Dewasa ini, perkembangan teknologi memasuki proses yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dalam hal berikut, teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bergerak laksana jet supersonik.
Melalui tersedianya layanan internet dan munculnya gawai yang mumpuni, setiap orang di seluruh kawasan kini bisa lebih terkoneksi—boleh merasakan adat setempat hingga soal kebudayaan lokal yang pasti berbeda satu sama lain.
Sebagaimana disadur dari gramedia.com, dalam era globalisasi yang makin maju, budaya dari berbagai belahan dunia saling bertemu dan bereaksi secara organik. Secara harfiah, globalisasi bidang budaya merupakan bentuk interaksi serta integrasi antara pelbagai budaya yang diakibatkan oleh pertukaran informasi, ide, produk, dan nilai-nilai ditingkat internasional.
Proses ini diakselerasi oleh canggihnya teknologi yang berkembang, memudahkan arus budaya dari satu negara ke negara lain.
Tentu saja, globalisasi menyajikan sisi positif maupun negatif. Globalisasi budaya membuka lebar akan peluang memperkaya pengalaman budaya individu serta meningkatkan pemahaman antarbudaya.
Akan tetapi, keterhubungan yang likuid ini juga menimbulkan tantangan terutama mengenai homogenisasi budaya, yang mengancam kepunahan budaya lokal karena tergeser oleh budaya luar yang lebih dominan. Oleh sebab itu, kita perlu menyeimbangkan preferensi budaya agar tidak cenderung memfavoritkan budaya lain secara sepihak.
J-Pop: Kehadiran dan Perkembangannya
J-Pop atau Japanese Pop adalah suatu genre musik yang identik dengan melodi yang catchy, estetika yang penuh warna, kesan yang dinamis, dan suara yang khas. J-Pop sendiri bertransformasi selama beberapa dekade, memodifikasi berbagai gaya musik guna menjadi sensasi global.
Asal-usul genre ini dapat diusut ke belakang pada tahun 1960-an di era Showa, dengan artis pelopor seperti Kyu Sakamoto melalui lagu populernya berjudul Ue o Muite Arukou (dikenal masyarakat internasional dengan Sukiyaki).
Memasuki dekade 1970 dan 1980-an, J-Pop kian tenar berkat ikon pop seperti Seiko Matsuda dan Yellow Magic Orchestra. Berlanjut pada periode 1990 dan 2000, genre ini berkembang lebih jauh, menggabungkan elemen musik elektronik, hip-hop, hingga R&B. Adapun nama seperti Hikaru Utada dan Ayumi Hamasaki mewakili waktu berikut, bahkan mendominasi tangga lagu.
Seperti pembahasan sebelumnya, J-Pop mengambil inspirasi dari beragam pengaruh budaya permusikan. Pengaruh tersebut berasal dari musik tradisional seperti enka yang sentimental, kemudian dikolaborasikan dengan musik pop, rock, dan elektronik khas Barat.
Selain itu, dunia anime yang dinamis turut menciptakan elemen visual dan tematik dari J-Pop. Sebagaimana diketahui, kini banyak artis asal Jepang berkontribusi pada soundtrack dan merilis single untuk mengisi pembuka dan/atau penutup serial anime yang beresonansi dengan para penggemar di kancah global.
Pada intinya, J-Pop bertujuan untuk membangkitkan rasa sukacita, kegembiraan, dan fantasi. Baik melalui berbagai lagu dansa yang ceria hingga balada yang mengharukan, genre ini menawarkan ‘pelarian’ bagi penikmatnya dari realitas kehidupan yang monoton. Instrumen seperti synthesizer, mesin drum, dan gitar elektrik yang saling berpadu adalah fondasi krusial yang menjadi identitas dari J-Pop.
Dengan demikian, J-Pop menegaskan bahwa musik itu mengalir mengikuti kreativitas dan nuansa masa muda yang justru menambah variasi genre.
Di Tengah Kemerosotannya, Rainych Ran Membangkitkan Nostalgia
Sayangnya, J-Pop kini kurang diminati di Indonesia. Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, kurangnya peminat J-Pop di tanah air bukan karena kualitas, melainkan akibat perbedaan dalam hal promosi. Banyak lagu dengan genre ini yang menerapkan pembatasan seperti halnya pada YouTube dan Spotify yang membuat lagu tersebut hanya dapat diputar dan diakses di daerah lokal Jepang saja.
