Ketika berbicara tentang Jakarta, yang terlintas di kepala adalah kesibukannya yang sudah dimulai sejak pagi tiba. Arus kendaraan yang ramai dan berbagai pusat aktivitas yang menjadi penggerak ekonomi. Tidak banyak yang menjadikan Jakarta sebagai tujuan untuk menikmati wisata alamnya.
Padahal, Jakarta masih menyimpan ruang hijau, kawasan konservasi, ekosistem pesisir, hingga pulau-pulau yang memiliki ragam kekayaan hayati.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghadirkan Jakarta Ecotourism Festival 2026 sebagai cara baru untuk memperkenalkan wisata Jakarta. Festival yang berlangsung pada 14 Juli hingga 2 September 2026 ini mengusung tema Living with Nature: Jakarta as an Urban Ecosystem.
Tema ini menggambarkan sebuah pesan sederhana bahwa kota sebesar Jakarta juga tetap dapat hidup berdampingan dengan alam. Melalui acara tersebut, pariwisata dibalut menjadi sebuah sarana untuk mengenalkan sekaligus menjaga lingkungan.
Selama ini, promosi pariwisata Jakarta lebih banyak berkisah pada wisata sejarah, kuliner, dan penyelenggaraan berbagai acara berskala global.
Walaupun memang strategi tersebut berhasil menarik kunjungan wisatawan dan memperkuat posisi Jakarta sebagai kota tujuan berbagai kegiatan.
Namun, perkembangan tren pariwisata menunjukkan bahwa wisatawan kini juga mencari pengalaman yang lebih dekat dengan alam, budaya lokal, dan aktivitas yang memberi makna.
Mereka ingin memahami destinasi melalui kehidupan masyarakatnya, ruang hijaunya, serta upaya menjaga lingkungan yang dilakukan bersama.
Jakarta Ecotourism Festival mengajak masyarakat melihat Jakarta dari cara yang berbeda. Festival ini menggunakan pendekatan experiential learning atau belajar melalui pengalaman langsung. Peserta diajak mengunjungi berbagai destinasi ekowisata yang tersebar di 5 wilayah kota dan Kepulauan Seribu.
Mereka dapat melihat secara langsung bagaimana ruang hijau dikelola, bagaimana masyarakat menjaga lingkungannya, serta bagaimana sebuah komunitas membangun gaya hidup yang lebih berkelanjutan.
Setiap wilayah memiliki cerita yang berbeda. Di Jakarta Utara, peserta diajak mengenal urban farming di Kebun Gangnam Pegangsaan, mengunjungi kawasan konservasi Mangrove Pantai Indah Kapuk, dan menikmati Hutan Kota Penjaringan.
Jakarta Timur menawarkan pengalaman mempelajari budidaya tanaman di Taman Wisata Agro Cilangkap, mengenal peran lebah terhadap ekosistem di Taman Wisata Lebah Cibubur, hingga melihat aktivitas edukasi lingkungan di RPTRA Payung Tunas Teratai.
Perjalanan berlanjut ke Jakarta Barat yang menampilkan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat melalui Bank Sampah Bumi Lestari, Waduk Citra Garden, dan Taman Kota Cattleya.
Di Jakarta Pusat, peserta dapat mengunjungi Hutan Kota GBK, melihat pengelolaan sampah di TPS R3 Rawasari, serta mengenal praktik ekonomi sirkular yang dijalankan masyarakat di Kampung Samtama.
Sementara itu, Kepulauan Seribu menawarkan pengalaman memahami ekosistem laut, pelestarian kawasan pesisir, dan budaya masyarakat kepulauan yang menjadi bagian penting dari identitas Jakarta.
Rangkaian destinasi ini menggambarkan bahwa potensi wisata Jakarta jauh lebih beragam dari yang selama ini kita ketahui. Banyak warga Jakarta sendiri mungkin belum pernah mengunjungi sebagian besar lokasi tersebut.
Padahal, ruang-ruang ini menjadi bukti bahwa Jakarta masih memiliki kawasan yang menjaga keseimbangan antara aktivitas manusia dan alam. Festival ini kemudian menjadi jembatan untuk memperkenalkan potensi tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.
Selain menikmati pemandangan atau mendengarkan penjelasan dari pemandu, peserta dilibatkan dalam kegiatan menanam pohon, mengamati burung, belajar hidroponik, memilah sampah, hingga berdiskusi bersama komunitas lokal.
Kegiatan seperti inilah yang akhirnya membuat wisata menjadi lebih bermakna. Pengunjung memperoleh pengalaman baru sekaligus memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Ekowisata tidak hanya mengutamakan keindahan alam sebagai daya tarik wisata. Di dalamnya tentu membutuhkan edukasi, pelestarian lingkungan, serta keterlibatan masyarakat lokal.
Seperti yang kita ketahui bersama bahwa beberapa tahun terakhir, pemerintah terus memperluas ruang terbuka hijau, membangun hutan kota, memperbaiki kawasan pesisir, hingga mendorong pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Berbagai upaya ini sebenarnya dapat menjadi daya tarik wisata yang unik. Cerita tentang bagaimana Jakarta terus beradaptasi menjaga lingkungannya.
Jakarta Ecotourism Festival merupakan sebuah inisiasi yang baik, walaupun “PR”-nya tetap akan sangat bergantung pada kesinambungan program setelah kegiatan berakhir. Destinasi wisata tentu perlu terus dirawat, akses menuju lokasi harus semakin mudah, hingga informasi mengenai berbagai kegiataan di kawasan ekowisata perlu diperluas agar banyak masyarakat dapat mengunjunginya kapan saja.
Mungkin, cara terbaik mengenal Jakarta adalah dengan menyempatkan berhenti sebentar untuk melihat kehidupan yang tumbuh di sela-selanya.
Jakarta Ecotourism Festival 2026 lahir dari kepedulian untuk merawat alam, yang kemudian melibatkan masyarakat sehingga dapat menciptakan pengalaman yang memberi rasa baru bagi setiap yang datang.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

