurutkan langkah generasi muda untuk merajut mimpi besar. Keberhasilan menghadirkan sinema di ruang publik desa melalui pemutaran film pendek ‘Emak’ pada malam peringatan Kemerdekaan RI lalu menjadi pijakan awal yang kokoh bagi kelompok Pemuda Selaawi 07 Desa Ciburayut.
Kini, mereka kembali menunjukkan konsistensi berkarya dengan merambah proses produksi karya sinematik terbaru bertajuk "Surat Terakhir dari Ayah".
Karya bergenre drama keluarga ini mengangkat realitas sosial yang begitu hangat dan dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Berfokus pada dinamika perjuangan Pak Karso—seorang ayah tunggal yang hidup dalam pusaran keterbatasan ekonomi—film ini memotret keteguhan seorang pengasuh utama dalam memperjuangkan hak pendidikan dasar bagi putri kecilnya, Melati.
Demi melihat buah hatinya mengenakan seragam sekolah dan merajut masa depan, Pak Karso diuji untuk melepaskan benda paling bernilai dalam hidupnya: sebuah cincin emas tua yang menjadi kenangan terakhir almarhumah istrinya.
Peran utama Pak Karso dipercayakan kepada Belgi Alhuda, Ketua Karang Taruna Desa Ciburayut. Kehadiran tokoh pemuda lokal di depan layar ini menegaskan wujud kepemimpinan kaum muda yang tak sekadar piawai mengorganisasi kegiatan warga, tetapi juga terjun langsung mengekspresikan seni serta memelopori gerakan budaya digital di desa.
"Karya ini lahir murni dari kesederhanaan dan keterbatasan daya yang kami miliki di desa. Namun, justru kondisi itulah yang membakar semangat kami. Kami berharap film ini sanggup menyentuh nurani khalayak luas sekaligus menjadi pemantik lahirnya gerakan seni yang berkelanjutan," ujar Belgi Alhuda.
Dari balik lensa kamera, Taovik Rian Hidayat yang bertindak selaku penulis naskah sekaligus penata sinematografi, memformulasikan visualisasi cerita dengan pendekatan naratif yang matang. Peningkatan kualitas sinematografi pada karya kedua ini diproyeksikan mampu membawa penonton menyelami kedalaman pesan moral tentang arti pengorbanan dan vitalnya pendidikan anak.
"Lewat alur penceritaan yang erat dengan realitas warga serta visualisasi yang lebih tertata, kami ingin membuktikan bahwa desa mampu membentuk ekosistem ekonomi kreatif mandiri. Pemuda dapat terus berdaya melalui penguasaan konten digital dan seni audio-visual," ungkap Taovik Rian Hidayat.
Mendorong Efek Berganda bagi Ekonomi Lokal
Langkah mandiri Pemuda Selaawi 07 tidak hanya berhenti pada capaian estetika film semata. Gerakan sinema desa ini berpotensi menghadirkan dampak berganda (multiplier effect) bagi lingkungan sekitarnya. Selain menjadi sarana inkubasi bakat akting dan teknis produksi bagi pemuda lokal, keterlibatan aktif warga dalam menyediakan lokasi syuting secara tidak langsung turut mempromosikan potensi lanskap pedesaan Ciburayut.
Di samping itu, inisiatif ini membuka peluang kolaborasi dengan pelaku UMKM setempat, mulai dari penyediaan kebutuhan logistik produksi hingga potensi pemasaran digital berbasis media sosial komunitas.
Gerakan inspiratif dari Ciburayut ini mempertegas bahwa keterbatasan fasilitas di daerah bukanlah penghalang untuk melahirkan karya bernilai tinggi. Dukungan serta apresiasi publik terhadap karya sinema lokal desa ini menjadi bahan bakar utama agar ekosistem ekonomi kreatif berbasis kepemudaan dapat terus tumbuh dan menginspirasi wilayah lainnya di Indonesia.
Mari bersama wujudkan ekosistem sinema desa yang berkelanjutan! Pemuda Selaawi 07 membuka ruang kolaborasi, dukungan moral, serta kemitraan sponsor bagi institusi, pelaku usaha, maupun masyarakat luas yang ingin berinvestasi dalam pengembangan seni visual dan ekonomi kreatif di Desa Ciburayut.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


