Bangunan tradisional Jawa memiliki keunikan arsitektur yang sangat khas dan kaya nilai sejarah. Salah satu bentuk bangunan tradisional yang paling populer dan dikenal luas oleh Kawan GNFI adalah rumah joglo.
Arsitektur joglo bukan sekadar tempat tinggal, melainkan warisan budaya yang punya beragam bentuk dan struktur atap. Setiap variasi joglo memuat karakteristik unik yang mencerminkan tingkat kerumitan tata bangunannya.
Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta telah menetapkan aturan resmi terkait arsitektur tradisional. Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Gubernur (Pergub) DIY Nomor 40 Tahun 2014 tentang Pedoman Arsitektur Bangunan Berarsitektur Tradisional.
Variasi Bangunan Joglo Sesuai Aturan Pergub DIY
Aturan dalam Peraturan Gubernur DIY Nomor 40 Tahun 2014 merinci variasi bangunan joglo. Berdasarkan acuan tersebut, berikut adalah penjelasan setiap variasi bangunan joglo yang perlu Kawan ketahui.
Joglo Jubungan

Ilustrasi Joglo Jubungan | Sumber: Dinas Kebudayaan DIY
Variasi joglo jubungan dikenal sebagai bentuk rumah tradisional Jawa yang paling sederhana. Bangunan ini mengutamakan fungsi mendasar tanpa banyak ornamen tambahan pada struktur atapnya.
Keunikan dari tipe ini terletak pada bagian atapnya yang sangat minimalis. Atap joglo jubungan hanya terdiri dari satu tingkatan utama yang disebut atap brunjung.
Kesederhanaan struktur tersebut membuat joglo jubungan amat mudah dikenali oleh masyarakat. Tipe ini menjadi dasar dari perkembangan variasi arsitektur joglo lainnya.
Joglo Lawakan

Ilustrasi Joglo Lawakan | Sumber: Dinas Kebudayaan DIY
Variasi berikutnya yang tidak kalah menarik untuk dipelajari adalah tipe joglo lawakan. Bentuk ini menghadirkan profil atap yang lebih tegas dibanding versi sederhana.
Susunan atap pada tipe ini terdiri atas dua tingkatan utama yang bertumpu secara harmonis. Tingkatan tersebut meliputi atap brunjung di bagian atas dan atap penanggap di bagian bawah.
Kombinasi dua tingkatan atap ini memberikan ruang bagian dalam yang terasa lebih luas. Tampilan tampilannya yang proporsional membuat tipe ini cukup populer dipakai Kawan.
Joglo Sinom

Ilustrasi Joglo Sinom | Sumber: Dinas Kebudayaan DIY
Tipe joglo sinom menjadi salah satu variasi yang memiliki susunan atap berundak kaya. Karakter arsitekturnya memperlihatkan keanggunan tata proporsi bangunan tradisional.
Bagian atap joglo sinom terdiri dari tiga tingkatan berturut-turut dari atas ke bawah. Tiga tingkatan atap tersebut adalah atap brunjung, atap penanggap, dan atap penitih.
Tingkatan atap yang bertambah ini menciptakan kesan megah dan kokoh pada bangunan. Tata susunannya juga membantu sirkulasi udara di dalam ruangan tetap terasa sejuk.
Joglo Trajumas

Ilustrasi Joglo Trajumas | Sumber: Dinas Kebudayaan DIY
Joglo trajumas menyajikan keunikan pada struktur penopang utama bangunan rumah Jawa. Variasi ini mengusung tata ruang yang sangat simetris dan teratur.
Ciri utama joglo trajumas ditandai dengan penggunaan enam batang tiang penyangga utama. Tiang-tiang tersebut membagi ruang interior menjadi dua bagian yang seimbang.
Penataan struktur tiang ini memberikan ketahanan bangunan yang sangat stabil. Keharmonisan bentuknya mencerminkan filosofi keseimbangan hidup masyarakat Jawa.
Joglo Semar Tinandhu

Ilustrasi Joglo Semar Tinandhu | Sumber: Dinas Kebudayaan DIY
Pilihan variasi berikutnya adalah joglo semar tinandhu yang memiliki ciri khas struktur unik. Istilah ini menggambarkan penyangga utama yang tampak seperti dipikul.
Struktur bangunan ini menggunakan dua batang balok pangeret sebagai penopang. Dua tiang penyangganya diletakkan tepat di bagian tengah balok pangeret tersebut.
Dalam beberapa penerapan, dua tiang tengah tersebut sering diganti dengan dinding tembok pagar. Hal ini memberikan variasi tampilan fisik yang semakin kokoh dan tertutup.
Joglo Lambang Sari