Ini berbeda dengan teknik promosi agensi hiburan Korea Selatan yang sengaja melaksanakan promosi dengan memanfaatkan platform media sosial yang legal dan punya massa terkonstan.
Selain itu, disebut pula pihak industri musik J-Pop terlambat dalam mengadaptasi digitalisasi di tengah penjualan CD (compact disc) yang terus menurun. Adapun keengganan dalam proses adaptasi tersebut tidak lepas dari aspek kebudayaan komunal.
Para ahli mengemukakan orang Jepang cenderung berprinsip untuk “menghindari ketidakpastian” yang berkorelasi pula dengan memori The Lost Decade (krisis ekonomi pada periode 1990-an), menyebabkan preferensi mayoritas jatuh pada sistem yang stabil dan teruji, meski untuk sekarang barangkali itu sudah dinilai usang atau kuno.
Lebih lanjut, J-Pop sendiri punya ritme, nada, hingga lirik yang unik dari kebanyakan genre. Genre ini secara umum tidak memanfaatkan teknologi autotune, lebih mengedepankan kekhasan suara penyanyi orisinal yang menjadi daya tariknya. Maka dari itu, suara aslinya tidak jauh berbeda jikalau kita bandingkan dengan MV (music video) atau media promosi sejenis.
Nah di Indonesia, ada sosok penyanyi Rainych Ran yang hampir sempurna menggunakan suara khasnya seperti orang Jepang. Apabila coba diusut, model suara yang dihasilkan Rainych Ran layaknya mengaplikasikan konsep Vocaloid.
Vocaloid sendiri berasal dari rekaman suara manusia sungguhan yang telah ‘diedit’ dengan sentuhan teknologi, menjadikan warna suaranya terdengar begitu “robotik”. Hatsune Miku diketahui adalah figur paling ikonis yang memopulerkan Vocaloid sejak tahun 2007 hingga 2019.

Hatsune Miku dalam acara MIKU EXPO 2016 (vocaloid.fandom.com/wiki)
Dilansir dari berbagai sumber, nama asli dari Rainych Ran yaitu Ran Widya, yang berasal dari Sumatra Barat dan lahir pada 20 Oktober 1992. Adapun profesinya saat ini adalah sebagai YouTuber, Selebgram, musisi serta penyanyi; bahkan punya hobi menggambar dan menonton anime.
Barangkali sosoknya kurang dikenal di Indonesia, akan tetapi kemampuan Rainych Ran sudah banyak diakui oleh warganet maupun berbagai artis tersohor ditingkat internasional.
Ketenarannya sudah dimulai semenjak meng-cover (menyanyikan ulang dengan khas tertentu) berbagai lagu J-Pop ternama, salah satunya Mayonaka no Door / STAY WITH ME oleh Miki Matsubara—salah satu penyanyi city pop legendaris era 1980-an.
Selain J-Pop, lagu Say So milik Doja Cat turut serta meningkatkan pamor Rainych Ran dalam dunia tarik suara. Setelah dibawakan dalam bahasa Jepang dan ikut dikomposeri oleh Tofubeats selaku musisi tulen Jepang, penyanyi aslinya bahkan menyatakan apresiasi tinggi serta kekagumannya saat live Instagram. Lagu yang bernuansa sensual ternyata bisa diubah dengan kesan ‘imut-menggemaskan’.
Berkat talenta tersebut, Rainych Ran secara resmi masuk dalam label rekaman Jepang, Sony Music Japan pada tahun 2020. Kawan GNFI perlu tahu, walau pelafalannya terdengar fasih berbahasa Jepang, ia sendiri mengaku tidak bisa bahasa Jepang! Itu semua adalah hasil latihan kerasnya mendengar dan meniru sepersis mungkin.
Kiranya profil dari Rainych Ran boleh memotivasi kita, bahwa bakat seunik apapun itu mampu mengharumkan bangsa dan negara melalui sarana dan momentum yang tepat.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


