tnbts rumah bagi beragam flora dan fauna langka jangan sampai api mengepungnya - News | Good News From Indonesia 2026

TNBTS Rumah bagi Beragam Flora dan Fauna Langka, Jangan Sampai Api Mengepungnya

TNBTS Rumah bagi Beragam Flora dan Fauna Langka, Jangan Sampai Api Mengepungnya
images info

TNBTS


Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) selama ini dikenal dengan pemandangan Gunung Bromo, lautan pasir, dan Gunung Semeru yang menjulang sebagai puncak tertinggi di Pulau Jawa. 

Di sisi lain, hutan, padang rumput, dan vegetasi pegunungan di TNBTS menjadi habitat bagi ratusan jenis tumbuhan dan satwa. Bahkan, pada awal 2026, petugas Balai Besar TNBTS menemukan dua spesies anggrek yang sebelumnya belum pernah tercatat di kawasan tersebut.

Kini, kebakaran melanda kawasan TNBTS. Kekayaan hayati yang menghuni kawasan ini menjadi terancam kelestariannya. 

Mengenal TNBTS

TNBTS merupakan kawasan konservasi seluas sekitar 50.276 hektare yang membentang di Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Malang, dan Lumajang, Jawa Timur. Kawasan ini memiliki rentang ketinggian sekitar 750 hingga 3.676 meter di atas permukaan laut.

Perbedaan ketinggian tersebut membuat TNBTS memiliki beberapa tipe ekosistem, mulai dari hutan pegunungan bawah dan atas hingga vegetasi sub-alpin. Gunung Semeru sendiri mencapai ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut dan menjadi titik tertinggi di Pulau Jawa.

Di kawasan yang sama terdapat lautan pasir Bromo dengan luas sekitar 6.290 hektare. Bentang alam tersebut dikelilingi dinding kaldera terjal dengan ketinggian sekitar 200-700 meter.

Taman nasional ini juga menjalankan fungsi konservasi, penelitian, pendidikan, serta mendukung kehidupan masyarakat di sekitarnya.

TNBTS ditetapkan sebagai taman nasional pada 1992 setelah sebelumnya kawasan tersebut terdiri atas sejumlah cagar alam, taman wisata, hutan produksi, dan hutan lindung. Sejak 2015, kawasan ini juga berstatus sebagai cagar biosfer UNESCO.

Rumah bagi Flora dan Fauna Langka

Kekayaan hayati TNBTS dapat dilihat dari jumlah flora yang tercatat. Berdasarkan data yang dihimpun dari berbagai sumber, terdapat sekitar 1.025 spesies flora di kawasan tersebut, termasuk sekitar 309 spesies anggrek.

Cemara gunung, akasia, mentigi, jamuju, dan edelweis Jawa menjadi bagian dari vegetasi yang tumbuh di kawasan pegunungan tersebut. Pada ketinggian tertentu, tumbuhan harus beradaptasi dengan suhu rendah, kondisi tanah, serta perubahan lingkungan yang berbeda dari kawasan dataran rendah.

Kehidupan di TNBTS juga mencakup berbagai jenis satwa. Macan tutul Jawa, lutung Jawa, kijang, kancil, trenggiling, rangkong badak, hingga elang Jawa tercatat sebagai bagian dari keanekaragaman hayati kawasan tersebut.

Beberapa di antaranya merupakan satwa yang memiliki nilai konservasi tinggi. Macan tutul Jawa, misalnya, merupakan predator penting dalam ekosistem hutan Jawa. Sementara elang Jawa merupakan burung pemangsa endemik Pulau Jawa.

Artinya, ketika sebuah kawasan hutan mengalami gangguan, yang dipertaruhkan bukan hanya keberadaan pepohonan. Habitat, sumber pakan, tempat berlindung, dan hubungan antarspesies di dalam ekosistem juga ikut menjadi bagian dari persoalan.

Spesies Baru Anggrek Ditemukan 

Gambaran mengenai kekayaan yang masih tersimpan di TNBTS semakin jelas melalui penemuan dua spesies anggrek pada awal Januari 2026.

Berdasarkan informasi yang dihimpun GNFI, petugas Balai Besar TNBTS menemukan Gastrodia selabintanensis dan Gastrodia biruensis ketika melakukan patroli sekaligus mengidentifikasi biodiversitas di lereng selatan Gunung Semeru.

Kedua anggrek tersebut ditemukan pada habitat yang relatif sama, yakni kawasan yang teduh, memiliki humus tebal, dan cukup lembap pada ketinggian 1.000-1.200 meter di atas permukaan laut.

Keduanya memiliki ciri fisik yang berbeda. Gastrodia selabintanensis memiliki perbungaan sepanjang 15-25 sentimeter dengan dua hingga empat kuntum. Kelopaknya berwarna cokelat kehijauan, sedangkan mahkotanya berwarna putih semu dan kuning.

Sementara itu, Gastrodia biruensis memiliki perbungaan sepanjang 18-32 sentimeter dengan tiga hingga lima kuntum. Kelopaknya berwarna cokelat kekuningan dan mahkotanya berwarna putih serta oranye.

Yang membuat kedua spesies ini semakin penting adalah sifat biologisnya. Keduanya termasuk tumbuhan mycoheterotrophic yang pertumbuhannya sangat bergantung pada habitat alami dan sulit dikembangkan di luar habitat tersebut.

Karena itu, Balai Besar TNBTS melakukan pemetaan sebaran populasi dengan identifikasi di lokasi lain pada musim berbunga.

TNBTS Jangan Sampai Terbakar

Kebakaran di TNBTS berdampak luas ke ekosistem. Selain itu, pemulihan kawasan pasca kebakaran tidak semudah yang dibayangkan.

TNBTS juga menghadapi tantangan lain. Spesies tumbuhan invasif seperti lavender (Verbena brasiliensis) dan kirinyuh (Chromolaena odorata) telah menyebar di sejumlah kawasan. Di sisi lain, aktivitas pertanian di sekitar lereng dapat berkontribusi terhadap erosi dan sedimentasi yang memengaruhi ekosistem perairan.

Kondisi tersebut membuat perlindungan kawasan TNBTS menjadi pekerjaan yang tidak selesai dengan memadamkan api saat kebakaran mengepungnya. Pemantauan habitat, perlindungan satwa, pemulihan vegetasi, serta penelitian terhadap biodiversitas sangat penting untuk menjaga kawasan dalam jangka panjang.

baca juga

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.