Pengelolaan sampah menjadi salah satu isu lingkungan yang belum terselesaikan di Desa Padamukti. Meskipun telah memiliki Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R), fasilitas tersebut baru melayani empat Rukun Warga (RW), sehingga pengelolaan sampah rumah tangga belum menjangkau seluruh wilayah desa.
Pemilahan sampah dari sumber yang belum optimal. Sampah rumah tangga masih kerap dibuang tanpa dipilah berdasarkan jenisnya, termasuk sisa sayuran dan kulit buah yang berpotensi diolah menjadi produk bernilai guna.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas lingkungan di Desa Padamukti. Sampah yang tidak terkelola dengan baik dapat menumpuk, menimbulkan bau, mengganggu kebersihan, dan terbawa ke aliran sungai, termasuk Sungai Citarik. Padahal, sampah organik rumah tangga dapat dimanfaatkan kembali melalui pengolahan sederhana.
Oleh karena itu, diperlukan upaya pengelolaan sampah yang tidak hanya berorientasi pada pengurangan timbulan, tetapi juga mendorong masyarakat untuk memandang sampah sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan bagi lingkungan dan pertanian.
Permasalahan tersebut mendorong lahirnya program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University, yaitu SILIRASI–01: CAIRSA. Program ini dilaksanakan melalui pelatihan pembuatan pupuk organik cair (POC) berbahan dasar sampah organik rumah tangga untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan sisa pangan. Program ini melibatkan 20 peserta yang terdiri atas 13 anggota PKK dan 7 anggota Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM).

Dokumentasi Kegiatan SILIRASI-01: CAIRSA
Program ini memanfaatkan sampah organik rumah tangga melalui proses fermentasi untuk menghasilkan produk yang bermanfaat. Pemanfaatan kembali sampah ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular yang mendorong limbah untuk kembali ke dalam siklus pemanfaatan sehingga memiliki nilai guna bagi masyarakat dan lingkungan.
Dalam praktik pembuatan POC, peserta menggunakan bahan organik yang telah dicincang, air, EM4, dan molase yang dilarutkan dalam air. Bahan tersebut difermentasi menggunakan galon bekas sebagai wadah. Peserta juga diberikan leaflet yang memuat bahan, tahapan pembuatan, manfaat, dan cara penggunaan POC sebagai panduan untuk menerapkan pengetahuan tersebut secara mandiri.
Selain menghasilkan POC, kegiatan ini memberikan pengalaman langsung kepada peserta dalam mengolah sampah organik rumah tangga. Sebelum pelatihan, peserta belum memiliki pengalaman membuat POC dan belum memahami secara menyeluruh bahan, tahapan pembuatan, proses fermentasi, serta cara penggunaannya. Setelah mengikuti edukasi dan praktik, peserta memahami proses pembuatan POC secara lebih menyeluruh, mulai dari bahan yang digunakan, tahapan fermentasi, hingga cara mengaplikasikannya pada tanaman.

Praktik Pembuatan Pupuk Organik Cair
Pemahaman peserta dievaluasi pada awal dan akhir kegiatan melaui pertanyaan terkait materi dan tahapan pembuatan POC. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa ≥70% peserta mampu menjelaskan kembali tahapan pembuatan POC yang telah dipraktikkan. Capaian tersebut menunjukkan bahwa kombinasi edukasi dan praktik langsung dapat meningkatkan pemahaman sekaligus keterampilan peserta dalam membuat POC secara mandiri.
Pemanfaatan sisa pangan menjadi POC memberikan manfaat bagi peserta, lingkungan, dan masyarakat. Bagi peserta, kegiatan ini memberikan pengalaman dalam mengolah sampah organik rumah tangga menjadi produk yang bernilai guna. Bagi lingkungan, pengolahan sisa pangan dapat mengurangi timbulan sampah organik yang berpotensi tercampur dengan sampah lain, dibuang sembarangan, atau menambah beban pengelolaan TPS3R. Bagi masyarakat, POC menjadi alternatif pupuk yang mudah dibuat dan berbiaya rendah untuk dimanfaatkan pada tanaman rumah tangga maupun kegiatan pertanian.

Pelaksanaan Post-test Kegiatan
Dampak program diharapkan dapat meluas melalui 13 anggota PKK yang merupakan perwakilan dari setiap RW serta anggota KSM. Peserta dapat berperan dalam menyebarluaskan pengetahuan mengenai pemilahan dan pemanfaatan sampah organik kepada masyarakat di lingkungannya. Semakin banyak rumah tangga yang memilah dan mengolah sisa pangan, semakin besar peluang pengurangan timbulan sampah organik yang perlu ditangani oleh sistem pengelolaan sampah desa.
Keberlanjutan program juga didukung melalui pemberian leaflet sebagai panduan bagi peserta dalam menerapkan pembuatan dan pemanfaatan POC secara mandiri di tingkat rumah tangga. Ke depannya, program dapat dikembangkan melalui pendampingan dan penguatan pengelolaan POC agar pemanfaatan sisa pangan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat dalam mengurangi timbulan sampah organik.

Dokumentasi Bersama Kegiatan Pasca Praktik POC
Program SILIRASI–01: CAIRSA menjadi salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan pengelolaan sampah organik di Desa Padamukti, khususnya dalam pemilahan dan pemanfaatan sisa pangan di tingkat rumah tangga. Melalui edukasi dan praktik pembuatan POC, seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai dan memperoleh pengalaman langsung dalam mengolah sampah organik menjadi produk yang bermanfaat.
Dengan demikian, pemanfaatan sisa pangan menjadi POC dapat menjadi langkah sederhana untuk mengurangi timbulan sampah organik sekaligus mendorong terbentuknya kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih mandiri dan berkelanjutan di Desa Padamukti.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


