Di berbagai toko oleh-oleh di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, purwoceng masih mudah ditemukan dalam bentuk bubuk yang diseduh seperti kopi atau dicampur susu. Rasanya hangat dan sedikit pedas. Selama bertahun-tahun, tanaman ini dikenal sebagai herbal khas pegunungan sekaligus dipercaya membantu meningkatkan vitalitas.
Namun, di balik keberadaannya sebagai produk wisata, ada kenyataan lain yang jarang diketahui. Purwoceng kini termasuk tanaman yang terancam punah.
Purwoceng (Pimpinella pruatjan Molk.), yang juga dijuluki ginseng of Java, merupakan tanaman endemik Indonesia. Secara alami, spesies ini hanya tumbuh di kawasan dataran tinggi, terutama Dieng, pada ketinggian sekitar 1.800 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut.
Bentuknya berupa tanaman kecil yang merambat di permukaan tanah, dengan daun hijau kemerahan berukuran sekitar satu hingga tiga sentimeter. Seluruh bagian tanaman, mulai dari daun hingga akar, dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional, meski akar menjadi bagian yang paling banyak digunakan.
Nilai purwoceng tidak hanya berasal dari tradisi masyarakat. Berbagai penelitian menunjukkan tanaman ini mengandung beragam senyawa bioaktif seperti sitosterol, stigmasterol, saponin, kumarin, psoralen, vitamin E, hingga kelompok furanokumarin seperti bergapten dan isobergapten. Kandungan tersebut membuat purwoceng banyak dimanfaatkan dalam produk herbal.
Terancam karena Dipanen hingga ke Akar
Ironisnya, manfaat ekonomi yang tinggi justru menjadi salah satu penyebab menurunnya populasi purwoceng di alam. Tanaman ini kini masuk kategori Endangered atau terancam punah dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Menurut Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Tanaman Perkebunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Otih Rostiana, tekanan terhadap populasi purwoceng berasal dari berbagai faktor, mulai dari alih fungsi lahan hingga eksploitasi yang berlangsung selama bertahun-tahun. Situasi itu semakin sulit karena proses pemanenannya dilakukan secara menyeluruh.
“Seluruh bagian purwoceng, mulai dari akar hingga daun, digunakan sebagai bahan baku obat tradisional sehingga proses panen dilakukan secara menyeluruh dan berdampak langsung terhadap keberlangsungan populasi di alam,” jelas Otih.
Di sisi lain, purwoceng juga harus bersaing dengan komoditas pertanian lain yang dianggap lebih menguntungkan. Akibatnya, habitat alami tanaman ini terus menyusut, sementara upaya budidaya belum mampu memenuhi kebutuhan pasar.
Varietas Baru, Tantangan Lama
Untuk menjaga keberlanjutan tanaman ini, BRIN telah melakukan penelitian pemuliaan sejak beberapa tahun terakhir. Melalui seleksi sumber daya genetik dan pemurnian galur, lembaga tersebut berhasil menghasilkan varietas unggul yang dilepas pada 2013.
Varietas baru itu memiliki ciri tulang daun berwarna merah keunguan, kandungan sitosterol yang lebih tinggi, serta kemampuan beradaptasi di lokasi budidaya yang lebih rendah dibandingkan habitat alaminya.
“Kami telah menghasilkan varietas unggul yang memiliki karakter genetik lebih baik dan menunjukkan peningkatan kandungan sitosterol serta kemampuan adaptasi yang lebih luas dibandingkan populasi alaminya,” kata Otih.
Meski demikian, penelitian belum berhenti pada tahap menghasilkan varietas baru. Tantangan berikutnya adalah menyediakan bibit dalam jumlah besar. Perbanyakan melalui biji masih terkendala rendahnya daya tumbuh, sedangkan teknologi kultur jaringan belum memberikan hasil yang konsisten pada proses pembentukan tunas, akar, maupun aklimatisasi tanaman.
Karena itu, BRIN juga mengembangkan pendekatan lain melalui mutasi buatan untuk memperluas keragaman genetik sehingga purwoceng lebih adaptif terhadap perubahan lingkungan. Bersamaan dengan itu, konservasi plasma nutfah menjadi prioritas karena sebagian koleksi hasil penelitian terdahulu sudah tidak dapat lagi ditelusuri keberadaannya.
Konservasi dan Budidaya Harus Berjalan Bersama
Bagi BRIN, masa depan purwoceng tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan penelitian di laboratorium. Standarisasi mutu bahan baku, kepastian identitas tanaman, teknik budidaya, hingga waktu panen menjadi faktor penting agar industri herbal memperoleh bahan baku yang berkualitas sekaligus mengurangi risiko pemalsuan dengan tanaman lain yang memiliki bentuk akar serupa.
Otih menegaskan bahwa konservasi, budidaya, dan penguatan rantai pasok harus dilakukan secara bersamaan dengan melibatkan peneliti, petani, industri, dan pemerintah daerah.
“Purwoceng masih berpotensi besar untuk dikembangkan. Karena itu, budi daya, konservasi, dan standarisasi bahan baku harus terus diperkuat agar tanaman ini tetap lestari, memberikan manfaat ekonomi bagi petani, serta mampu memenuhi kebutuhan industri dengan mutu yang terjamin,” pungkasnya.
Baca jugaSempat Diselamatkan Warga, Tanaman dari Pegunungan Sulawesi Ini Resmi Jadi Spesies Baru
Baca jugaSpesies Baru Tanaman Lidah Kucing Ditemukan di Sumut
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


