Selama tiga minggu, tim KKN-T IPB University lebih sering duduk di warung dan rumah produksi daripada menunggu pelaku usaha datang ke posko. Mulai 18 Juli hingga 7 Agustus 2026, mereka mendatangi satu per satu pelaku UMKM di Desa Solokanjeruk untuk melihat langsung bagaimana usaha dijalankan sehari-hari.
Ada yang berjualan opak dan rengginang dari warung depan rumah. Ada yang membuat seblak. Ada pula yang mengerjakan pesanan kue dan pakaian dari rumah. Dari tempat-tempat itulah program DIGDAYA, singkatan dari Digitalisasi dan Keuangan Berdaya, berjalan.
Tim datang membawa dua hal yang berbeda. Yang pertama berkaitan dengan bagaimana usaha terlihat dari luar, mulai dari logo, banner, sampai lokasi di Google Maps. Yang kedua justru menyentuh bagian yang biasanya hanya diketahui pemilik usaha sendiri, yaitu berapa sebenarnya biaya yang dikeluarkan dan berapa keuntungan yang tersisa.
Keduanya menjadi persoalan yang nyata di Solokanjeruk. Desa ini memiliki sekitar 600 warung dan toko, ditambah ratusan usaha konveksi rumahan yang tersebar. Jumlah tersebut menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi warga cukup ramai.
Namun, Banyak usaha belum terdaftar di Google Maps. Sebagian belum memiliki logo atau identitas visual yang konsisten. Promosi masih mengandalkan pelanggan lama, tetangga, atau orang yang memang sudah mengetahui lokasi rumah dan warung mereka.
Padahal Solokanjeruk berada di jalur penghubung Rancaekek dan Majalaya. Aktivitas warga dari luar desa juga tinggi karena kawasan sekitar dikelilingi belasan ribu buruh pabrik dan pendatang yang keluar-masuk setiap hari.
Menurut Pak Yadi, Ketua BUMDes Solokanjeruk persoalan tersebut membuat pemasaran menjadi hal yang sangat perlu didorong. Menurutnya, semakin luas pemasaran maka semakin meluas juga penjualan dan eksposur.
“Pemasaran itu harus dinaikkan. Kalau pemasarannya naik, penjualan juga bisa meningkat bahkan sampai ke luar daerah,” ujarnya.
Masalah Lain Ada di Pencatatan Keuangan
Ketika tim mulai berbincang dengan pelaku usaha, persoalan lain muncul dari bagian yang tidak terlihat dari luar toko. Sebagian pelaku usaha masih menghitung pemasukan dan pengeluaran berdasarkan ingatan atau nota sederhana, sementara biaya yang tidak dibayar secara langsung, seperti listrik rumah yang juga digunakan untuk usaha, tenaga sendiri sering kali tidak masuk dalam hitungan.
Akibatnya, pemilik usaha bisa mengetahui berapa uang yang masuk, tetapi belum tentu mengetahui berapa keuntungan bersih yang sebenarnya diperoleh. Harga jual pun kadang ditentukan berdasarkan harga pesaing atau perkiraan sederhana. Kalau terlalu rendah, keuntungan yang diperoleh menjadi tipis. Kalau terlalu tinggi, produk bisa lebih sulit bersaing.
Inilah yang menjadi salah satu alasan DIGDAYA menggabungkan pendampingan branding dengan pencatatan keuangan supaya pemilik usaha bisa memperbaiki bagian yang terlihat dari luar sekaligus mengetahui kondisi usaha dari dalam.
Lima Usaha, Lima Pendekatan
DIGDAYA tidak dijalankan dalam bentuk pelatihan besar dengan banyak peserta dalam satu ruangan. Tim memilih mendatangi lima usaha secara langsung dan melakukan pendampingan berdasarkan kondisi masing-masing.
Lima UMKM yang terlibat adalah warung Ibu Enung yang menjual opak, rengginang, dan aneka camilan tradisional; warung seblak milik Ibu Entin; warung nasi dan kelontongan Teh Enur; Cahaya Cake, usaha kue rumahan; serta Tri R Collection, konveksi rumahan.
