Air menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari minum, mandi, mencuci, hingga berbagai aktivitas rumah tangga, semuanya membutuhkan air. Namun, penggunaan air dalam kegiatan domestik juga menghasilkan air buangan yang apabila tidak dikelola dengan baik dapat berdampak terhadap lingkungan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang diperkenalkan kepada 30 siswa kelas VI SDN 3 Babakan, Desa Cibentang, melalui kegiatan edukasi dan praktik filtrasi grey water sederhana pada Kamis, 23 Juli 2026.
Kegiatan yang melibatkan 12 anggota KKM Kelompok 2 Desa Cibentang ini mengangkat tema “Implementasi Pembuatan Filter Grey Water Sederhana untuk Penguatan Literasi Ekologi Siswa Sekolah Dasar dalam Mendukung SDGs 6.”

Kegiatan tersebut berangkat dari kondisi masyarakat Desa Cibentang yang pada periode musim kemarau menghadapi penurunan ketersediaan air. Meskipun kondisi tersebut belum dapat dikategorikan sebagai kekeringan, situasi ini menjadi pengingat bahwa pemanfaatan air secara bijaksana perlu dikenalkan sejak dini.
Selain membahas ketersediaan air, siswa diajak mengenal grey water, yaitu air buangan yang berasal dari aktivitas rumah tangga seperti mencuci, mandi, dan kegiatan dapur, tetapi tidak berasal dari toilet.
“Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mengetahui bahwa air merupakan sumber daya yang penting, tetapi juga memahami bahwa air yang sudah digunakan masih perlu dikelola agar tidak memberikan dampak buruk terhadap lingkungan,” ujar tim pelaksana kegiatan.
Kegiatan berlangsung selama kurang lebih dua jam, mulai pukul 10.00 hingga 12.00 WIB. Sebelum mendapatkan materi, siswa terlebih dahulu mengerjakan pretest yang terdiri atas 15 soal untuk mengetahui pemahaman awal mereka mengenai air, grey water, dan proses filtrasi.
Suasana pembelajaran kemudian dibuat lebih interaktif melalui permainan singkat dan pertanyaan pemantik mengenai penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari. Siswa diajak membedakan air bersih dan air kotor, mengenali sumber grey water, serta memahami dampak pembuangan air limbah rumah tangga secara langsung ke lingkungan.

Materi tersebut kemudian dikaitkan dengan literasi ekologi. Siswa diajak memahami bahwa aktivitas manusia memiliki hubungan dengan kondisi lingkungan, termasuk dalam penggunaan dan pengelolaan sumber daya air.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan filter grey water sederhana. Tim memperkenalkan alat dan bahan yang digunakan serta menjelaskan fungsi masing-masing media penyaring.
Dalam demonstrasi tersebut, media filter disusun secara berlapis menggunakan beberapa bahan sederhana, di antaranya busa, dakron, tisu, arang, ijuk, sabut kelapa, dan kerikil.
Siswa mengamati secara langsung bagaimana air buangan dialirkan melalui susunan media tersebut. Mereka kemudian membandingkan kondisi air sebelum dan sesudah proses filtrasi berdasarkan perubahan yang dapat diamati, seperti warna dan tingkat kekeruhan.

Tidak berhenti pada demonstrasi, siswa juga diberi kesempatan melakukan praktik secara berkelompok. Setiap kelompok mendapatkan alat dan bahan untuk menyusun filter berdasarkan contoh yang telah diberikan.
Selama praktik berlangsung, siswa mengisi lembar kerja peserta didik (LKPD) dengan mencatat bahan yang digunakan serta hasil pengamatan sebelum dan sesudah penyaringan. Setelah selesai, setiap kelompok menyusun kesimpulan dan mempresentasikan hasil pengamatannya di depan kelas.
Kegiatan ini membuat proses belajar lingkungan menjadi lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa. Mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui penjelasan, tetapi juga belajar mengamati, mencatat, menyimpulkan, dan menyampaikan hasil pengamatan.
Praktik sederhana tersebut juga menjadi salah satu cara mengenalkan prinsip pengelolaan air yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-6, yaitu menjamin ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, siswa diperkenalkan bahwa menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar. Mengenali penggunaan air, memahami air buangan rumah tangga, dan mengetahui cara sederhana untuk mengelolanya dapat menjadi langkah awal dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Kegiatan edukasi filtrasi grey water di SDN 3 Babakan pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang proses penyaringan air. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk belajar bahwa keberlanjutan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama dan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di sekitar mereka.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


