luti gendang sepotong roti dari tarempa yang diam diam menyimpan cerita pertemuan melayu dan tionghoa - News | Good News From Indonesia 2026

Luti Gendang: Sepotong Roti dari Tarempa yang Diam-Diam Menyimpan Cerita Pertemuan Melayu dan Tionghoa

Luti Gendang: Sepotong Roti dari Tarempa yang Diam-Diam Menyimpan Cerita Pertemuan Melayu dan Tionghoa
images info

Luti Gendang: Sepotong Roti dari Tarempa yang Diam-Diam Menyimpan Cerita Pertemuan Melayu dan Tionghoa | Foto: unsplash


Ada makanan yang namanya terdengar seperti alat musik. Namun, ketika dibelah, yang ditemukan bukan gendang, melainkan roti goreng berisi suwiran ikan berbumbu. Namanya luti gendang.

Di Tarempa, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau, makanan ini bukan sekadar teman minum kopi. Ia menyimpan cerita yang lebih menarik: tentang bagaimana sebuah makanan dapat merekam pertemuan bahasa, budaya, dan kehidupan masyarakat pesisir dalam satu nama yang terdengar sederhana.

Sebab “luti gendang” ternyata bukan sekadar nama makanan. Ia adalah potongan kecil dari sejarah sosial Kepulauan Riau.

Bukan Gendang, Melainkan Roti yang Digoreng

Luti gendang memiliki bentuk lonjong dengan bagian luar yang renyah dan bagian dalam yang lembut. Di tengahnya terdapat isian gurih, yang umumnya berupa abon atau suwiran ikan berbumbu.

RRI Tanjungpinang menyebut luti gendang sebagai roti goreng khas Kepulauan Riau yang populer di Anambas dan Batam. Makanan ini biasanya berisi abon ikan tongkol dengan bumbu pedas manis dan kerap disantap ketika sarapan atau menjadi teman minum kopi.

baca juga

“Luti” yang Menyimpan Jejak Perjumpaan

Bayangkan sebuah kawasan pelabuhan pada masa lalu. Orang datang dan pergi. Pedagang membawa barang. Nelayan berangkat melaut. Kedai kopi menjadi tempat orang bertemu. Bahasa pun ikut bergerak.

Di wilayah pesisir seperti Kepulauan Riau, pertemuan masyarakat Melayu dengan komunitas Tionghoa bukan sesuatu yang baru. Interaksi semacam itu berlangsung dalam kehidupan perdagangan dan keseharian masyarakat.

Luti gendang memberikan contoh kecil bagaimana perjumpaan tersebut bisa masuk ke dalam sesuatu yang sangat dekat dengan manusia: makanan dan bahasa. Kata “roti” yang dilafalkan menjadi “luti” bukan sekadar perubahan bunyi.

Ia menunjukkan bagaimana sebuah kata asing dapat diterima, disesuaikan dengan lidah lokal, lalu akhirnya menjadi bagian dari kosakata yang terasa biasa bagi masyarakat setempat. Dengan kata lain, kita tidak hanya sedang melihat resep. Kita sedang melihat bahasa yang sedang memasak sejarahnya sendiri.

Dari Tarempa, Roti Ini Tidak Tinggal di Pulau Asalnya

Luti gendang berasal dari Tarempa, tetapi popularitasnya kemudian bergerak keluar dari Anambas.

ANTARA News Kepulauan Riau mencatat bahwa luti gendang dan mi Tarempa telah ditemukan di berbagai daerah, termasuk Jakarta dan Bandung. Di Tanjungpinang dan Batam, usaha makanan tersebut juga digeluti oleh pengusaha asal Tarempa. Perpindahan ini sebenarnya tidak terlalu mengejutkan.

Kuliner masyarakat kepulauan memang memiliki karakter yang menarik: ia mudah ikut bepergian bersama manusia. Seorang perantau membawa makanan dari kampung halaman. Pedagang menjualnya di tempat baru.

Orang yang mencicipinya kemudian mengenal rasa tersebut. Lama-kelamaan, makanan yang semula hanya dikenal di satu daerah mulai memiliki kehidupan kedua di tempat lain. Itulah yang terjadi pada luti gendang. Dari Tarempa, ia menemukan ruang di kedai-kedai kopi Batam, Tanjungpinang, hingga menjadi oleh-oleh yang dibawa pulang.

Mengapa Ikan Tongkol Masuk ke Dalam Roti?

Ada alasan yang terasa sangat masuk akal jika melihat kehidupan masyarakat Anambas. Laut. Kabupaten Kepulauan Anambas berada di wilayah kepulauan yang kehidupan masyarakatnya tidak bisa dipisahkan dari hasil laut. Karena itu, penggunaan ikan sebagai bagian dari makanan sehari-hari bukan sesuatu yang aneh.

