kamitetep yang bikin gatal ternyata bisa bermunculan karena kicau mania kok bisa - News | Good News From Indonesia 2026

Kamitetep yang Bikin Gatal Ternyata Bisa Bermunculan karena “Kicau Mania”, Kok Bisa?

Kamitetep yang Bikin Gatal Ternyata Bisa Bermunculan karena “Kicau Mania”, Kok Bisa?
images info

Kamitetep


Kemunculan kamitetep sempat dikeluhkan netizen. Serangga kecil yang menempel di dinding, langit-langit, lemari, hingga tempat tidur itu dianggap mengganggu karena jumlahnya meningkat drastis. Tak sedikit pula yang mengaku mengalami rasa gatal setelah bersentuhan dengannya.

Penyebab fenomena itu tidak semata-mata karena kondisi rumah yang lembap. Para pemerhati burung menilai ledakan populasi kamitetep merupakan dampak dari terganggunya keseimbangan ekologi di kawasan perkotaan. Salah satu pemicunya adalah maraknya perburuan burung liar untuk memenuhi kebutuhan komunitas "kicau mania".

Kamitetep merupakan fase larva dari ngengat yang secara alami menjadi mangsa berbagai jenis burung pemakan serangga. Selama populasi predator tetap terjaga, jumlah kamitetep di alam relatif terkendali. Namun ketika burung-burung tersebut semakin berkurang, rantai makanan pun terputus dan populasi kamitetep meningkat tanpa kendali.

Demam Kicau Mania dan Efek Domino terhadap Ekosistem

Fenomena kicau mania tidak lepas dari meningkatnya tren perlombaan burung berkicau, terutama murai batu (Copsychus malabaricus). Dalam dunia kontes, pemilik burung sering melakukan proses "masteran", yaitu memperdengarkan suara berbagai burung liar agar kualitas kicauan murai semakin beragam dan memiliki nilai lebih saat berlomba.

Praktik ini mendorong perburuan sejumlah burung kecil yang suaranya dianggap ideal sebagai masteran. Empat spesies yang paling banyak diburu antara lain cinenen jawa (Orthotomus sepium), cinenen kelabu (Orthotomus ruficeps), perenjak jawa (Prinia familiaris), dan burung madu sriganti (Cinnyris ornatus).

Ironisnya, cinenen dan perenjak merupakan predator alami kamitetep. Ketika populasinya menurun akibat penangkapan dari alam, pengendalian serangga berlangsung semakin lemah. Akibatnya, kamitetep berkembang biak lebih cepat dan mulai mendominasi lingkungan perkotaan.

Dampaknya tidak berhenti sampai di situ. Berkurangnya populasi cinenen dan perenjak juga mengganggu kehidupan wiwik kelabu (Cacomantis merulinus). Burung ini memiliki strategi berkembang biak yang unik, yakni menitipkan telurnya di sarang burung lain atau dikenal sebagai brood parasitism. Karena jumlah sarang inangnya semakin sedikit, populasi wiwik kelabu ikut mengalami penurunan.

Padahal, wiwik kelabu dikenal sebagai salah satu burung yang mampu memangsa ulat berbulu panjang berkat sistem pencernaannya yang khusus. Hilangnya spesies ini semakin memperlemah kontrol alami terhadap berbagai jenis hama serangga di perkotaan. Fenomena tersebut mengingatkan pada kasus ledakan populasi tomcat maupun tawon vespa yang pernah terjadi beberapa tahun lalu ketika keseimbangan ekosistem terganggu.

Selain hilangnya predator, menyusutnya ruang hijau dan pepohonan di perkotaan juga membuat kamitetep kehilangan habitat alaminya. Serangga ini kemudian memanfaatkan dinding rumah, plafon, maupun sudut bangunan sebagai tempat berkembang.

Serangga Kecil yang Menyukai Rumah Lembap

Kamitetep memiliki nama ilmiah Phereoeca allutella dan termasuk keluarga Tineidae dalam ordo Lepidoptera. Dalam bahasa Inggris, serangga ini dikenal sebagai household casebearer atau plaster bagworm. Yang sering terlihat sebenarnya bukan ngengat dewasanya, melainkan fase larva yang hidup di dalam kantong pipih berbentuk oval yang dibuat dari benang sutera, debu, pasir, serpihan kayu, hingga rambut manusia.

Berdasarkan informasi yang dihimpun GNFI, seekor ngengat betina dapat menghasilkan sekitar 200 telur yang menetas dalam waktu sekitar 10 hari. Larva kemudian berkembang selama kurang lebih 50 hari sebelum berubah menjadi kepompong. Setelah itu, ngengat dewasa muncul dan kembali memulai siklus reproduksi. Secara keseluruhan, siklus hidup kamitetep berlangsung sekitar dua setengah bulan, tetapi dapat berlangsung lebih cepat pada lingkungan yang hangat dan lembap.

Kamitetep tergolong hama bangunan dalam ruangan karena memakan rambut manusia, bulu unggas, jaring laba-laba, serpihan organik, hingga sisa tubuh serangga. Karena itu, rumah dengan banyak debu, sudut yang jarang dibersihkan, dan kelembapan tinggi menjadi habitat yang ideal bagi perkembangan larva.

Apakah Kamitetep Berbahaya?

Kamitetep tidak menggigit manusia. Namun, kontak langsung dengan rambut halus pada tubuh larvanya dapat memicu ruam, bentol, kemerahan, atau rasa gatal, terutama pada orang yang memiliki kulit sensitif atau riwayat alergi. Pada sebagian kasus, gejala tersebut dapat disertai pembengkakan ringan dan umumnya akan mereda dalam waktu tiga hingga tujuh hari.

Selain iritasi kulit, debu dan sisa tubuh kamitetep juga berpotensi memicu reaksi alergi pada saluran pernapasan jika terhirup. Gejalanya dapat berupa bersin, hidung tersumbat, hingga sesak napas pada individu yang sensitif.

Untuk mencegah kemunculannya, kebersihan rumah menjadi langkah paling efektif. Debu, rambut rontok, dan serpihan organik perlu dibersihkan secara rutin menggunakan sapu, pel, maupun penyedot debu, terutama di bawah tempat tidur, lemari, gudang, dan sudut ruangan. Sirkulasi udara juga perlu dijaga agar kelembapan tetap rendah dengan membuka ventilasi setiap hari atau menggunakan kipas angin maupun dehumidifier. 

baca juga

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.