Angklung semakin go international. Mulai 2026, alat musik tradisional khas Jawa Barat ini resmi masuk ke dalam kurikulum pembelajaran musik tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) di Gifu Special Needs School, Jepang.
Pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi antara akademik dan diplomasi yang melibatkan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) serta Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Tokyo. Langkah strategis ini diharapkan mampu memperkuat hubungan antarmasyarakat (people-to-people contact) kedua negara.
Duta Besar RI untuk Jepang, Nurmala Kartini Sjahrir, dalam keterangan resminya memberikan apresiasi tinggi terhadap terobosan budaya yang diresmikan pada Juli 2026 ini. Ia menekankan bahwa angklung bukan sekadar alat musik, tapi juga membawa pesan moral bagi para siswa. Warisan budaya ini membawa misi persahabatan yang kuat antara Indonesia dan Jepang.
“Angklung yang telah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia bukan hanya memiliki nilai artistik tetapi juga mengandung filosofi gotong royong, toleransi, dan kebersamaan," ujar Dubes Kartini.
Lebih lanjut, ia menambahkan jika masuknya instrumen ini ke dalam kurikulum sekolah khusus di Jepang menjadi bukti bagaimana kebudayaan mampu menjadi media pembelajaran karakter yang melintasi batas negara. KBRI Tokyo berkomitmen penuh untuk terus memfasilitasi promosi seni budaya seperti ini di tengah masyarakat Jepang.
Gifu Special Needs School: Pionir Pendidikan Inklusif Berbasis Budaya
Gifu Special Needs School adalah sekolah luar biasa di Jepang yang mengintegrasikan angklung ke dalam kurikulum resminya. Fokus awal pembelajaran ini ditujukan bagi siswa tingkat SMA.
“Anak-anak sangat menikmati pembelajaran menggunakan angklung. Instrumen ini mudah dimainkan, membantu mereka memahami ritme, dan memungkinkan seluruh siswa bermain musik bersama,” ungkap Sachi Sumi, Kepala Sekolah Gifu Special Needs School.
Angklung dianggap sangat efektif sebagai media terapi motorik dan sosial bagi siswa berkebutuhan khusus. Dengan bermain bersama, para siswa dapat lebih mudah melatih koordinasi fisik sekaligus membangun rasa percaya diri.
Kawan GNFI, Kemlu RI menjelaskan, implementasi angklung ke dalam kurikulum di Gifu Special Needs School merupakan hasil kolaborasi dengan UPI sejak 2022. Tim UPI secara konsisten mengirimkan ahli untuk memberikan pelatihan dan workshop seni di berbagai prefektur. Sebagai bentuk dukungan nyata, UPI juga menghibahkan satu set angklung untuk menunjang proses belajar mengajar di Gifu.
“Alat musik ini tidak cukup bermakna bila hanya digoyangkan oleh satu anak, namun saat dimainkan bersama-sama akan menumbuhkan inklusivitas dan harmoni di hati semua anak,” ungkap Rektor UPI, Prof. Dr. H. Didi Sukyadi, M.A..
Angklung sebagai Wujud Inklusivitas
Inisiatif di Prefektur Gifu ini diharapkan bisa menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain untuk mengadopsi langkah serupa. Assistant Professor Yoshitaka Suzuki dari Gifu University meyakini bahwa angklung adalah instrumen inklusif yang “melampaui” batasan fisik. Ia bahkan ingin memasukkan angklung ke dalam kurikulum pendidikan khusus di lebih banyak sekolah di Jepang.
“Saya percaya angklung adalah instrumen inklusif dan saya ingin memasukannya ke kurikulum pendidikan khusus di lebih banyak sekolah luar biasa di Jepang. Saya ingin bekerja keras dalam kegiatan angklung bersama masyarakat Indonesia, demi anak-anak penyandang disabilitas," pungkas Suzuki.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


