dari kulit buah menjadi berkah kisah mahasiswa kknt ipb university ajak warga desa worawari dan pelajar smp olah sampah jadi pupuk cair - News | Good News From Indonesia 2026

Mahasiswa KKNT IPB University Ajak Warga Desa Worawari dan Pelajar SMP Olah Sampah jadi Pupuk Cair

Mahasiswa KKNT IPB University Ajak Warga Desa Worawari dan Pelajar SMP Olah Sampah jadi Pupuk Cair
images info

Mahasiswa KKNT IPB University bersama siswa SMPN 3 Kebonagung Satu Atap usai penyuluhan bioenzim. © Dokumentasi KKNT IPB University


Setiap hari, dapur-dapur rumah tangga di Indonesia menyumbang tumpukan kulit buah yang berakhir begitu saja di tempat sampah. Padahal, di balik kulit jeruk, nanas, atau pepaya yang dibuang itu tersimpan potensi besar: bahan baku pupuk cair alami yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman sekaligus mengurangi beban sampah organik.

Potensi inilah yang coba dihidupkan kembali melalui salah satu program kerja Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University di Desa Worawari, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Program berupa penyuluhan pembuatan bioenzim ini menyasar dua kelompok sekaligus, yakni masyarakat Desa Worawari dan siswa kelas VII SMPN 3 Kebonagung Satu Atap.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN mengajak peserta mengenal cara sederhana mengolah limbah kulit buah menjadi produk yang lebih bermanfaat bagi lingkungan.

Ketika Sampah Dapur Bertemu Ilmu Pengetahuan

Mahasiswa KKNT IPB University memberikan penyuluhan materi bioenzim kepada siswa SMPN 3 Kebonagung Satu Atap.
info gambar

Mahasiswa KKNT IPB University menyampaikan materi bioenzim kepada siswa SMPN 3 Kebonagung Satu Atap. | Foto: Dokumentasi KKNT IPB University Desa Worawari


Program ini berangkat dari persoalan sederhana namun nyata: limbah kulit buah yang menumpuk tanpa pernah dimanfaatkan.

Bioenzim, atau yang di dunia penelitian lebih dikenal dengan istilah eco-enzyme, adalah larutan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah, gula merah, dan air, yang menghasilkan cairan multifungsi ramah lingkungan.

Proses pembuatannya jauh dari rumit. Perbandingan bahan yang umum digunakan adalah 1 bagian gula merah atau molase, 3 bagian limbah kulit buah, dan 10 bagian air, yang kemudian difermentasi dalam wadah kedap udara.

baca juga

Selama proses tersebut, mikroorganisme bekerja mengurai bahan organik dan menghasilkan berbagai senyawa yang berpotensi dimanfaatkan.

Yang menarik, hasil riset menunjukkan bahwa larutan ini bukan sekadar dapat dimanfaatkan sebagai pupuk. Sejumlah kajian mencatat bahwa eco-enzyme juga berpotensi digunakan sebagai pembersih alami, pengendali bau, serta memiliki berbagai fungsi lain dalam pengelolaan lingkungan.

Mengapa Menyasar Pelajar SMP dan Warga Desa?

Siswa SMPN 3 Kebonagung menyiapkan bahan-bahan organik untuk pembuatan bioenzim.

Siswa SMPN 3 Kebonagung menyiapkan bahan-bahan organik untuk pembuatan bioenzim. | Foto: Dokumentasi KKNT IPB University Desa Worawari

Pemilihan siswa kelas VII SMPN 3 Kebonagung Satu Atap sebagai salah satu sasaran penyuluhan bukan tanpa alasan. Usia remaja awal merupakan masa yang baik untuk menanamkan kebiasaan peduli terhadap lingkungan, termasuk kesadaran memilah dan mengolah sampah sejak dini.

Dengan mengenalkan konsep bioenzim melalui praktik langsung, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pengelolaan sampah. Namun, juga dapat melihat secara langsung bagaimana bahan yang selama ini dianggap sebagai sampah dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat melalui proses fermentasi.

Sementara itu, masyarakat Desa Worawari, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, menjadi sasaran karena limbah dapur merupakan bagian dari sampah rumah tangga yang dihasilkan setiap hari.

Penyuluhan ini diharapkan dapat memberikan alternatif sederhana bagi warga untuk mengolah limbah organik rumah tangga sekaligus memanfaatkannya dalam kegiatan pertanian dan perkebunan.

Dengan melibatkan sekolah dan masyarakat secara bersamaan, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti sebagai aktivitas selama masa KKN, tetapi dapat berkembang menjadi kebiasaan pengelolaan sampah organik di lingkungan Desa Worawari.

