Bagi masyarakat Desa Wonoketingal, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, pertanian menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Padi dan bawang merah menjadi komoditas yang banyak dibudidayakan masyarakat. Namun, di balik aktivitas bertani yang telah menjadi sumber penghidupan, para petani juga menghadapi berbagai tantangan yang dapat memengaruhi kegiatan budidaya dan hasil panen.
Perubahan cuaca yang sulit diprediksi, serangan hama dan penyakit tanaman, hingga kondisi lingkungan menjadi sejumlah persoalan yang dihadapi petani. Salah satu kejadian yang masih menjadi perhatian adalah banjir yang melanda Desa Wonoketingal pada Maret 2024. Curah hujan tinggi menyebabkan lahan pertanian tergenang dalam waktu cukup lama sehingga berdampak pada aktivitas budidaya, termasuk keterlambatan tanam, kerusakan tanaman, hingga potensi kerugian bagi petani.
Berangkat dari kondisi tersebut, Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University Desa Wonoketingal menghadirkan program Glagah Bertani. Program ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas masyarakat melalui penyuluhan pertanian yang disesuaikan dengan kebutuhan petani.
Namun, Glagah Bertani tidak dimulai dengan penyampaian materi secara langsung. Tim KKNT terlebih dahulu turun ke masyarakat untuk mendengarkan berbagai persoalan yang dihadapi petani. Proses identifikasi dilakukan melalui observasi lapangan, wawancara langsung, dan pendataan mengenai kondisi pertanian di Desa Wonoketingal.
Hasil identifikasi tersebut kemudian menjadi dasar dalam menentukan materi penyuluhan. Pada komoditas padi, petani menghadapi serangan wereng, walang sangit, dan tikus. Sementara itu, petani bawang merah menghadapi serangan hama trips dan penyakit embun bulu yang dapat muncul ketika kondisi cuaca lembab. Selain persoalan hama dan penyakit, perubahan cuaca yang sulit diprediksi, tingginya biaya produksi, serta keterbatasan informasi mengenai teknik budidaya dan pengendalian hama yang tepat juga menjadi tantangan bagi petani.
Setelah melalui proses tersebut, kegiatan Glagah Bertani dilaksanakan pada Jumat, 24 Juli 2026 di Balai Desa Wonoketingal. Kegiatan ini menyasar petani padi dan bawang merah, kelompok tani, penyuluh pertanian, pemerintah desa, serta masyarakat yang memiliki keterkaitan dengan sektor pertanian.
Berlangsung secara hybrid, peserta mengikuti kegiatan secara langsung di Balai Desa Wonoketingal, sementara narasumber menyampaikan materi melalui Zoom Meeting. Kegiatan menghadirkan Prof. Dr. Ir. Dwi Andreas Santosa, M.S., Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB University, serta Dr. Ir. Chendy Tafakresnanto, M.P., Peneliti Ahli Madya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Dalam penyuluhan tersebut, peserta memperoleh pengetahuan mengenai peningkatan produktivitas pertanian, pengelolaan lahan secara berkelanjutan, penggunaan benih unggul, serta pengendalian hama dan penyakit tanaman. Materi yang disampaikan tidak berdiri sendiri, tetapi telah disesuaikan dengan berbagai permasalahan yang sebelumnya ditemukan melalui proses identifikasi.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi. Para petani memperoleh kesempatan untuk menyampaikan pengalaman dan kendala yang mereka hadapi dalam kegiatan budidaya. Persoalan seperti pengendalian hama, pemupukan, pengelolaan lahan, hingga strategi menghadapi perubahan iklim menjadi bagian dari pembahasan. Ruang diskusi tersebut mempertemukan pengalaman masyarakat di lapangan dengan pengetahuan dari akademisi dan peneliti.
Dukungan terhadap pertanian Desa Wonoketingal juga diberikan melalui penyerahan benih padi unggul IPB 9G secara simbolis kepada Pemerintah Desa Wonoketingal. Benih tersebut diharapkan dapat mendukung pengembangan pertanian masyarakat. Selain itu, petani memperoleh akses panduan teknik budidaya melalui kode QR yang dapat digunakan sebagai referensi dalam penerapan budidaya di lapangan.
Lebih dari sekadar penyuluhan, Glagah Bertani menunjukkan bahwa upaya membantu masyarakat dapat dimulai dengan mendengarkan kebutuhan mereka. Permasalahan yang ditemukan petani menjadi dasar penyusunan materi, sementara diskusi memberikan ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pengalaman dan mencari pemahaman yang lebih sesuai dengan kondisi di lapangan.
Program ini juga mempertemukan berbagai pihak, mulai dari mahasiswa, petani, pemerintah desa, perguruan tinggi, hingga lembaga penelitian. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat dan menjadi bagian dari upaya pengembangan pertanian Desa Wonoketingal yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, menghadapi tantangan pertanian tidak hanya membutuhkan lahan dan tenaga, tetapi juga pengetahuan, informasi, serta kolaborasi. Melalui Glagah Bertani, Tim KKNT IPB University berupaya menjadikan suara dan kebutuhan petani sebagai titik awal untuk menghadirkan pengetahuan serta dukungan yang lebih relevan.
Dari proses mendengarkan hingga berkolaborasi, Glagah Bertani menjadi salah satu langkah kecil untuk mendukung petani Wonoketingal dalam menghadapi berbagai tantangan pertanian dan menjaga keberlanjutan sektor yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat desa.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