Luti gendang kemudian mempertemukan dua karakter makanan yang sekilas seperti berasal dari dunia berbeda. Di satu sisi ada roti. Di sisi lain ada ikan berbumbu. Hasil akhirnya bukan roti manis seperti yang mungkin langsung kita bayangkan ketika mendengar kata “roti”. Ia justru gurih, berbumbu, sedikit pedas, dan cocok menjadi makanan pagi.

Liputan6 juga mencatat luti gendang sebagai salah satu roti khas Anambas yang menggunakan isian berbahan ikan dan bumbu, serta menempatkannya sebagai salah satu makanan khas daerah tersebut. Di sinilah kecerdikan kuliner masyarakat pesisir terlihat. Bahan yang tersedia di lingkungan sekitar tidak harus dipaksa mengikuti bentuk makanan dari luar.

Sebaliknya, makanan tersebut diubah agar cocok dengan kehidupan lokal. Roti mendapat isi ikan. Makanan sederhana menjadi mengenyangkan. Dan akhirnya lahirlah sesuatu yang tidak lagi terasa asing maupun sepenuhnya sama dengan makanan asalnya.

Luti Gendang Adalah Cerita Tentang Adaptasi

Sering kali kita membicarakan akulturasi budaya melalui bangunan tua, pakaian, bahasa, atau kesenian. Padahal, makanan mungkin merupakan salah satu bukti paling mudah untuk melihatnya. Karena makanan tidak membutuhkan prasasti.

Ia hanya membutuhkan orang yang memasak dan orang yang bersedia mencicipi. Luti gendang memperlihatkan bagaimana unsur yang berbeda dapat bertemu tanpa harus menghilangkan identitas masing-masing. Ada jejak bahasa Tionghoa dalam “luti”.

Ada tradisi kuliner Melayu dalam penggunaan ikan dan rempah. Ada kehidupan pesisir dalam bahan yang dipilih. Ada budaya kedai kopi dalam cara makanan itu dinikmati. Dan ada mobilitas masyarakat dalam perjalanan luti gendang dari Tarempa menuju kota-kota lain. Satu makanan, banyak lapisan cerita.

Dari Teman Kopi Menjadi Identitas Daerah

Hari ini, luti gendang tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Anambas. RRI pada 2026 mencatat bahwa makanan ini tetap populer di Batam dan Anambas, sementara bentuknya juga mulai dikembangkan sebagai oleh-oleh, termasuk dalam bentuk beku yang lebih mudah dibawa.

Perubahan bentuk tersebut memperlihatkan bahwa tradisi kuliner tidak harus berhenti pada resep lama agar tetap disebut tradisi. Justru, makanan bisa bertahan karena mampu mengikuti kebutuhan zaman. Dulu mungkin ia cukup dibawa pulang dari kedai. Kini ia dapat dikemas agar perjalanan antarpulau menjadi lebih mudah.

Dulu ia menjadi teman sarapan. Kini ia juga menjadi oleh-oleh. Yang berubah adalah cara membawanya. Bukan identitas yang melekat di dalamnya.

Yang Kita Makan Ternyata Bisa Menyimpan Sejarah

Ada alasan mengapa cerita luti gendang menarik untuk dibicarakan. Ia mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu bersembunyi di museum. Kadang sejarah berada di dalam kantong kertas kecil. Kadang ia tersaji di meja kedai kopi. Kadang ia berbentuk roti lonjong yang baru saja diangkat dari minyak panas. Dan ketika kita menggigitnya, yang terasa bukan hanya ikan tongkol, cabai, atau rempah.

Ada perjalanan manusia di sana. Ada pertemuan bahasa. Ada perdagangan. Ada kehidupan pesisir. Ada kebiasaan sarapan. Ada perantauan. Dan ada sebuah daerah bernama Tarempa yang berhasil menitipkan ceritanya melalui makanan.

Mungkin itulah alasan makanan tradisional layak dipandang lebih dari sekadar “kuliner khas daerah”. Sebab resep bisa diwariskan, tetapi cerita di balik resep itulah yang membuat sebuah makanan memiliki ingatan.

baca juga

Kalau Suatu Hari Kamu Menemukan Luti Gendang

Jangan buru-buru melihatnya hanya sebagai roti goreng dari Kepulauan Riau. Lihatlah namanya. Rasakan isiannya.

Bayangkan laut yang menghubungkan pulau-pulau Anambas dengan dunia di luarnya. Karena boleh jadi, sepotong luti gendang bukan hanya sedang mengenyangkan perut—ia sedang membawa sepotong Tarempa agar tidak benar-benar jauh dari rumah.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.