Bagi sebagian siswa, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi mungkin terasa seperti cita-cita yang masih jauh. Pertimbangan mengenai biaya pendidikan dan kondisi lingkungan turut muncul dalam percakapan mahasiswa KKN-T IPB bersama para siswa.
Hal tersebut menjadi perhatian pihak sekolah yang berharap para siswa memiliki kesempatan lebih luas untuk melanjutkan pendidikan setelah menyelesaikan sekolah menengah.
“Bisa bantu kasih motivasi belajar buat anak-anak (siswa SMP) nggak ya, Mas, Mbak? Saya ingin mereka bisa lanjut kuliah. Katanya sekarang ada kampus yang gratis,” ujar Dani, Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMP Negeri 4 Bumijawa, Senin (27/7/2026).
Berangkat dari keresahan tersebut, mahasiswa KKN-T IPB University menghadirkan kegiatan “Mimpi Besar dari Anak Desa” pada Selasa (4/8/2026). Kegiatan yang berlangsung selama 120 menit ini dijalankan di aula SMP Negeri 4 Bumijawa ini, diikuti 162 siswa kelas VII hingga IX.
Membuka Percakapan tentang Masa Depan
“Kalau kalian sudah besar mau jadi apa?”
Pertanyaan sederhana itu menjadi pembuka kegiatan yang disampaikan Mochamad Azril Vadila, Koordinator Desa KKN-T IPB University di Sokatengah.
Beragam jawaban muncul dari para siswa. Ada yang bercita-cita menjadi pengusaha, profesor, atlet sepak bola, hingga profesi lainnya.
Jawaban tersebut menjadi pintu masuk bagi mahasiswa KKN-T IPB untuk mengajak siswa berbicara lebih jauh tentang masa depan. Cita-cita, menurut mereka, tidak cukup hanya dibayangkan. Ada proses belajar, ketekunan, dan keberanian untuk terus mencoba yang perlu dibangun sejak sekarang.
Materi yang diberikan juga mengaitkan pendidikan dengan berbagai peluang yang dapat dipersiapkan siswa untuk masa depan.
“Tapi semua mimpi kalian nggak cukup cuma dari belajar saja. Harus ada tekad, karena kalau malas, sama saja mimpimu berhenti di situ,” ujar Azril.
Ketika Desa Dipandang sebagai Batas
Percakapan kemudian berlanjut pada kesempatan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Di sesi ini, sejumlah siswa mulai mengungkapkan pandangan mereka mengenai kuliah.
Amel, siswi kelas IX, mengungkapkan keraguannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
“Minder, Kak. Kami dari desa,” celetuknya.
Di sisi lain, Adela, siswi kelas VII, menyampaikan keinginan untuk tetap melanjutkan pendidikan.
“Mau lanjut, Kak!” katanya.
Dua respons tersebut membuka percakapan mengenai berbagai pertimbangan yang dapat muncul ketika siswa membayangkan pendidikan setelah sekolah menengah, termasuk kondisi ekonomi dan latar belakang tempat tinggal.

Siswa SMP Negeri 4 Bumijawa menuliskan cita-cita dan gambaran masa depan dalam kegiatan “Mimpi Besar dari Anak Desa” bersama mahasiswa KKN-T IPB University | Foto: Dokumentasi Pribadi.
Mahasiswa kemudian memperkenalkan beasiswa sebagai salah satu peluang yang dapat dicari siswa untuk membantu pembiayaan pendidikan tinggi.
“Kalau kalian pintar, nggak perlu pusing mikir biaya kuliah. Banyak kampus yang buka beasiswa dan kalian bisa dapat uang saku dari beasiswanya,” jelas Azril.
Pesan tersebut kembali menghubungkan kebiasaan belajar dengan peluang yang dapat ditemui siswa pada masa mendatang. Bagi mereka, belajar bukan hanya tentang nilai di sekolah, tetapi juga salah satu bentuk persiapan untuk membuka kesempatan yang lebih luas.
Menuliskan Cita-Cita dan Berani Membacakannya
Menjelang akhir kegiatan, para siswa diminta menuliskan cita-cita dan gambaran mengenai kehidupan yang ingin mereka capai di masa depan. Lima siswa kemudian maju ke depan aula untuk membacakan hasil tulisan mereka di hadapan teman-temannya.
Cita-cita yang disampaikan pun beragam. Ada yang ingin menjadi pengusaha, CEO di Korea, peneliti di NASA, hingga menjadi presiden. Salah satunya adalah Revani, siswa kelas VIII yang bercita-cita menjadi peneliti di NASA.

Revani, siswa kelas VIII SMP Negeri 4 Sokatengah, membacakan cita-citanya untuk menjadi peneliti di NASA di hadapan teman-temannya | Foto: Dokumentasi Pribadi.
“Perkenalkan saya Revani. Di masa depan nanti ingin bekerja jadi peneliti di NASA dan punya gaji Rp300 juta per bulan,” ujarnya saat membacakan cita-citanya di hadapan teman-temannya.
Bagi siswa, aktivitas tersebut menjadi kesempatan untuk tidak hanya menuliskan profesi yang mereka inginkan, tetapi juga mengucapkan cita-cita tersebut di hadapan orang lain.
Bagi mahasiswa KKN-T IPB, keberanian untuk membayangkan masa depan merupakan langkah awal yang tidak kalah penting. Setelah memiliki tujuan, siswa dapat mulai mengenali proses dan kesempatan yang dapat ditempuh untuk mencapainya.
“Jadi, walaupun kalian dari desa, jangan minder, jangan putus sekolah. Terus belajar, mau di mana pun dan kapan pun,” tutur Azril saat menutup kegiatan.

Siswa SMP Negeri 4 Sokatengah bersama mahasiswa KKN-T IPB seusai mengikuti kegiatan motivasi pendidikan di Desa Sokatengah, Kabupaten Tegal | Foto: Dokumentasi Pribadi.
Kegiatan “Mimpi Besar dari Anak Desa” memang berlangsung dalam satu hari. Namun, percakapan tentang masa depan yang dimulai di aula SMP Negeri 4 Bumijawa diharapkan dapat terus berlanjut dalam keseharian para siswa.
Dari Sokatengah, cita-cita untuk melanjutkan pendidikan tinggi tidak harus berhenti karena seseorang lahir dan tumbuh di desa. Sebab, tempat seseorang tumbuh bukanlah ukuran sejauh mana ia dapat melangkah.
Bagi para siswa, langkah itu mungkin dimulai dari hal sederhana: berani bermimpi, lalu mulai belajar untuk mewujudkannya dari langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


