Di banyak rumah, kulit buah dan sisa sayuran sering kali berakhir di tempat sampah. Padahal, limbah organik tersebut masih menyimpan potensi besar untuk diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan.
Berangkat dari gagasan sederhana tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University mengajak masyarakat Desa Bojong, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut, untuk mengubah cara pandang terhadap sampah melalui pelatihan pembuatan "eco enzyme".
Kegiatan yang berlangsung pada Jumat (24/7/2026) di Aula Kantor Desa Bojong ini menjadi bagian dari upaya membangun budaya pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga. Melalui sosialisasi dan demonstrasi, warga diajak memahami bahwa langkah kecil seperti memanfaatkan limbah dapur dapat memberikan dampak besar bagi lingkungan apabila dilakukan secara konsisten.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperkenalkan eco enzyme, yaitu cairan hasil fermentasi limbah organik berupa kulit buah dan sayuran yang dicampur dengan gula merah atau molase serta air. Setelah difermentasi selama kurang lebih tiga bulan, cairan ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair, pembersih alami, hingga pendukung kebersihan saluran air.
Selain membantu mengurangi timbunan sampah organik, eco enzyme juga menjadi alternatif pemanfaatan limbah yang murah, mudah dibuat, dan ramah lingkungan.

Warga Desa Bojong antusias mengikuti sosialisasi eco enzyme
Tidak hanya menyampaikan materi, mahasiswa juga mendemonstrasikan secara langsung proses pembuatan eco enzyme. Mulai dari memilih bahan organik yang tepat, menentukan komposisi campuran, hingga teknik penyimpanan selama masa fermentasi dijelaskan secara bertahap agar mudah dipahami.
Warga juga diberikan pengetahuan mengenai tanda-tanda fermentasi yang berhasil, kesalahan yang perlu dihindari, serta berbagai pemanfaatan eco enzyme untuk kebutuhan rumah tangga maupun pertanian.
"Kami ingin masyarakat melihat bahwa limbah organik rumah tangga sebenarnya masih memiliki nilai manfaat. Melalui eco enzyme, pengelolaan sampah dapat dimulai dari rumah dengan cara yang sederhana, murah, dan mudah diterapkan," ujar salah satu mahasiswa KKNT Inovasi IPB University.
Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Berbagai pertanyaan muncul dalam sesi diskusi, mulai dari lama proses fermentasi, jenis limbah organik yang dapat digunakan, hingga cara memanfaatkan eco enzyme untuk tanaman.
Tingginya partisipasi warga menunjukkan bahwa edukasi sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mampu membangun kesadaran baru mengenai pentingnya pengelolaan sampah sejak dari rumah.
Saya baru tahu kalau kulit buah yang biasanya dibuang ternyata bisa diolah menjadi eco enzyme. Selain bermanfaat untuk tanaman, cairan ini juga bisa digunakan sebagai campuran pembersih lantai dan peralatan rumah tangga. Saya jadi ingin mencoba membuatnya di rumah," kata Yayang, salah seorang peserta sosialisasi.
Bagi mahasiswa KKNT Inovasi IPB University, program ini bukan sekadar pelatihan membuat eco enzyme, tetapi juga menjadi langkah awal membangun kebiasaan yang lebih berkelanjutan.
Pengelolaan sampah organik di tingkat rumah tangga diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan sekaligus menghasilkan produk yang memiliki nilai guna bagi masyarakat.
Inisiatif ini menunjukkan bahwa solusi atas persoalan lingkungan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang rumit atau investasi yang besar. Justru melalui kebiasaan sederhana memanfaatkan limbah dapur, masyarakat dapat berkontribusi nyata dalam menjaga lingkungan.
Ketika pengetahuan bertemu dengan kemauan untuk bertindak, sampah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat berubah menjadi sumber manfaat yang mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


