rumah pengasingan bung karno di ende saksi perjuangan sang proklamator di tanah flores - News | Good News From Indonesia 2026

Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, Saksi Perjuangan Sang Proklamator di Tanah Flores

Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, Saksi Perjuangan Sang Proklamator di Tanah Flores
images info

Dok. Herditama Galih (Google Maps)


Di Jalan Perwira, Kecamatan Ende Selatan, Kota Ende, Flores, berdiri sebuah rumah sederhana berwarna putih yang menjadi saksi salah satu babak penting dalam sejarah Indonesia. Rumah ini adalah tempat Soekarno diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda dari 14 Januari 1934 hingga 18 Oktober 1938.

Kini dikenal sebagai Museum Situs Bung Karno, bangunan ini awalnya adalah rumah milik Haji Abdullah Ambuwaru yang dibangun pada 1927, sebelum kemudian menjadi tempat tinggal Bung Karno bersama istrinya Inggit Garnasih, anak angkatnya Ratna Djuami, dan ibu mertuanya Amsi.

Belanda mengasingkan Bung Karno ke Ende dengan harapan sang tokoh pergerakan nasionalis akan merasa terasing, frustrasi, dan akhirnya menyerah pada dunia politik. Di masa awal pengasingannya, harapan itu hampir terwujud. Bung Karno yang terbiasa dikelilingi massa harus menghadapi kenyataan bahwa hampir tak ada yang berani mendekatinya di Ende, sebagian karena takut diawasi Belanda, sebagian lagi karena memang tidak mengenalnya.

Tapi Bung Karno bukan orang yang mudah menyerah. Ia mengisi waktu dengan melukis, berkebun, dan menulis naskah sandiwara tonil, setidaknya belasan naskah yang ia tulis, dekor panggungnya sendiri, sutradarai sendiri, bahkan ia sendiri yang menjual tiketnya. Lewat sandiwara itu, Bung Karno mendekati rakyat jelata, dari nelayan, petani, pedagang, hingga tukang jahit, dan menyelipkan pesan tentang pentingnya sebuah negara merdeka di setiap pertunjukan.

 

Sekilas Mengenai Rumah Pengasingan Bung Karno

Pada 1951, ketika sudah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, Bung Karno kembali mengunjungi rumah pengasingannya di Ende dan menyatakan keinginan agar rumah itu dijadikan museum. Keinginan itu terwujud pada 16 Mei 1954, saat Bung Karno sendiri meresmikan rumah tersebut sebagai museum.

Rumah ini menempati lahan yang cukup luas dan dikelilingi pagar tembok, terbagi menjadi rumah induk di bagian depan, serta kamar pembantu, musala, kamar mandi, dapur, dan sumur di halaman belakang. Sumur di belakang rumah ini punya kedalaman sekitar 12 meter dan dulu digunakan Bung Karno untuk mencuci, mandi, minum, dan berwudu.

Pemugaran besar dilakukan pada 2012 hingga 2013 atas prakarsa Wakil Presiden Boediono, mencakup perbaikan empat situs utama, yaitu rumah pengasingan, taman perenungan dengan patung Bung Karno, lokasi pertunjukan tonil, dan makam mertua Bung Karno. Pemugaran ini selesai tepat waktu untuk peringatan 100 tahun kelahiran Bung Karno. Pada 13 Oktober 2014, museum ini resmi ditetapkan sebagai cagar budaya berperingkat nasional.

Ende sendiri memberikan pengaruh besar bagi pemikiran Bung Karno. Sebagai kota pesisir dengan warga dari beragam agama, suku, dan etnik yang hidup rukun berdampingan, pergumulan Bung Karno dengan keberagaman itulah yang kemudian mengantarkannya pada gagasan tentang negara merdeka yang bisa merangkul semua perbedaan.

 

Daya Tarik Utama Rumah Pengasingan Bung Karno

Rumah Pengasingan Bung Karno menawarkan pengalaman yang personal karena hampir semua koleksinya adalah barang yang benar-benar pernah digunakan sang tokoh.

Di ruang depan, tersimpan koleksi foto-foto tua, lukisan Pura Bali karya Bung Karno sendiri, biola yang pernah dimainkannya menunjukkan minatnya pada musik, keramik, dan setrika besi.

Di ruang yang sama, tertempel Surat Keterangan Kawin Bung Karno dengan Inggit Garnasih tertanggal 24 Maret 1923, berdampingan dengan surat perjanjian cerai keduanya yang disaksikan oleh tokoh-tokoh besar seperti Muhammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan Haji Mas Mansoer.

Dua tongkat yang tersimpan dalam lemari kaca menjadi salah satu koleksi yang paling menarik perhatian. Satu tongkat biasa untuk jalan-jalan, sementara satu lagi berukir kepala monyet yang khusus dipakai Bung Karno saat harus bertemu atau melapor kepada pejabat Belanda. Konon, setiap kali berbincang dengan orang Belanda, ujung tongkat berkepala monyet itu selalu diarahkan ke lawan bicaranya sebagai bentuk sindiran halus.

Koleksi lain meliputi ranjang besi, lemari pakaian, meja marmer dan kursi rotan, dulang dan alas kuningan, buku-buku bacaan Bung Karno, serta patung yang menggambarkan Bung Karno duduk merenung di bawah pohon sukun. Tidak jauh dari rumah ini, terdapat Taman Renungan Bung Karno, tempat pohon sukun bercabang lima yang dipercaya menjadi lokasi lahirnya gagasan awal Pancasila.

 

Akses Menuju Rumah Pengasingan Bung Karno

Rumah Pengasingan Bung Karno bisa dicapai melalui Bandara H. Hasan Aroeboesman di Ende, yang terhubung dengan penerbangan dari berbagai kota di Indonesia.

Dari bandara, Kawan bisa melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan sewa, ojek, atau kendaraan umum menuju Jalan Perwira di Kecamatan Ende Selatan.

 

Jam Operasional

Rumah Pengasingan Bung Karno sebaiknya dikunjungi Senin hingga Jumat mulai pukul 09.00 waktu setempat, karena situs ini tutup pada Sabtu dan Minggu.

 

Ayo Berkunjung ke Rumah Pengasingan Bung Karno!

Rumah Pengasingan Bung Karno cocok untuk Kawan GNFI yang ingin napak tilas perjuangan sang proklamator dari dekat. Pastikan datang di hari kerja agar tidak kecewa seperti banyak pengunjung lain yang datang di akhir pekan.

Gabungkan kunjungan ini dengan Taman Renungan Bung Karno yang lokasinya tidak jauh, agar perjalanan sejarah yang ditelusuri terasa lebih lengkap dari awal hingga akhir masa pengasingan Bung Karno di Ende.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.