Jahe-jahean Asia termasuk di Indonesia belum habis ditelusuri. Dalam kurun 2019–2024, peneliti menemukan dan mendeskripsikan 119 spesies baru dari famili Zingiberaceae, kelompok tumbuhan yang mencakup jahe, kunyit, lengkuas, kapulaga, dan kencur.
Kajian terbaru menunjukkan bahwa kawasan Asia masih menyimpan keragaman tumbuhan jahe-jahean yang belum sepenuhnya dikenali secara ilmiah. Dari 119 spesies baru yang ditemukan sepanjang 2019–2024, Thailand mencatat jumlah penemuan tertinggi. Spesies baru juga ditemukan di Indonesia, Malaysia, Vietnam, China, India, Laos, Myanmar, Filipina, Taiwan, dan Kamboja.
Zingiberaceae merupakan salah satu famili tumbuhan terbesar dalam ordo Zingiberales. Saat ini, lebih dari 1.600 spesies telah diketahui tersebar di wilayah tropis dan subtropis. Banyak di antaranya dekat dengan kehidupan manusia karena dimanfaatkan sebagai bumbu, tanaman obat, hingga bahan baku industri.
Jahe, kunyit, lengkuas, kapulaga, dan kencur termasuk dalam kelompok ini. Sejumlah penelitian juga menunjukkan potensi senyawa bioaktif dari tumbuhan Zingiberaceae untuk aktivitas antibakteri, antijamur, antiinflamasi, antikanker, dan antivirus.
Penemuan spesies baru tidak selalu berarti peneliti menemukan tumbuhan yang baru muncul. Sebagian tanaman sebenarnya telah lama tumbuh di alam, tetapi selama bertahun-tahun dianggap sebagai spesies lain karena memiliki bentuk yang mirip.
Perkembangan analisis morfologi, DNA barcoding, dan teknik molekuler kemudian membantu peneliti membedakan tanaman yang sebelumnya sulit dikenali.
Curcuma paling banyak ditemukan
Dalam enam tahun tersebut, genus Curcuma, kelompok yang mencakup berbagai jenis kunyit, menghasilkan 37 spesies baru. Beberapa di antaranya memiliki karakter morfologi yang berbeda dari spesies yang telah dikenal sebelumnya.
Curcuma papilionacea, misalnya, memiliki kombinasi warna bunga ungu, merah tua, putih, dan kuning. Ada pula Curcuma rosea dengan bunga putih dan corak kemerahan pada daun, serta Curcuma ignea yang memiliki braktea merah.
Keragaman tersebut menunjukkan bahwa kelompok tumbuhan yang selama ini dikenal melalui tanaman dapur masih memiliki banyak anggota yang belum terdokumentasikan.
Bagi ilmu pengetahuan, identifikasi spesies memiliki konsekuensi penting. Setiap tumbuhan baru dapat membawa informasi mengenai evolusi dan hubungan kekerabatan tumbuhan, sekaligus membuka peluang penelitian mengenai kandungan kimia dan manfaat biologisnya.
Jejak pencarian jahe liar di Sulawesi
Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang dalam penelitian Zingiberaceae. Salah satu contohnya adalah penemuan Zingiber ultralimitale di kawasan karst Maros, Sulawesi Selatan.
Pada 2009, Marlina Ardiyani, peneliti taksonomi dan sistematika Zingiberaceae dari Herbarium Bogoriense, bersama Axel Dalberg Poulsen dari Royal Botanic Garden Edinburgh dan mitra dari Universitas Tadulako, melakukan eksplorasi selama sekitar dua bulan di sejumlah wilayah Sulawesi.
Sulawesi dipilih karena kawasan di sebelah timur Garis Wallace dinilai belum memiliki dokumentasi jahe yang sebaik wilayah seperti Sumatera, Jawa, dan Kalimantan.
Dalam ekspedisi tersebut, tim menemukan jahe liar yang tumbuh di sela-sela batu kapur kawasan karst Maros. Tanaman itu kemudian diberi nama Zingiber ultralimitale, merujuk pada lokasinya di wilayah timur Garis Wallace.
Saat ditemukan, tanaman masih dalam kondisi steril sehingga identifikasinya belum dapat dilakukan secara menyeluruh. Tim kemudian mengambil sekitar 10 rimpang untuk dipelihara di Kebun Raya Bogor dan Royal Botanic Garden Edinburgh.
Tanaman yang dikembangkan di Edinburgh akhirnya berbunga. Kondisi tersebut memungkinkan peneliti mengamati struktur bunga secara lengkap dan memastikan tanaman itu termasuk genus Zingiber, bukan Globba seperti dugaan awal.
Identifikasi kemudian diperkuat melalui kajian morfologi, karakter serbuk sari menggunakan mikroskop pemindai elektron, serta analisis sekuens DNA untuk mengetahui hubungan kekerabatannya.
Masih banyak yang perlu dicari
Temuan Zingiber ultralimitale menunjukkan bahwa eksplorasi lapangan tetap penting meskipun teknologi identifikasi semakin berkembang. Hutan, pegunungan, kawasan karst, dan pulau-pulau di Asia masih menyimpan tumbuhan yang belum terdokumentasikan.
Kondisi ini penting bagi Indonesia karena negara ini merupakan salah satu pusat keanekaragaman Zingiberaceae. Dokumentasi spesies dapat menjadi dasar untuk menentukan status konservasi dan melindungi habitatnya.
Penemuan 119 spesies baru dalam enam tahun juga memperlihatkan bahwa daftar tumbuhan yang dikenal ilmu pengetahuan belum final. Setiap ekspedisi hingga analisis DNA dapat membuka informasi baru mengenai tanaman yang selama ini tumbuh tanpa banyak diketahui.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


