Kedutaan Besar Republik Rwanda untuk Indonesia memperingati Kwibohora atau Hari Pembebasan Rwanda melalui acara bertajuk "Rwanda's Journey Continues" pada Jumat (17/7/26).
Perayaan yang digelar di Jakarta tersebut menjadi momentum untuk mengenang berakhirnya Genosida terhadap Suku Tutsi pada 1994 sekaligus sebagai momen refleksi untuk perjalanan panjang Rwanda dalam membangun kembali persatuan dan perdamaian di negaranya.
Acara ini dihadiri oleh perwakilan pemerintah Indonesia, media, hingga masyarakat Rwanda yang tinggal di Indonesia. Rangkaian kegiatan diawali dengan sambutan dari Duta Besar Rwanda di Indonesia dan sambutan dari perwakilan pemerintah Indonesia. Acara kemudian dilanjutkan dengan jamuan makan malam dan penampilan musisi asal Rwanda, Ruti Joel, yang turut memperkenalkan budaya negaranya melalui musik dan tarian tradisional.
Makna Perayaan KwibohoraTahun Ini
Dalam sesi wawancara bersama media, Duta Besar Rwanda menegaskan bahwa Kwibohora memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar peringatan tahunan.
"This day is historical. It's not an event, but we say that it is the beginning of a chapter in the life of Rwanda," ujarnya.
Menurutnya, Hari Pembebasan menandai berakhirnya 100 hari genosida yang menewaskan lebih dari satu juta orang pada 1994. Tragedi tersebut menjadi salah satu waktu paling kelam dalam sejarah Rwanda karena kekerasan terjadi di antara masyarakat yang hidup berdampingan.
Meski demikian, ia menekankan bahwa Kwibohora bukan hanya tentang mengingat masa lalu, melainkan juga merayakan perjalanan Rwanda untuk bangkit.
Dalam pidatonya, Duta Besar Rwanda mengatakan bahwa selama lebih dari tiga dekade terakhir negaranya telah mengalami perubahan yang signifikan.
“Over the past thirty-two years, Rwanda has undergone a remarkable transformation. From the ashes of conflict and devastation, our nation has chosen unity over division, reconciliation over revenge, institution-building over instability, and self-reliance over dependence," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa tema "Rwanda's Journey Continues" mencerminkan komitmen Rwanda untuk terus menjaga persatuan dan membangun masa depan.
Penampilan Budaya Jadi Bagian Penting Perayaan
Semangat tersebut juga tercermin dalam penyelenggaraan perayaan Kwibohora yang selalu menempatkan budaya sebagai bagian penting. Menurut Duta Besar Rwanda, budaya menjadi identitas yang menyatukan masyarakat sekaligus sarana mempererat hubungan dengan negara lain.
"People without culture, they are not people. When we celebrate,the first thing we put forefront is our culture," ujarnya.
Hal itu terlihat melalui penampilan Ruti Joel yang menghibur para tamu undangan dengan sejumlah lagu khas Rwanda. Suasana semakin meriah ketika para peserta diajak menari bersama mengikuti gerakan tari tradisional Rwanda.
Gerakan tarian khas Rwanda dinilai sangat unik karena banyak gerakan yang mengikuti gerakan gemulai hewan endemik asli rwanda.
Duta Besar Rwanda menjelaskan bahwa kehadiran seniman Rwanda di Jakarta merupakan bagian dari upaya memperkenalkan budaya negaranya sekaligus membuka peluang kolaborasi budaya dengan Indonesia.
"Culture makes people meet. Not only governments, people. To have real cooperation between governments, you need people first to meet," katanya.
Ia juga menyampaikan optimisme terhadap hubungan kedua negara yang terus berkembang, baik melalui kerja sama perdagangan, pariwisata, maupun pertukaran budaya.
Rangkaian peringatan Kwibohora di Indonesia masih akan berlanjut pada 18 Juli melalui perayaan budaya Rwanda. Acara tersebut akan menghadirkan berbagai pertunjukan seni tradisional sebagai upaya memperkenalkan budaya Rwanda.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


