Kelompok Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IPB University di Desa Waringinsari Timur, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung, mengembangkan inovasi pangan lokal melalui pembuatan biskuit berbahan dasar tepung Modified Cassava Flour (MOCAF) dan daun kelor.
Produk ini diberi nama SIMOKA dan hadir sebagai upaya untuk mengolah potensi bahan pangan lokal menjadi camilan yang lebih menarik dan bernutrisi.
Gagasan pembuatan SIMOKA berawal dari potensi tepung MOCAF yang saat ini sedang digiatkan di Kabupaten Pringsewu. MOCAF merupakan tepung berbahan dasar singkong yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan baku dalam berbagai produk olahan pangan.
Pemanfaatannya diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah singkong sebagai salah satu komoditas lokal yang banyak ditemukan di Indonesia.
Selain MOCAF, tim KKN-T IPB University juga melihat potensi daun kelor yang banyak ditanam oleh masyarakat Desa Waringinsari Timur. Tanaman kelor cukup mudah ditemukan di pekarangan rumah warga, tetapi pemanfaatannya sebagai bahan pangan olahan masih dapat terus dikembangkan.
Padahal, daun kelor dikenal memiliki kandungan berbagai zat gizi, seperti protein, vitamin, mineral, serta senyawa antioksidan.
Berangkat dari potensi kedua bahan tersebut, tim KKN-T IPB University mencoba menggabungkan tepung MOCAF dan daun kelor dalam bentuk biskuit.
Produk ini kemudian diberi nama SIMOKA. Biskuit tersebut diharapkan dapat menjadi contoh pemanfaatan bahan pangan lokal yang sederhana, tetapi dapat diolah menjadi produk yang lebih modern dan memiliki nilai tambah.
Sebelum proses pembuatan dilakukan, tim KKN terlebih dahulu mendiskusikan rencana pengembangan produk bersama ibu-ibu Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Desa Waringinsari Timur. Diskusi ini menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program karena ibu-ibu PKK turut memberikan masukan serta terlibat dalam proses pembuatan biskuit.
Dalam pembuatannya, biskuit SIMOKA menggunakan tepung MOCAF sebagai salah satu bahan utama dengan tambahan daun kelor. Perpaduan kedua bahan tersebut menghasilkan biskuit yang tidak hanya memiliki cita rasa menarik, tetapi juga memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Selain membantu dalam proses pembuatan produk, tim KKN-T IPB University juga berperan dalam merancang desain dan kemasan SIMOKA agar produk memiliki tampilan yang lebih menarik.
Pada awalnya, tim merencanakan penggunaan kemasan dengan desain full print. Namun, rencana tersebut menghadapi kendala karena jumlah produk yang dibuat masih terbatas sehingga tidak memenuhi jumlah minimum pemesanan dari pihak percetakan.
Sebagai solusi, desain kemasan kemudian diterapkan dalam bentuk label stiker yang ditempelkan pada kemasan. Pilihan ini juga menjadi langkah untuk menyesuaikan biaya produksi agar lebih efisien.

Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang diselenggarakan oleh Posyandu.
Produk SIMOKA kemudian diperkenalkan kepada masyarakat pada 10 Agustus di Balai Desa Waringinsari Timur. Kegiatan ini dilaksanakan bersamaan dengan Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang diselenggarakan oleh Posyandu. Sebanyak 20 keluarga penerima PMT menerima produk SIMOKA sebagai salah satu bentuk pengenalan alternatif camilan berbahan pangan lokal.
Melalui inisiasi ini, masyarakat diperkenalkan pada pemanfaatan tepung MOCAF dan daun kelor yang diolah menjadi produk biskuit. Acara tersebut juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa bahan pangan yang mudah ditemukan di sekitar dapat dikembangkan menjadi camilan yang lebih praktis dan menarik.
Dengan pengolahan yang tepat, bahan sederhana seperti singkong dan daun kelor dapat memiliki nilai tambah yang lebih besar.
Selain sebagai alternatif camilan, SIMOKA juga memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi peluang usaha bagi masyarakat Desa Waringinsari Timur. Produk olahan berbasis bahan lokal dapat menjadi salah satu pilihan usaha yang menarik, terutama apabila dikembangkan dengan inovasi rasa, kemasan, dan strategi pemasaran yang sesuai.
Ketersediaan bahan baku serta keterlibatan masyarakat menjadi salah satu modal penting untuk pengembangan produk di masa mendatang.
Program ini juga menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus menggunakan bahan yang sulit ditemukan. Potensi yang tersedia di sekitar masyarakat dapat menjadi awal dari pengembangan produk baru. Singkong dapat diolah menjadi tepung MOCAF, sedangkan daun kelor dapat dimanfaatkan sebagai bahan tambahan dalam berbagai produk pangan.
Ke depan, SIMOKA diharapkan tidak hanya menjadi produk yang dibuat selama pelaksanaan KKN-T, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk terus mengembangkan potensi pangan lokal.
Dengan adanya pengembangan lebih lanjut, baik dari segi rasa, kualitas produk, kemasan, maupun pemasaran, SIMOKA memiliki peluang untuk menjadi salah satu produk olahan yang bernilai ekonomi.
Melalui program ini, tim KKN-T IPB University berharap masyarakat dapat melihat bahwa bahan pangan lokal memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Dari singkong dan daun kelor yang sederhana, lahirlah SIMOKA, sebuah inovasi biskuit yang tidak hanya menjadi alternatif camilan, tetapi juga membuka peluang pengembangan usaha berbasis potensi lokal di Desa Waringinsari Timur.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