Ilustrasi Joglo Lambang Sari | Sumber: Dinas Kebudayaan DIY
Variasi joglo lambang sari menawarkan teknik penyambungan atap yang sangat rapi. Konstruksinya memperhatikan jarak antar-atap agar terlihat terpisah tegas.
Pada tipe ini, atap brunjung dan atap penanggap dibuat terpisah satu sama lain. Kedua bagian atap tersebut dihubungkan oleh balok khusus bernama lambang sari.
Sistem penghubung ini menciptakan celah ventilasi alami di antara tingkatan atap. Hasilnya, pencahayaan dan udara dapat masuk dengan lebih maksimal ke dalam ruangan.
Joglo Lambang Teplok

Ilustrasi Joglo Lambang Teplok | Sumber: Dinas Kebudayaan DIY
Joglo lambang teplok memiliki kemiripan prinsip pemisahan atap dengan tipe sebelumnya. Namun, terdapat perbedaan penting pada titik tumpu konstruksi atapnya.
Atap brunjung dan atap penanggap pada rumah ini dipasang terpisah secara jelas. Atap penanggap dibuat menempel secara langsung pada bagian saka guru.
Teknik menempel langsung ini menghasilkan struktur yang sangat ringkas dan kuat. Tampilan luarnya memberikan impresi visual yang tegas dan menarik perhatian.
Joglo Lambang Gantung

Ilustrasi Joglo Lambang Gantung | Sumber: Dinas Kebudayaan DIY
Tipe joglo lambang gantung menyajikan estetika arsitektur yang nampak melayang indah. Konsep ini didapatkan dari peletakan tumpuan atap bagian bawahnya.
Atap brunjung dan atap penanggap dirancang terpisah dalam struktur bertingkat. Atap penanggap pada tipe ini tidak menempel tiang utama, melainkan saka benthung.
Tumpuan pada saka benthung memberikan efek visual seperti atap yang menggantung. Ciri unik tersebut membuat joglo lambang gantung sangat diminati pecinta seni.
Joglo Mangkurat

Ilustrasi Joglo Mangkurat | Sumber: Dinas Kebudayaan DIY
Joglo mangkurat tergolong variasi bertingkat yang memiliki struktur atap cukup kompleks. Tipe ini menonjolkan kesan anggun serta kemewahan bangunan tradisional.
Atapnya terdiri dari tingkatan atap brunjung, atap penanggap, hingga atap penitih. Atap penanggap terpisah dari brunjung karena bertumpu pada saka benthung.
Sementara itu, bagian atap penitih disambungkan menggunakan bantuan balok lambang sari. Perpaduan teknik ini menghasilkan tata atap yang sangat bernilai tinggi.
Joglo Pengrawit

Ilustrasi Joglo Pangrawit | Sumber: Dinas Kebudayaan DIY
Variasi joglo pengrawit dikenal dengan tingkat kerumitan konstruksi yang tinggi. Setiap bagian atapnya disusun secara cermat dengan perhitungan matang.
Atap tipe ini terdiri atas tingkatan brunjung, penanggap, dan penitih yang terpisah. Baik atap penanggap maupun penitih sama-sama bertumpu pada saka benthung.
Sistem tumpuan terpisah pada saka benthung ini menciptakan gradasi atap yang indah. Bangunan tipe pengrawit ini memancarkan aura estetika yang sangat kuat.
Joglo Hageng

Ilustrasi Joglo Hageng | Sumber: Dinas Kebudayaan DIY
Variasi joglo hageng merupakan tipe bangunan joglo yang paling megah dan paling luas. Ukuran fisik dan kelengkapan bangunannya berada di tingkat tertinggi.
Struktur atap pada joglo hageng memiliki lima tingkatan berturut-turut yang amat mahakarya. Urutan tingkatan dari atas ke bawah adalah brunjung, penanggap, penitih, peningrat, dan emper.
Tingkatan atap yang lengkap ini umumnya ditemui pada bangunan keraton atau istana. Kehadiran joglo hageng menjadi simbol puncak keagungan arsitektur Jawa.
Ragam variasi bangunan joglo memperlihatkan betapa tingginya peradaban arsitektur Nusantara. Melalui Pergub DIY Nomor 40 Tahun 2014, kelestarian dan keaslian tata bangunan joglo terus dijaga.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


