Kepiting Karaka Papua merupakan salah satu hasil perikanan mangrove unggulan sekaligus kekayaan makanan khas Papua dengan kelezatan alami serta kearifan lokal mendalam. Biota dengan nama latin Scylla sp. selain menjadi komoditas unggulan masyarakat pesisir Papua, tapi juga menjadi budaya dan tradisi berburu masyarakat adat di Papua Tengah, khususnya di Kabupaten Mimika.
Bagi Kawan GNFI yang ingin mengenal lebih jauh keanekaragaman kuliner Nusantara, kepiting bakau khas bumi Cenderawasih ini menyajikan keunikan tersendiri. Mulai dari filosofi perburuannya yang sarat penghormatan terhadap alam hingga potensi ekspornya berdaya jual sangat tinggi.
Kawan GNFI tentang apa itu kepiting karaka, cara mengolahnya, hingga nilai komoditas unggulan satu ini? Simak artikelnya berikut ini.
Kepiting Karaka itu apa?

kepiting karaka, karaka, kepiting bakau | Sumber: Wikimedia Commons
Kepiting Karaka sebutan masyarakat lokal Papua untuk kepiting bakau (Scylla sp.) yang hidup di ekosistem mangrove menjadi salah satu komoditas unggulan hasil tangkapan perikanan di wilayah pesisir Indonesia khususnya di Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Keberadaan spesies ini sangat bergantung pada kondisi vegetasi bakau dan hutan mangrove yang masih asri dan terjaga.
Filosofi Kepiting Karaka dan Suku Kamoro
Suku Kamoro adalah suku asli yang mendiami wilayah pesisir selatan Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Bermukim di sekitar rawa bakau hingga muara sungai suku ini sangat bergantung pada hasil alam. Karena bergantung dari alam Suku Kamoro sangat menjaga kelestarian alam hingga menjaga sistem perburuan hewan bersama suku etnis Papua lainnya.
Menurut publikasi buku berjudul Masyarakat Adat Kamoro - Mimika Kampung Keakwa, lokasi berburu karaka dilakukan di sekitar mangrove yang menjadi wilayah bersama Suku Kamoro dan masyarakat Keakwa, dilakukan oleh mama-mama. Ketika menangkap kepiting karaka mama-mama biasanya membungkusnya dengan daun Ta'o.
Aturan berburu kepiting karaka adalah ketika melewati batas wilayah lain perlu izin badan musyawarah kampung. Berburu kepiting karaka juga dilarang di beberapa tempat yang dikeramatkan leluhur.
Kepiting bisa diolah menjadi apa saja?

kepiting karaka | sumber pexels
Jika Kawan GNFI mencoba kepiting karaka, kepiting karaka memiliki cita rasa daging yang padat, cukup tebal, dengan cita rasa manis alami. Sebagai olahan favorit dalam ragam makanan khas Papua, kepiting karaka biasanya dapat diolah menjadi kepiting karaka kuah kuning yang dibumbui dengan rempah-rempah khas seperti bawang merah, bawang putih, kunyit, jahe, dan kemiri.
Cara memasak kepiting karaka juga bisa direbus saja polosan, atau dibakar saja dengan daun yang memiliki cita rasa yang sangat smoky.
Cara Penyajian Kepiting Karaka
Cara penyajian makanan khas Papua satu ini biasanya disajikan dengan sambal colo-colo yang segar. Perpaduan kelezatan gurih-manis daging kepiting serta sensasi pedas asam dari sambal colo-colo menciptakan cita rasa autentik yang sulit dilupakan.
Kepiting Karaka Komoditas Unggul Kabupaten Mimika

Komoditas Kepiting Karaka | sumber: Bea Cukai Mimika
Dikutip dari laman resmi Bea Cukai, pada awal tahun 2026 tercatat ada 22 kegiatan ekspor kepiting karaka dengan total volume ekspor mencapai 12.585 kilogram dengan nilai devisa sebesar Rp634.292.406,95 dengan tujuan Malaysia dan Singapura. Angka ini menegaskan bahwa kepiting karaka bukan sekadar tangkapan lokal, melainkan komoditas bernilai tinggi di pasar internasional.
Menikmati sajian ini menjadi momen tepat untuk mengapresiasi kekayaan kuliner daerah. Mari terus mendukung konsumsi makanan khas Papua dengan tetap menjaga kelestarian alam dan hewan. Penting bagi Kawan GNFI dan kita semua untuk menghindari eksploitasi berlebihan demi keberlanjutan kehidupan manusia dan alam yang sama imbangnya, karena alam dan hewan juga sama-sama hidup sebagaimana manusia hidup.
Referensi
Bea dan Cukai Kementerian Keuangan: https://timika.beacukai.go.id/berita/karaka-mimika-kembali-menembus-pasar-ekspor-di-awal-2026
Buku Profil Masyarakat Adat Kamoro - Mimika Kampung Keakwa - https://blue-forests.org/wp-content/uploads/2022/08/Profil-Masyarakat-Adat-Kamoro-di-Kampung-Keakwa_layout_edit.pdf
afizrianda, Y., Purba, I. A., Urip, T. P., Titalessy, P. B., & Antoh, A. E. (2026). Good Handling Socialization of Mud Crab (Karaka) Catches In Fanamo And Omawita Villages Mimika Timur Jauh District: Sosialisasi Penanganan Hasil Tangkapan Kepiting Bakau (Karaka) Yang Baik Di Kampung Fanamo Dan Omawita, Distrik Mimika Timur Jauh. JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat), 10(1), 1-6.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