Ilmu di Balik Cairan Ajaib Ini

Siswa SMPN 3 Kebonagung mendemonstrasikan pembuatan bioenzim dari kulit buah-buahan.
info gambar

Siswa SMPN 3 Kebonagung mendemonstrasikan pembuatan bioenzim dari kulit buah-buahan. | Foto: Dokumentasi KKNT IPB University Desa Worawari


Ketertarikan terhadap bioenzim bukan tanpa dasar ilmiah. Berbagai penelitian di Indonesia telah menguji efektivitas produk fermentasi berbahan limbah kulit buah.

Salah satu kajian terhadap eco-enzyme dari kulit nanas menunjukkan adanya potensi pemanfaatan larutan tersebut pada tanaman. Penelitian lain yang menggunakan kombinasi kulit jeruk dan nanas juga menunjukkan adanya kandungan nitrogen dan aktivitas enzim tertentu pada hasil fermentasinya.

Faktor waktu fermentasi juga menjadi salah satu aspek penting yang memengaruhi karakteristik produk akhir. Jenis bahan organik, komposisi bahan, serta lama fermentasi dapat memengaruhi kualitas larutan yang dihasilkan.

baca juga

Uji coba pada tanaman turut menunjukkan potensi pemanfaatan bioenzim dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Temuan-temuan tersebut menjadi salah satu dasar mengapa edukasi mengenai pengolahan limbah organik seperti ini relevan diterapkan di tingkat masyarakat.

Belajar Sambil Praktik: Dari Sekolah ke Rumah

Siswa SMPN 3 Kebonagung mengikuti kegiatan dengan tertib.
info gambar

Siswa SMPN 3 Kebonagung mengikuti kegiatan dengan tertib dan antusias. | Foto: Dokumentasi KKNT IPB University Desa Worawari


Dalam pelaksanaannya di SMPN 3 Kebonagung Satu Atap, penyuluhan dirancang tidak sekadar berupa ceramah satu arah. Para siswa diajak memahami konsep fermentasi secara sederhana, kemudian mengikuti praktik pembuatan bioenzim menggunakan kulit buah yang telah disiapkan.

Peserta belajar mengenali bahan yang dapat digunakan, memahami perbandingan bahan, mengetahui pentingnya wadah yang sesuai, serta mengenali perubahan yang terjadi selama proses fermentasi.

Pendekatan "belajar sambil praktik" menjadi bagian penting dari kegiatan ini. Ketika siswa dan warga Desa Worawari terlibat langsung dalam proses pembuatan, mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga pengalaman bahwa pengelolaan lingkungan dapat dimulai dari tindakan sederhana di rumah.

Dari Desa Worawari untuk Lingkungan yang Lebih Berkelanjutan

Mahasiswa KKNT IPB University berfoto bersama ibu-ibu PKK Desa Worawari usai penyuluhan bioecoenzyme.
info gambar

Mahasiswa KKNT IPB University bersama ibu-ibu PKK Desa Worawari usai penyuluhan bioecoenzyme. | Foto: Dokumentasi KKNT IPB University Desa Worawari


Kegiatan penyuluhan bioenzim di Desa Worawari, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, diharapkan memberikan manfaat dari berbagai sisi.

Bagi lingkungan, pengolahan kulit buah dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi limbah organik rumah tangga.

Untuk masyarakat, kegiatan ini memperkenalkan cara sederhana dalam memanfaatkan kembali bahan yang sebelumnya dianggap sebagai sampah. Sementara bagi siswa SMPN 3 Kebonagung Satu Atap, kegiatan tersebut menjadi pengalaman belajar sains terapan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus menanamkan kepedulian terhadap lingkungan.

Lebih dari sekadar kegiatan KKN, penyuluhan ini menjadi contoh bagaimana mahasiswa dapat menjadi jembatan antara pengetahuan yang diperoleh di perguruan tinggi dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Dari Desa Worawari, langkah kecil berupa pemanfaatan kulit buah diharapkan dapat tumbuh menjadi kebiasaan baru dalam mengelola sampah organik secara lebih bijak.

Ke depan, harapannya kebiasaan mengolah limbah kulit buah menjadi bioenzim tidak berhenti setelah masa KKN berakhir. Masyarakat Desa Worawari dan warga sekolah di SMPN 3 Kebonagung Satu Atap diharapkan dapat terus mengembangkan praktik sederhana ini secara mandiri sebagai salah satu langkah nyata menuju lingkungan desa yang lebih bersih, produktif, dan berkelanjutan.

Penulis adalah tim KKN Tematik IPB University 2026, Desa Worawari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, beserta siswa SMPN 3 Kebonagung Satu Atap yang turut aktif dalam kegiatan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.