Dua penggerak Desa Sejahtera Astra (DSA), Zainul Arifin dari DSA Ketapanrame dan Nur Ahmadi dari DSA Wukirsari, berhasil mencatat prestasi membanggakan. Keduanya menerima Tanda Kehormatan Satyalencana Kepariwisataan dari Presiden Republik Indonesia atas kontribusinya dalam mengembangkan potensi pariwisata desa berbasis komunitas.
Penghargaan tersebut diserahkan oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia Widiyanti Putri Wardhana di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, bertepatan dengan momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada Senin (17/8).
Satyalencana Kepariwisataan merupakan tanda kehormatan resmi dari Presiden RI yang diberikan kepada individu yang dinilai berjasa dalam bidang kepariwisataan. Penghargaan ini sekaligus menjadi bentuk pengakuan atas kepeloporan yang memberikan dampak nyata terhadap pengembangan destinasi, pemberdayaan masyarakat, hingga peningkatan kesejahteraan desa.
Bagi Astra, capaian tersebut tidak hanya menjadi penghargaan bagi dua individu, tetapi juga menjadi bukti bahwa pengembangan potensi lokal dapat menciptakan dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.
“Astra mengapresiasi penghargaan yang diterima oleh kedua penggerak Desa Sejahtera Astra yang telah mendapatkan pendampingan Astra sejak tahun 2023 dalam berkontribusi memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus memperkuat pengembangan pariwisata berbasis komunitas sekaligus memberikan nilai ekonomi secara berkelanjutan. Penghargaan ini adalah kemenangan bagi seluruh masyarakat desa yang tak lelah berinovasi dan semoga dapat menularkan inspirasi bagi desa-desa lainnya untuk terus berkarya dan tumbuh bersama Indonesia,” ujar Chief of Corporate Affairs Astra Boy Kelana Soebroto.
Dari Tanah Kas Desa hingga Pariwisata Berbasis Budaya
Zainul Arifin menunjukkan bagaimana aset desa dapat diubah menjadi sumber pertumbuhan ekonomi masyarakat. Melalui pengembangan tanah kas desa di Kecamatan Trawas, Mojokerto, Jawa Timur, Zainul bersama masyarakat berhasil mendorong lahirnya destinasi wisata unggulan Taman Ghanjaran dan Sumber Gempong.
Pengembangan kedua destinasi tersebut dilakukan melalui kolaborasi multipihak serta investasi masyarakat yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). Model tersebut membuat potensi desa tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga menciptakan aktivitas ekonomi yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Dampaknya pun terasa hingga tingkat pemerintahan desa karena pengelolaan destinasi turut berkontribusi terhadap peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADes).
Sementara itu, Nur Ahmadi konsisten mengembangkan potensi wisata Desa Sejahtera Astra Wukirsari, Bantul, Yogyakarta, dengan tetap mempertahankan lingkungan dan budaya lokal. Salah satu potensi yang dikembangkan adalah Batik Tulis Giriloyo yang menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat setempat.
Pengembangan pariwisata berbasis budaya tersebut membuat Wukirsari semakin dikenal luas sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Kiprah desa bahkan berhasil membawa Wukirsari dikenal di tingkat global hingga meraih penghargaan The Best Tourism Village 2024 dari United Nations Tourism.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa desa memiliki kekuatan besar ketika potensi alam, budaya, kreativitas masyarakat, dan pengelolaan ekonomi dapat dipadukan secara berkelanjutan.
1.533 Desa Jadi Bagian Gerakan Astra
Kisah Zainul Arifin dan Nur Ahmadi merupakan bagian dari perjalanan Desa Sejahtera Astra dalam mendorong masyarakat mengembangkan potensi lokal. Program ini diarahkan agar desa mampu menciptakan manfaat ekonomi sekaligus meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.
Selama hampir tujuh dekade, Astra telah hadir dalam perjalanan pembangunan Indonesia dan memberikan manfaat kepada lebih dari 16 juta masyarakat. Dampak tersebut mencakup 6,9 juta tenaga kerja dan keluarganya serta 3 juta penerima manfaat kontribusi sosial melalui berbagai program, termasuk Desa Sejahtera Astra.
Program Desa Sejahtera Astra kini telah tersebar di 1.533 desa yang berada di 35 provinsi. Kehadiran program tersebut menjadi salah satu upaya untuk mendorong desa agar tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi dari kekuatan yang dimilikinya sendiri.
Penghargaan Satyalencana Kepariwisataan yang diterima Zainul dan Nur Ahmadi pun menjadi pengingat bahwa inovasi dari desa dapat menghasilkan dampak yang besar. Ketika masyarakat diberi ruang untuk mengembangkan potensi lokal dan didukung kolaborasi berbagai pihak, desa dapat tumbuh menjadi pusat ekonomi, budaya, sekaligus destinasi wisata yang memiliki daya saing.
Ke depan, upaya tersebut akan terus dilakukan secara berkelanjutan sejalan dengan cita-cita Astra untuk Sejahtera Bersama Bangsa serta mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


