mengenang toko buku gunung agung jejak panjang dalam sejarah literasi indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenang Toko Buku Gunung Agung, Jejak Panjang dalam Sejarah Literasi Indonesia

Mengenang Toko Buku Gunung Agung, Jejak Panjang dalam Sejarah Literasi Indonesia
images info

Salah satu gerai Toko Buku Gunung Agung ditahun 1954 (Sumber: Wikipedia)


Ada masanya ketika kita mencari buku tidak semudah sekarang. Sebelum buku dapat ditemukan dengan mudah melalui berbagai platform digital, toko buku menjadi salah satu tempat utama bagi masyarakat untuk mencari buku untuk mendapatkan informasi dan bahan bacaan. Salah satu nama yang begitu dikenal dalam perjalanan tersebut adalah Toko Buku Gunung Agung.

Toko Buku Gunung Agung merupakan salah satu toko buku asal Indonesia yang telah beroperasi selama 70 tahun. Selama puluhan tahun, Gunung Agung tidak hanya dikenal sebagai tempat untuk membeli buku, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan literasi masyarakat Indonesia.

Namun, perjalanan panjang tersebut akhirnya berakhir pada tahun 2023, ketika Gunung Agung memutuskan untuk menghentikan operasionalnya dan menutup seluruh gerainya secara permanen.

Kini, beberapa tahun setelah penutupannya, Gunung Agung dapat dikenang sebagai salah satu toko buku legendaris yang pernah memiliki peran penting dalam sejarah perbukuan Indonesia.

Jika kita mengkilas balik di awal pembukaan usaha, Gunung Agung sempat begitu berjaya menjadi toko buku yang paling diandalkan saat itu bagi para pencinta literatur untuk mencari informasi dan juga membeli buku bacaan. Gunung Agung juga terkenal menerbitkan buku-buku karya tokoh terkenal Indonesia seperti Soekarno, serta autobiografi lainnya.

baca juga

Masa jaya Gunung Agung sendiri terjadi setelah masa kemerdekaan. Pada saat itu, permintaan terhadap buku melonjak tajam. Produksi dan pemasaran buku yang dilakukan Gunung Agung berjalan pesat hingga perusahaan mampu meraup keuntungan yang besar, bahkan layaknya telah memonopoli pasar pada masa tersebut. Bahkan pada 1965 cabang Toko Gunung Agung sempat dibuka pula di Tokyo.

Keuntungan Gunung Agung bahkan sempat disandingkan dengan keuntungan dari penjualan rokok yang dinilai lebih tinggi. Hal tersebut kemudian membuat CEO Gunung Agung menutup usaha rokoknya untuk memfokuskan diri pada usaha buku.

Keputusan tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan Gunung Agung hingga akhirnya dikenal luas sebagai salah satu nama besar dalam dunia perbukuan Indonesia.

Selama bertahun-tahun, Gunung Agung terus bertahan di tengah perubahan zaman. Kehadirannya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang membutuhkan buku sebagai sumber pengetahuan maupun bacaan.

Bagi sebagian orang, toko buku bukan hanya tempat untuk melakukan transaksi. Namun, juga menjadi tempat untuk melihat-lihat koleksi buku, mencari bacaan yang diinginkan, hingga menemukan buku yang sebelumnya tidak pernah mereka kenal.

Namun, perkembangan zaman perlahan membawa perubahan terhadap industri buku. Semakin banyak perusahaan yang bergerak di bidang yang sama, sementara kebiasaan masyarakat dalam mendapatkan informasi juga berubah.

Kehadiran teknologi digital membuat buku dan berbagai informasi dapat diakses dengan lebih mudah melalui telepon genggam. Persaingan tersebut menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi Gunung Agung.

Pandemi COVID-19 kemudian semakin memperberat kondisi tersebut. Pada 2020, Toko Buku Gunung Agung telah melakukan efisiensi dengan menutup sejumlah toko atau outlet yang tersebar di beberapa kota, seperti di Surabaya, Semarang, Gresik, Magelang, Bogor, Bekasi, dan Jakarta.

Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya efisiensi dan efektivitas usaha untuk menjaga kelangsungan perusahaan serta mengatasi kerugian usaha.

Namun, persoalan yang dihadapi Gunung Agung sebenarnya bukan hanya akibat pandemi. Perusahaan menyebut bahwa upaya efisiensi dan efektivitas usaha telah dilakukan sejak 2013 untuk berjuang menjaga kelangsungan usaha dan mengatasi kerugian usaha.

Pada akhirnya, Gunung Agung tidak mampu bertahan dari kerugian operasional yang besar hingga seluruh gerainya harus ditutup pada 2023.

Penutupan tersebut turut menarik perhatian dari pegiat literasi Wien Muldian, yang menyayangkan berakhirnya perjalanan toko buku tersebut. Mengutip dari BBC (2023), Wien menyebut bahwa Toko Buku Gunung Agung telah memberikan kontribusi besar bagi dunia literatur Indonesia sejak era pasca kemerdekaan. Menurutnya, perubahan perilaku konsumen di era digital juga menjadi salah satu hal yang membuat Gunung Agung mengalami kemunduran usaha.

baca juga

Gerai terakhir Gunung Agung yang berada di Kwitang kemudian menjadi penutup dari perjalanan panjang toko buku tersebut. Kwitang sendiri memiliki arti penting karena menjadi lokasi toko pertama sekaligus salah satu gerai terakhir yang dimiliki Gunung Agung.

Gerai Toko Gunung Agung di Jl. Kwitang No. 6, Jakarta (Sumber: Wikipedia)
info gambar

Gerai Toko Gunung Agung di Jl. Kwitang No. 6, Jakarta (Sumber: Wikipedia)


Kini, pada 2026, Toko Buku Gunung Agung memang sudah tidak lagi membuka gerainya. Namun, tutupnya toko tersebut bukan berarti seluruh kisahnya ikut berakhir.

Nama Gunung Agung tetap menjadi bagian dari sejarah perkembangan buku dan literasi di Indonesia, terutama bagi generasi yang pernah mengenalnya dan merasakan suasana toko buku tersebut.

Perjalanan Gunung Agung dari masa kejayaan setelah kemerdekaan hingga akhirnya menutup seluruh gerai menjadi gambaran bagaimana dunia perbukuan terus mengalami perubahan.

Dari toko buku yang pernah begitu berjaya hingga menghadapi persaingan, perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi digital, dan dampak pandemi, perjalanan Gunung Agung meninggalkan cerita tersendiri.

Gunung Agung mungkin telah menutup pintunya pada 2023, tetapi hampir 70 tahun perjalanannya tidak hilang begitu saja. Ia pernah menjadi tempat orang mencari buku, menemukan pengetahuan, dan mengenal berbagai karya.

Karena itu, beberapa tahun setelah kepergiannya, Gunung Agung bukan hanya layak dikenang sebagai sebuah toko buku yang tutup, tetapi sebagai salah satu bagian dari perjalanan panjang literasi Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CH
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.