Laju perubahan iklim dan ancaman krisis pangan global mendorong dunia untuk mencari sumber nutrisi baru yang ramah lingkungan.
Mikroalga jenis Spirulina (Arthrospira platensis) menjadi salah satu komoditas hayati yang paling dilirik karena menyimpan potensi gizi yang sangat pekat. Tumbuhan mikro ini memiliki laju pertumbuhan yang sangat cepat serta profil nutrisi melimpah yang jauh melampaui bahan pangan harian masyarakat.
Kandidat Doktor Pusat Riset Budidaya Laut BRIN membedah keunggulan komoditas tersebut dalam webinar OceanFarm Series. Keunggulan utamanya terletak pada kadar protein alami yang menembus angka 65 persen. Angka persentase ini tercatat jauh lebih tinggi jika disandingkan dengan bahan makanan populer seperti daging ayam, susu, keju, ikan, maupun telur.
Selain protein, Spirulina mengemas serat empat kali lebih tinggi dibandingkan tepung jagung dan oat. Tekstur tubuhnya yang lunak membuat mikroalga ini sangat mudah dicerna oleh sistem pencernaan manusia maupun hewan.
Tumbuhan ini juga kaya akan senyawa bioaktif yang bersifat hipolipidemik, hipoglikemik, antihipertensi, serta polisakarida yang bertindak sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan peningkat sistem kekebalan tubuh.
"Spirulina dipilih dalam riset karena diketahui bahwa mikroalga ini mengandung protein yang sangat tinggi, mengandung banyak senyawa bioaktif, dan mudah dicerna, serta bahan baku untuk bioremediasi," ujar Kandidat Doktor Pusat Riset Budidaya Laut BRIN, Sitti Faridah.
Agen Pembersih Lingkungan dan Bahan Bumbu Bioenergi
Pemanfaatan Spirulina tidak hanya berhenti pada pemenuhan isi piring atau mangkuk pakan ternak. Budidaya mikroalga ini terbukti memberikan kontribusi langsung terhadap pencapaian target Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Tanaman air ini bertindak efektif sebagai agen pembersih atau bioremediasi untuk memperbaiki kualitas air perairan, sekaligus secara aktif menyerap gas karbon dioksida (CO2) dari udara bebas.
Di sektor energi dan industri, ekstrak olahan Spirulina sangat fleksibel untuk diolah menjadi biofuel, biosolar, hingga biohidrogen. Di dunia perikanan, komponen ini diserap sebagai pakan fungsional pada tahap pembenihan hingga pembesaran ikan agar daya tahan tubuh bibit menjadi lebih kuat terhadap serangan penyakit.
Aplikasi produk turunannya pun kini merebak luas ke berbagai sektor manufaktur, mulai dari racikan produk pangan harian, pakan ternak, suplemen farmasi, hingga bahan dasar kosmetik kecantikan.
Gurihnya Bisnis Ekspor dan Kapasitas Pabrik Lokal
Sisi ekonomi Spirulina menunjukkan kurva pertumbuhan yang sangat menggiurkan di panggung perdagangan internasional. Arthrospira platensis tercatat sebagai spesies mikroalga paling dominan yang dibudidayakan di seluruh dunia. Harga komoditas ini diproyeksikan terus naik sekitar 10,5 persen pada periode rentang tahun 2020 hingga 2027.
Pasar pemakai terbesar saat ini dikuasai oleh negara-negara raksasa seperti Tiongkok, India, Jepang, serta Amerika Serikat. Indonesia sendiri tidak sekadar menjadi penonton dalam persaingan bisnis ini.
“Di Indonesia sendiri, potensi budidaya ini telah digarap serius oleh beberapa perusahaan yang berpusat di Jawa Tengah. Kapasitas produksinya bahkan telah mencapai skala industri besar yang mencapai 108 ton per tahun,” kata Sitti Faridah.
Tingginya angka produksi dalam negeri ini membuktikan bahwa ekosistem budidaya Spirulina nasional sudah siap bersaing di skala industri. Dukungan riset lanjutan di sektor hulu dan hilir diharapkan mampu mempercepat modernisasi industri perikanan dan pangan berbasis mikroalga di Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


