bukan sembarang bibit peneliti ugm dan brin sulap siung bawang putih bebas penyakit - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Sembarang Bibit, Peneliti UGM dan BRIN Sulap Siung Bawang Putih Bebas Penyakit

Bukan Sembarang Bibit, Peneliti UGM dan BRIN Sulap Siung Bawang Putih Bebas Penyakit
images info

Foto oleh Shelley Pauls di Unsplash


Upaya meningkatkan produksi bawang putih nasional kerap membentur persoalan mutu benih di tingkat petani.

Selama ini, para petani menggunakan siung umbi secara berulang dari satu musim tanam ke musim berikutnya. Kebiasaan perbanyakan vegetatif ini tanpa disadari menumpuk paparan virus dan patogen penyakit dari generasi ke generasi, sehingga kualitas tanaman terus menurun.

Riset bersama antara Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) mengidentifikasi paparan virus ini pada bibit lokal.

Pengujian virologi mendeteksi kombinasi ganda Onion yellow dwarf virus (OYDV) dan Shallot latent virus (SLV) pada sekitar 80 persen sampel umbi benih maupun tanaman di lima sentra produksi, yakni Enrekang, Magelang, Temanggung, Tawangmangu, dan Yogyakarta.

Gejala serangan virus ini kerap tidak terlihat secara kasat mata di lapangan karena tertutup oleh infeksi jamur. Dampak tersembunyi ini secara perlahan menurunkan kemampuan tumbuh tanaman dan memangkas bobot panen umbi bawang putih.

"Kita memerlukan teknologi eliminasi virus yang efektif, mudah diterapkan, dan terjangkau sehingga dapat dimanfaatkan secara luas oleh produsen benih maupun petani untuk menjaga mutu bahan tanam," kata Kepala Pusat Riset Hortikultura BRIN Dwinita Wikan Utami.

 

Riset Eliminasi Virus dan Alat Pembersih Benih

Menjawab persoalan tersebut, BRIN dan UGM mengembangkan metode eliminasi virus sekaligus merancang prototipe alat pembersih bahan tanam skala laboratorium. Perlakuan ini bertujuan membersihkan siung benih dari paparan virus sebelum ditanam di lahan persawahan.

Riset yang direncanakan berlangsung selama dua tahun ini memvalidasi efektivitas alat dalam membebaskan bibit dari virus, serta menguji dampaknya terhadap peningkatan ketahanan dan produktivitas tanaman di lapangan.

Pengembangan alat ini nantinya akan diproduksi bersama mitra industri agar dapat dipakai langsung oleh para produsen benih lokal di daerah.

"Gejala infeksi virus tidak selalu terlihat jelas pada tanaman. Di lapangan, dampaknya dapat tertutupi oleh penyakit lain, terutama penyakit yang disebabkan jamur," kata Pakar Virologi Tumbuhan Fakultas Pertanian UGM Sedyo Hartono.

Pengembangan teknologi benih sehat ini berjalan sejajar dengan pemuliaan varietas baru. Tim periset menargetkan lahirnya varietas bawang putih berumbi besar dari tipe softneck dan hardneck yang adaptif ditanam di wilayah dataran menengah bertemperatur lebih tinggi.

Program ini juga menyusun standar operasional produksi benih sehat serta basis data plasma nutfah berbasis fenotipe dan genotipe.

Uji coba lapangan disiapkan untuk mendukung kawasan pertanian skala besar, termasuk Kawasan Swasembada Pangan, Air, dan Energi (KSPAE) di Humbang Hasundutan, Sumatra Utara.

Kolaborasi ini turut melibatkan IPB University, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Teknologi Del. Sinergi lintas disiplin ini menjadi langkah menjaga keberlanjutan sistem perbenihan mandiri demi memangkas ketergantungan pasokan impor bawang putih di masa depan.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.