Kawan GNFI mungkin selama ini menganggap sisa sayuran, kulit buah, atau ampas dapur lainnya hanya layak dibuang ke tempat sampah.
Namun, bagi warga Desa Sembongin, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, pandangan itu perlahan mulai berubah setelah mengikuti pelatihan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari sampah dapur yang digelar Tim KKN-T IPB University pada Rabu, 29 Juli 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Sembongin ini dihadiri sekitar 50 peserta, terdiri dari ibu-ibu PKK, ibu-ibu petani, dan ibu rumah tangga.
Program bertajuk Eco-POC ini merupakan hasil kolaborasi antara mahasiswa KKN-T IPB University dengan Pemerintah Desa Sembongin, sebagai bagian dari upaya pemberdayaan perempuan di bidang pengelolaan lingkungan dan pertanian.
Ide di balik program ini cukup sederhana, namun menyentuh persoalan yang cukup umum terjadi di banyak desa: kebiasaan membakar sampah secara terbuka.
Di Desa Sembongin, kebiasaan ini masih cukup lazim ditemui, terutama karena belum tersedianya sistem pengelolaan sampah yang memadai di tingkat desa. Padahal, membakar sampah, termasuk sampah dapur, dapat menimbulkan dampak buruk bagi kualitas udara dan kesehatan warga sekitar.
Melihat kondisi tersebut, Tim KKN-T IPB University berinisiatif menyusun program yang tidak berhenti pada imbauan, tetapi juga memberi solusi yang bisa langsung dipraktikkan warga di rumah masing-masing.
Dari situlah program Eco-POC ini digagas, dengan sasaran utama para ibu rumah tangga yang sehari-hari paling banyak berhubungan dengan sampah dapur.
Pelatihan yang berlangsung sejak pukul 10.00 hingga 13.00 WIB ini dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama berupa penyuluhan mengenai jenis-jenis sampah, yaitu sampah organik, anorganik, dan B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), sekaligus cara memilahnya sejak dari sumbernya. Tahap ini penting sebagai fondasi sebelum peserta masuk ke materi yang lebih teknis.
Selanjutnya, pada tahap kedua, tim mahasiswa memaparkan proses teknis pembuatan POC, mulai dari jenis bahan baku sampah dapur yang bisa digunakan, komposisi campuran, hingga proses fermentasi yang diperlukan agar pupuk cair yang dihasilkan benar-benar bernutrisi bagi tanaman.
Puncaknya ada pada tahap ketiga, yaitu pendampingan praktik langsung. Di sinilah suasana menjadi lebih hidup: peserta tidak hanya mendengarkan, tetapi juga ikut mencampur bahan, mengaduk, hingga mengemas hasil olahan POC ke dalam wadah yang telah disiapkan.
Beberapa peserta bahkan aktif bertanya soal takaran bahan dan lama waktu fermentasi yang ideal, menandakan antusiasme yang cukup tinggi terhadap materi yang diberikan.
Bagi Tim KKN-T IPB University, keberhasilan program ini tidak diukur hanya dari seberapa banyak materi yang tersampaikan, melainkan dari sejauh mana peserta benar-benar bisa mempraktikkannya secara mandiri setelah kegiatan selesai.
Sebab, program KKN pada dasarnya memiliki keterbatasan waktu, sehingga keberlanjutan manfaatnya sangat bergantung pada kemampuan warga untuk melanjutkan sendiri apa yang telah dipelajari.
Salah satu peserta mengaku baru menyadari bahwa sisa sayuran dan limbah dapur lainnya, yang selama ini hanya dibuang atau dibakar, ternyata bisa diolah menjadi pupuk cair yang bermanfaat untuk tanaman di kebun maupun sawah miliknya. Bahan-bahannya pun tergolong mudah didapatkan, karena bersumber dari aktivitas memasak sehari-hari.
Pihak Pemerintah Desa Sembongin turut menyambut baik program ini. Mengingat sebagian besar warga desa bermata pencaharian sebagai petani, keberadaan pupuk organik cair yang bisa dibuat sendiri dinilai dapat membantu menekan biaya produksi pertanian, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.
Melalui program Eco-POC, Tim KKN-T IPB University berharap warga Desa Sembongin, khususnya kaum perempuan, dapat terus menerapkan pengelolaan sampah yang lebih baik serta memanfaatkan limbah dapur menjadi produk bernilai guna secara mandiri dan berkelanjutan. Program ini diharapkan tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan desa, tetapi juga turut mendukung produktivitas pertanian warga.
Cerita dari Desa Sembongin ini menjadi salah satu contoh sederhana bahwa persoalan sampah, terutama yang berasal dari dapur, sebenarnya bisa diselesaikan tanpa perlu teknologi rumit. Cukup dengan pemahaman yang tepat dan sedikit kemauan untuk mencoba, sampah yang tadinya dianggap tidak berguna bisa berubah menjadi sesuatu yang bermanfaat, baik bagi lingkungan maupun bagi ladang dan kebun warga sendiri.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


