Kawan GNFI, pernahkah membayangkan sebuah rumput yang lahir dari riset di kampus Yogyakarta tiba-tiba hadir di sebuah peternakan di ujung timur Indonesia, di Raja Ampat, wilayah yang lebih dikenal karena terumbu karangnya daripada kandang ternaknya?
Itulah yang terjadi pada Jumat, (3/7/2026), ketika Hamdan Abbi Danuramadhan, mahasiswa KKN-PPM UGM Periode II 2026, menggelar Sosialisasi Tanaman Pakan Gama Umami di Peternakan Salim, Kelurahan Sapordanco, Distrik Kota Waisai, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya.
Nama "Gama" dalam Rumput Gama Umami bukan sekadar nama. Ia adalah singkatan dari Gadjah Mada, penanda bahwa rumput ini adalah inovasi hijauan pakan unggulan yang dikembangkan oleh Universitas Gadjah Mada untuk mendukung produktivitas ternak ruminansia.
Di daratan Jawa, rumput ini sudah dikenal di kalangan peternak sebagai alternatif hijauan pakan yang lebih bernutrisi. Tapi di Raja Ampat? Ini adalah perjumpaan pertama.
Kawan mungkin bertanya-tanya: apa urusan peternak kambing dan sapi dengan wilayah yang lebih terkenal dengan ikan napoleon dan mantaray-nya? Ternyata, sektor peternakan ruminansia di Waisai dan sekitarnya memiliki tantangan yang tidak kecil.
Ketersediaan hijauan pakan berkualitas di wilayah kepulauan ini sangat terbatas. Peternak kerap mengandalkan vegetasi alam yang tidak terkontrol kandungan nutrisinya, atau membeli pakan konsentrat dari luar pulau dengan harga yang tidak murah dan pasokan yang tidak selalu lancar.
Hasilnya bisa ditebak. Produktivitas ternak yang tidak optimal, pertumbuhan yang lambat, dan pendapatan peternak yang tidak bisa berkembang seperti yang diharapkan.
Inilah yang membuat program sosialisasi Gama Umami menjadi relevan, bahkan mendesak. Dalam sesi yang memadukan teori dan diskusi langsung, Hamdan menjelaskan kepada Salim mengapa hijauan berkualitas bukan sekadar soal kenyang, melainkan fondasi dari seluruh sistem pencernaan ruminansia.
Di dalam rumen, serat hijauan difermentasi oleh mikroorganisme menjadi sumber energi dan protein yang sangat dibutuhkan ternak. Tanpa hijauan bernutrisi tinggi, proses ini tidak berjalan optimal - dan produktivitas ternak ikut terdampak.
Gama Umami hadir dengan kandungan protein kasar yang lebih tinggi, produksi biomassa yang lebih besar per siklus panen, dan kemampuan perbanyakan yang sangat mudah melalui teknik stek. Teknik stek inilah yang menjadi jantung dari program ini, Kawan.
Satu stek yang ditanam dengan benar akan tumbuh menjadi tanaman, yang setelah beberapa minggu bisa dipangkas dan hasil pangkasannya dijadikan stek baru untuk memperluas areal penanaman. Siklus ini terus berputar. Artinya, dari bibit yang dibagikan hari itu, Salim berpotensi mengembangkan sendiri padang hijauan yang mencukupi kebutuhan seluruh ternaknya tanpa harus membeli bibit lagi.
Itulah semangat yang diungkapkan Hamdan, "Program ini bukan sekadar mengenalkan Rumput Gama Umami, tetapi mendorong lahirnya budaya beternak yang lebih mandiri melalui penyediaan pakan berkualitas secara berkelanjutan. Kami berharap ilmu dan bibit yang diberikan dapat terus berkembang bersama masyarakat."

Penanaman Stek Gama Umami oleh Mahasiwa KKN-PPM UGM Sorai Waisai
Yang menarik, program ini juga punya dimensi lingkungan yang tidak langsung terlihat. Ketika peternak memiliki sumber hijauan pakan yang terencana dan produktif, tekanan terhadap vegetasi alam sekitar berkurang.
Ternak tidak lagi dilepas merumput bebas di lahan terbuka atau mengandalkan semak-semak liar yang merusak penutupan tanah.
Di Raja Ampat, di mana ekosistem daratan adalah penyangga dari ekosistem laut yang menjadi kebanggaan dunia, setiap praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan adalah investasi bagi keindahan yang ingin terus kita jaga.
Kawan GNFI, di antara sekian banyak cerita tentang Raja Ampat yang penuh dengan keindahan bawah laut dan petualangan wisata, ada cerita-cerita kecil yang tidak kalah pentingnya: cerita tentang seorang peternak di Kelurahan Sapordanco yang hari itu menerima bibit rumput dan ilmu cara merawatnya, tentang mahasiswa dari Yogyakarta yang menyeberangi lautan bukan untuk berwisata, melainkan untuk memastikan bahwa inovasi kampusnya bisa dirasakan manfaatnya oleh orang yang paling membutuhkan.
Rumput Gama Umami mungkin terdengar kecil. Tapi bagi peternak Waisai yang selama ini berjuang dengan keterbatasan pakan, ia bisa menjadi awal dari perubahan yang sangat besar.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


