rimba cilik di warsambin ketika daun dan bunga menjadi guru keanekaragaman hayati untuk anak anak raja ampat - News | Good News From Indonesia 2026

Rimba Cilik di Warsambin: Ketika Daun dan Bunga jadi Guru Keanekaragaman Hayati untuk Anak-Anak Raja Ampat

Rimba Cilik di Warsambin: Ketika Daun dan Bunga jadi Guru Keanekaragaman Hayati untuk Anak-Anak Raja Ampat
images info

Edu-Forest | Tim Sorai Waisai 2026


Kawan GNFI, pernahkah Kawan membayangkan selembar daun yang jatuh di halaman sekolah bisa menjadi bahan ajar sains, media ekspresi seni, dan pelajaran cinta lingkungan sekaligus dalam satu sesi yang sama? Di SD YPK Sion, Kampung Warsambin, Distrik Teluk Mayalibit, Raja Ampat, Papua Barat Daya, itulah yang terjadi pada Rabu, 23 Juli 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional.

23 siswa kelas 3 duduk melingkar dengan daun-daun segar di tangan mereka, mendengarkan Galuh Prameswari, mahasiswi Fakultas Kehutanan UGM yang tergabung dalam Tim KKN-PPM UGM Periode II 2026 Unit Sorai Waisai, menjelaskan sesuatu yang tidak ada di buku teks mereka: bahwa alam di sekitar mereka adalah laboratorium seni yang tak pernah kehabisan bahan.

Program yang dibawa Galuh bernama Edu-Forest Rimba Cilik: Eksplorasi Keanekaragaman Hayati Lewat Kreasi Ecoprint. Bagi Kawan yang belum familiar, ecoprint adalah teknik mencetak motif alami dari daun dan bunga langsung ke permukaan kain atau kertas menggunakan tekanan dan reaksi kimia alami antara pigmen tanaman dan serat bahan.

baca juga

Hasilnya? Motif-motif organis yang indah dan unik asimetris tampak cantik, karena setiap daun memiliki suratannya sendiri.

Warsambin bukan tempat yang mudah dijangkau. Distrik Teluk Mayalibit berada jauh dari pusat kota Waisai, dan anak-anaknya tumbuh dengan akses pendidikan yang terbatas dibanding teman mereka di kota.

Berbagai program pengayaan seperti seni kreatif dan pendidikan lingkungan yang sudah biasa di sekolah-sekolah perkotaan masih terasa mewah di sini. Itulah mengapa kehadiran Galuh dan ecoprint-nya bukan sekadar kegiatan menyenangkan. Ia adalah bentuk nyata dari upaya menutup kesenjangan pendidikan yang selama ini diam-diam membebani anak-anak di pelosok.

Program dimulai dengan sesi pengenalan yang seru. Galuh memandu anak-anak mengidentifikasi berbagai jenis daun dan bunga dari lingkungan sekitar sekolah, memeriksa tekstur tulang daun, membandingkan ukuran, dan mendiskusikan mengapa beberapa tanaman menghasilkan motif yang lebih jelas.

Bagi anak-anak kelas III ini, ini adalah kali pertama mereka sungguh-sungguh melihat tanaman yang selama ini hanya mereka lewati begitu saja. Kemudian praktik ecoprint dimulai. Setiap anak menata susunan daun dan bunga pilihannya di atas kain putih, menekannya dengan hati-hati, dan menunggu dengan perasaan campur aduk antara penasaran dan antusias.

Ketika kain-kain itu dibuka dan motif-motif alami terungkap, Kawan GNFI, ada sesuatu yang terjadi di ruangan itu yang sulit dijelaskan hanya dengan kata-kata. Setiap anak mengangkat kain mereka tinggi-tinggi. Di wajah mereka ada kebanggaan yang tulus karena mereka baru saja membuktikan sesuatu kepada diri mereka sendiri: bahwa mereka bisa menciptakan keindahan. Dari tanaman yang tumbuh di halaman mereka sendiri. Dengan tangan mereka sendiri.

"Melalui pengalaman belajar yang menyenangkan, kami berharap anak-anak tidak hanya mengenal keanekaragaman hayati, tetapi juga tumbuh dengan rasa cinta dan tanggung jawab untuk menjaganya," ujar Galuh Prameswari setelah sesi selesai.

baca juga

Pembuatan Ecoprint Bersama Siswa SD YPK Sion Warsambin, Raja Ampat
info gambar

Pembuatan Ecoprint Bersama Siswa SD YPK Sion Warsabin, Raja Ampat


Kawan tentu tahu bahwa Raja Ampat lebih sering dibicarakan karena kekayaan bawah lautnya yang legendaris. Namun, program Edu-Forest Rimba Cilik mengingatkan kita bahwa keanekaragaman hayati Raja Ampat juga hidup di darat, di dedaunan hijau yang tumbuh di hutan-hutannya, di bunga-bunga yang bermekaran di tepi kampung. Bahwa generasi yang akan menjaga kekayaan itu dimulai dari anak-anak yang belajar menghargainya sejak di bangku SD.

23 tiga karya ecoprint yang dibawa pulang oleh anak-anak Warsambin hari itu adalah lebih dari sekadar kain bermotif. Mereka adalah tanda tangan alam, bukti bahwa keanekaragaman hayati di sekitar mereka itu nyata, indah, dan layak untuk dicintai.

Bagi Kawan GNFI yang percaya bahwa pendidikan yang baik tidak mengenal batas geografis, kisah dari Warsambin ini adalah pengingat bahwa perubahan terbesar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang bermakna.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MF
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.