Jagat Satwa Nusantara (JSN) kembali menunjukkan bahwa konservasi satwa bukan sekadar menjaga hewan di dalam kawasan penangkaran. Berbagai program pengembangbiakan hingga pelepasliaran terus dilakukan untuk mendukung pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.
Terbaru, JSN mencatat dua capaian penting. Di satu sisi, Taman Burung berhasil menetaskan Nuri Kabare (Psittrichas fulgidus) untuk pertama kalinya. Di sisi lain, lima ekor Pecuk-padi Hitam (Phalacrocorax sulcirostris) hasil program pengembangbiakan JSN berhasil dikembalikan ke habitat alaminya.
Dua capaian ini memperlihatkan bagaimana konservasi ex-situ dan in-situ dapat berjalan beriringan.
Nuri Kabare Pertama Berhasil Menetas
Capaian pertama datang dari program breeding terkontrol Nuri Kabare, burung paruh bengkok endemik Papua yang memiliki karakter biologis serta kebutuhan pemeliharaan spesifik.
Spesies ini saat ini berstatus Vulnerable (Rentan) berdasarkan IUCN Red List. Karena itu, keberhasilan reproduksinya menjadi bagian penting dalam pengembangan pengetahuan mengenai biologi dan pengelolaan satwa tersebut.
Proses penetasan dimulai pada 3 Juli 2026 ketika induk Nuri Kabare menghasilkan satu telur. Setelah melalui pemantauan dan evaluasi, telur tersebut kemudian dipindahkan ke inkubator untuk menjalani proses inkubasi terkontrol.
Selama proses berlangsung, tim Taman Burung bersama dokter hewan JSN memantau suhu, kelembapan, perkembangan embrio, hingga kondisi telur secara berkala.
Setelah menjalani 28 hari masa inkubasi, tanda awal penetasan atau pipping terpantau pada 31 Juli 2026 pukul 09.00 WIB. Proses kemudian berlangsung di bawah pengawasan intensif tim hingga anakan Nuri Kabare berhasil keluar dari cangkang pada pukul 16.40 WIB. Anakan tersebut memiliki bobot awal 18,94 gram.
Direktur Utama Jagat Satwa Nusantara mengatakan keberhasilan tersebut bukan hanya menjadi sebuah pencapaian, tetapi juga bagian dari proses pengembangan pengetahuan dan praktik konservasi di JSN.
“Keberhasilan ini menunjukkan pentingnya pengelolaan breeding yang berbasis data, observasi, dan evaluasi secara konsisten. Bagi kami, setiap keberhasilan reproduksi satwa memiliki nilai penting karena dapat memperkuat pengetahuan mengenai biologi, reproduksi, serta pengelolaan spesies tersebut di lembaga konservasi,” ujarnya.
Saat ini, anakan Nuri Kabare menjalani perawatan intensif melalui metode hand-rearing di fasilitas nursery Taman Burung. Tim secara rutin memantau perkembangan bobot tubuh, respons pemberian pakan, suhu lingkungan, kondisi fisik, serta indikator pertumbuhan lainnya.
Lima Pecuk-padi Hitam Kembali ke Habitat
Upaya JSN tidak berhenti pada keberhasilan mengembangbiakkan satwa di lingkungan konservasi.
Dalam memperingati Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026, JSN yang berada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) berkolaborasi dengan Kementerian Kehutanan untuk melakukan aksi nyata pemulihan keanekaragaman hayati.
Sebanyak lima ekor Pecuk-padi Hitam (Phalacrocorax sulcirostris) resmi dilepasliarkan ke Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk.
Pelepasliaran tersebut menjadi bagian dari Gerakan Pemulihan Ekosistem Serentak yang dicanangkan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kementerian Kehutanan.
Prosesi berlangsung di area jembatan ekosistem lahan basah TWA Angke Kapuk dengan pengawasan teknis Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik (KSG) bersama Balai KSDA Jakarta. Kegiatan tersebut turut disaksikan Menteri Kehutanan, Direktur Jenderal KSDAE Prof. Dr. Satyawan Pudyatmoko, S.Hut., M.Sc., jajaran pejabat Kementerian Kehutanan, serta para pimpinan mitra konservasi nasional.
Lima Pecuk-padi Hitam yang dilepasliarkan merupakan hasil program pengembangbiakan di Wahana Taman Burung JSN. Sebelum dikembalikan ke alam, seluruh burung menjalani pemeriksaan kesehatan, pemantauan perilaku alami, serta uji kesiapan beradaptasi dengan lingkungan ekosistem pesisir.
Pelepasliaran ini juga memiliki arti penting bagi ekosistem mangrove Angke Kapuk. Sebagai burung air pemakan ikan atau piscivora, Pecuk-padi Hitam berperan dalam rantai makanan di kawasan lahan basah dan dapat menjadi salah satu indikator biologis kondisi ekosistem.
Dari satu telur yang berhasil menetas hingga lima burung yang kembali terbang di alam, JSN menunjukkan bahwa konservasi membutuhkan proses panjang, mulai dari penelitian, pengembangbiakan, perawatan, pemantauan hingga pelepasliaran.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat komitmen JSN untuk tidak hanya menjadi ruang rekreasi dan edukasi, tetapi juga pusat konservasi ex-situ yang memberikan kontribusi langsung terhadap konservasi in-situ.
Melalui kolaborasi dengan Kementerian Kehutanan dan berbagai pihak, JSN berkomitmen memperluas program pembiakan, pelepasliaran, penelitian, serta edukasi masyarakat untuk menjaga keanekaragaman satwa Indonesia secara berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


