kopi tombo kembali dikembangkan warga jaga warisan kebun kopi dan hutan - News | Good News From Indonesia 2026

Kopi Tombo Kembali Dikembangkan, Warga Jaga Warisan Kebun Kopi dan Hutan

Kopi Tombo Kembali Dikembangkan, Warga Jaga Warisan Kebun Kopi dan Hutan
images info

Kopi Tombo


Di lereng pegunungan Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Desa Tombo, Kecamatan Bandar, menyimpan sejarah panjang perkebunan kopi. Komoditas ini telah dikenal masyarakat sejak masa kolonial Belanda pada sekitar 1800-an. Perkebunan kopi yang dibangun pada masa itu menjadi bagian dari perkembangan kawasan sekaligus meninggalkan jejak sejarah yang hingga kini masih dapat ditemukan.

Penasehat pengembangan Desa Tombo sekaligus Dosen PSDKU Universitas Diponegoro (Undip) Batang, Retno Dwi Irianto, mengatakan sejarah tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan identitas kopi Tombo saat ini.

“Tombo termasuk desa yang tua. Desa tersebut telah ada sejak abad 19 yaitu sekitar tahun 1800-an, dan dibangun kawasan perkebunan kopi oleh pemerintahan kolonial pada masa itu,” katanya.

Menurut Retno, sebagian peninggalan sejarah perkebunan tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang. Karena itu, pengembangan kopi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan nilai ekonomi, tetapi juga mempertahankan pengetahuan dan sejarah yang melekat pada desa.

Dari Kopi, Beralih, Lalu Kembali

Kopi Tombo sempat mengalami masa kejayaan dan dipasarkan hingga pasar internasional. Namun, perkembangan komoditas perkebunan membuat posisi kopi perlahan berubah. Ketika kawasan perkebunan dikelola PTPN, sebagian lahan pernah dialihkan menjadi perkebunan teh.

Dalam satu dekade terakhir, masyarakat kembali mengembangkan kopi sebagai komoditas utama. Kepala Desa Tombo Mustajab mengatakan kopi masih memiliki peran besar bagi kehidupan ekonomi warga.

“Potensi terbesar Desa Tombo ada pada alam dan kopi. Hampir 80 persen masyarakat merupakan petani kopi, sehingga komoditas ini menjadi tulang punggung perekonomian warga,” katanya.

Kopi yang ditanam masyarakat terdiri atas beberapa jenis, antara lain robusta, arabika, dan excelsa. Di Kopi Kedawung, salah satu kedai kopi di kawasan hutan pinus Desa Tombo, seluruh biji yang digunakan berasal dari perkebunan masyarakat setempat.

“Di sini semua menggunakan kopi lokal, mulai dari robusta, arabika, hingga excelsa. Semuanya merupakan kopi asli Tombo,” kata pegawai Kopi Kedawung, Mujahidin, dikutip dari laman resmi Pemkab Batang, Rabu (15/7/2026).

Kehadiran kedai kopi di kawasan tersebut turut mempertemukan sektor pertanian dengan pariwisata. Pengunjung dapat menikmati kopi lokal sambil melihat kawasan pegunungan dan hutan pinus. Pada akhir pekan, kedai biasanya lebih ramai dikunjungi wisatawan dari Batang dan daerah sekitar.

Budidaya Kopi dan DAS Lestari

Pengembangan kopi Tombo kini juga diarahkan agar berjalan bersama upaya menjaga lingkungan. Salah satunya melalui Bimbingan Teknis Budidaya Kopi Arabika bagi petani Desa Tombo di Pondok Sidawung, Rabu (12/8/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program DAS Lestari yang mendorong penguatan ekonomi masyarakat sekaligus pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan. Petani mendapatkan pengetahuan mengenai penanaman, pengelolaan tanaman, serta pengendalian hama dan penyakit.

Peserta kegiatan, Tarmujo, mengatakan pelatihan memberikan pengetahuan yang dapat langsung diterapkan di kebun.

“Pelatihan tersebut juga memberikan pemahaman yang lebih jelas mengenai tahapan budidaya kopi. Untuk pelatihan hari ini, mulai dari penanaman sampai dengan pengetahuan dan penanganan hama dan penyakitnya sudah cukup jelas. Ke depan akan saya terapkan dan saya pahami dalam pengelolaan tanaman kopi,” ujarnya.

Sebanyak 5.400 bibit kopi Arabika disiapkan untuk mendukung penanaman di lahan petani. Berdasarkan survei terhadap 27 bidang tanah, bibit tersebut direncanakan disalurkan kepada 13 petani menjelang musim hujan.

Program ini melibatkan Pemerintah Desa Tombo, Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IV Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Jawa Tengah, serta PT Bhimasena Power Indonesia (BPI).

General Manager Stakeholder Relation PT BPI Aryamir H. Sulasmoro mengatakan dukungan kepada petani perlu mencakup peningkatan kapasitas, bukan hanya penyediaan bibit.

“Dukungan terhadap masyarakat tidak hanya berupa penyediaan bibit, tetapi juga bagaimana pengetahuan dan kemampuan petani dapat terus berkembang,” ujarnya.

Kopi sebagai Identitas Desa

Upaya menguatkan kopi Tombo juga dilakukan melalui branding. Tim KKN Tematik Iptek Desa Binaan Universitas Diponegoro bersama Pemerintah Desa Tombo membangun tagline “The Legendary Coffee of Java” untuk memperkenalkan kopi khas Tombo sekaligus meningkatkan mutunya.

Mustajab berharap identitas tersebut dapat mendorong generasi muda mengenali potensi pertanian di daerahnya.

“Tombo sudah ditetapkan menjadi desa wisata berbasis konservasi lingkungan sejak tahun 2022 oleh Pemda, jadi sangat berkesinambungan,” katanya.

Desa Tombo memiliki kawasan hutan, sungai, serta sejumlah curug selain perkebunan kopi. Pemerintah desa memilih mengembangkan wisata secara bertahap dengan tetap mempertahankan fungsi lingkungan.

“Kami ingin ekonomi tumbuh tanpa merusak alam. Karena itu, sampai saat ini kami masih selektif terhadap investasi dari luar agar pengembangan kawasan tetap berpihak kepada masyarakat dan tidak menimbulkan eksploitasi lingkungan,” jelas Mustajab.

Ke depan, pengembangan kopi diarahkan dari hulu hingga hilir, mulai pembibitan, budidaya, pengolahan, hingga pemasaran. Desa juga menyiapkan rencana pembangunan greenhouse, rumah produksi, serta produk kopi celup yang melibatkan kelompok masyarakat.

“Kami ingin mengembalikan kejayaan kopi Tombo. Seluruh kopi yang disajikan di kedai berasal dari hasil panen petani lokal sehingga manfaat ekonominya langsung dirasakan masyarakat,” tegas Mustajab.

Pengembangan kopi kini berkaitan dengan pendapatan petani, pelestarian sejarah, dan pengelolaan lingkungan. Tantangannya adalah memastikan peningkatan produksi dan kunjungan wisata tidak mengubah fungsi kawasan yang selama ini menopang kehidupan masyarakat.

“Tujuan kami bukan mengejar jumlah wisatawan sebanyak-banyaknya, tetapi menjaga agar alam tetap lestari,” ujar Mustajab.

baca juga

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.