Setiap kunjungan dibagi ke dalam dua pembahasan utama. Tim terlebih dahulu membicarakan kondisi keuangan usaha, kemudian masuk ke identitas dan pemasaran digital. Dalam sesi keuangan, pelaku usaha diperkenalkan pada laporan arus kas, laba-rugi, Harga Pokok Penjualan. Tim membantu mereka melihat kembali biaya yang masuk ke dalam proses produksi dan penjualan, termasuk beberapa komponen yang sebelumnya belum ikut dihitung.
Pelaku usaha juga dibekali spreadsheet sederhana untuk mencatat uang yang masuk dan keluar. Format tersebut dibuat agar bisa langsung digunakan untuk kegiatan sehari-hari, bukan hanya menjadi contoh yang berhenti setelah sesi pendampingan selesai.
Setelah urusan angka, pembahasan berpindah ke bagian yang lebih mudah dilihat pelanggan. Tim memperkenalkan penggunaan Canva untuk membuat logo dan materi promosi. Mereka juga membantu mendaftarkan lokasi usaha ke Google Maps dan menyiapkan template konten untuk media sosial. Untuk beberapa pelaku usaha, hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah mereka kerjakan sendiri.
Ada pula pemanfaatan teknologi AI untuk membantu kebutuhan branding, termasuk dalam proses pembuatan logo dan banner. Hasil banner usaha dicetak oleh tim dan diserahkan langsung kepada pemiliknya untuk dipasang di depan tempat usaha. Dengan begitu, perubahan bisa langsung terlihat di lokasi masing-masing.
Pendampingan dari rumah ke rumah ternyata tidak selalu berjalan mulus, salah satu kendala yang ditemui tim adalah bahasa. Tidak semua pelaku usaha yang didampingi terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari. Ketika pembahasan mulai masuk ke istilah seperti HPP, pencatatan arus kas, atau komponen biaya produksi, penjelasan dalam Bahasa Indonesia tidak selalu cukup.
Penanggung jawab melibatkan anggota tim yang lebih fasih berbahasa Sunda agar komunikasi dengan pemilik usaha lebih akrab dan mudah dipahami. Pendekatan ini membuat pemilik usaha lebih leluasa menjelaskan kebiasaan pencatatan dan penentuan harga, sehingga tim dapat menyesuaikan contoh pembukuan dengan kondisi masing-masing usaha.
Lima Usaha Mulai Punya Jejak Digital
Setelah pendampingan berlangsung, kelima UMKM tersebut memiliki beberapa perangkat yang sebelumnya belum tersedia. Masing-masing sudah memiliki logo, banner yang telah dicetak, dan lokasi usaha yang dapat ditemukan melalui Google Maps. Mereka juga mendapatkan spreadsheet untuk mencatat pemasukan, pengeluaran, dan perhitungan HPP.
Perangkat yang diberikan pun memiliki arti yang berbeda untuk setiap UMKM. Bagi Ibu Entin, pemilik warung seblak, pemberian banner menjadi hal yang berarti bagi beliau karena memang sudah berniat mencetak banner sejak lama, tetapi masih terhalang dana. Sementara itu, bagi Teh Syifa, putri pemilik warung nasi dan kelontong, menilai pembelajaran akuntansi sederhana untuk UMKM ini sangat berguna bahkan untuk persiapan kerja.
Perubahan tersebut belum bisa langsung diterjemahkan menjadi kenaikan omzet. Tiga minggu terlalu singkat untuk melihat apakah jumlah pelanggan bertambah atau keuntungan meningkat secara signifikan. Namun, ada satu perubahan yang sudah bisa dilihat dari hasil pendampingan, pemilik usaha kini bisa melihat bisnisnya secara lebih teratur.
Pemasukan tidak lagi hanya dicatat di ingatan. Biaya produksi dapat dihitung kembali. Lokasi warung bisa dicari oleh orang yang belum pernah datang sebelumnya. Nama usaha juga mulai memiliki identitas yang dapat digunakan pada banner maupun media sosial.
Semua perangkat tersebut kemudian ditinggalkan kepada masing-masing pemilik. Spreadsheet dan panduan pencatatan dapat digunakan kembali setelah tim KKN selesai bertugas. Akun Google Maps dan pengaturan media sosial juga diserahkan kepada pemilik agar mereka dapat memperbaruinya sendiri. Bagi tim DIGDAYA, bagian tersebut penting karena pendampingan memang dirancang untuk bisa diteruskan tanpa kehadiran mahasiswa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


