Menatap bangunan tua yang masih kokoh berdiri sering kali membawa kita pada perenungan tentang bagaimana sebuah peradaban dibangun. Di wilayah selatan Ponorogo, tepatnya di Desa Tegalsari, Kecamatan Jetis, ada sebuah tempat ibadah yang menyimpan denyut sejarah penyebaran Islam sejak abad ke-18.
Masjid Jami Tegalsari berdiri sebagai salah satu masjid tertua di Indonesia yang didirikan sekitar tahun 1724. Keberadaannya tidak bisa dipisahkan dari sosok legendaris Kyai Ageng Muhammad Besari, seorang ulama besar yang menjadi perintis berdirinya pondok pesantren di daerah ini.
Kompleks bangunan bersejarah ini kerap ramai didatangi oleh para peziarah yang ingin berdoa di area makam keluarga sang ulama. Tempat ini menjelma menjadi pusat wisata religi yang menghubungkan masyarakat modern dengan warisan spiritual masa lampau.
Nilai sejarah tempat ini semakin terasa saat kita menyadari bahwa dari rahim Tegalsari lahir tokoh-tokoh besar yang memengaruhi jalannya sejarah bangsa. Sastrawan Jawa Ranggawarsita hingga tokoh pergerakan nasional H.O.S Cokroaminoto tercatat pernah menimba ilmu di tempat ini.
Perjalanan menuju ke lokasi ini membawa kita menyusuri rute pedesaan Ponorogo yang tenang dan asri. Nuansa masa lalu langsung terasa begitu kita memasuki gerbang luar kompleks yang arsitekturnya masih mempertahankan struktur aslinya.
Sekilas Mengenai Masjid Jami Tegalsari
Kyai Ageng Muhammad Besari mendirikan masjid ini sebagai pusat penyiaran agama Islam pertama dan terbesar di wilayah Ponorogo pada zamannya. Pada awal pembangunannya, ukuran fisik bangunan masjid ini masih tergolong kecil dan sangat sederhana.
Seiring bertambahnya jumlah santri yang datang dari berbagai penjuru tanah Jawa, bangunan masjid diperluas oleh sang cucu, yaitu Kyai Kasan Besari. Beliau adalah tokoh yang dikenal berhasil menyebarkan syiar Islam hingga ke wilayah lereng Gunung Lawu.
Masyarakat setempat juga merawat dengan baik cerita tutur mengenai keajaiban saat proses pendirian tiang-tiang utama masjid yang terbuat dari kayu jati pilihan. Tiang-tiang tersebut konon sempat sulit berdiri tegak sebelum akhirnya ditampar oleh kesaktian Kiai Kasan Besari.
Masalah lain juga sempat muncul ketika salah satu tiang di bagian pojok tidak dapat ditancapkan karena ujungnya kurang tajam. Sang kyai kemudian memijat kayu jati tersebut menggunakan tangannya hingga menjadi lancip sehingga bisa terpasang rapi tanpa paku.
Daya Tarik Utama Masjid Jami Tegalsari
Gaya arsitektur tradisional Jawa melekat sangat kuat pada seluruh struktur fisik bangunan Masjid Tegalsari. Keunikan utama bangunan ini terletak pada 36 tiang penyangga dari kayu jati yang seluruhnya digabungkan menggunakan sistem pahat dan pasak tanpa paku besi.
Jumlah tiang tersebut memiliki arti simbolis yang melambangkan angka sembilan, sebagai representasi dari keberadaan Wali Songo yang menyebarkan Islam di Pulau Jawa. Struktur atap masjid dibuat berbentuk persegi berundak tiga tanpa susunan kuda-kuda layaknya rumah biasa.
Undakan tiga pada atap kerucut tersebut melambangkan tiga pilar utama dalam ajaran agama, yaitu iman, ihsan, dan Islam. Hal unik lainnya adalah bagian kubah masjid yang berbentuk gerabah kokoh dari tanah liat yang keasliannya masih terjaga.
Kompleks cagar budaya ini secara keseluruhan terbagi menjadi tiga area utama yang memiliki tingkat kesakralan berbeda. Area tersebut meliputi Dalem Gede sebagai pusat pemerintahan dahulu, bangunan utama masjid, serta kompleks makam keluarga Kyai Ageng Muhammad Besari.
Di dalam masjid ini juga tersimpan benda bersejarah berupa kitab kuno berumur sekitar 150 hingga 170 tahun yang ditulis langsung oleh Ranggawarsita. Keberadaan kitab ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para peneliti sejarah dan pencinta naskah kuno nusantara.
Akses Menuju Masjid Jami Tegalsari
Untuk menjangkau lokasi wisata religi ini, Kawan GNFI bisa memulai perjalanan dari pusat Kota Ponorogo ke arah selatan menuju Kecamatan Jetis. Jarak yang perlu ditempuh relatif dekat dan hanya membutuhkan waktu perjalanan darat yang singkat.
Akses jalan menuju Desa Tegalsari sudah teraspal dengan baik sehingga dapat dilalui dengan nyaman oleh berbagai jenis kendaraan pribadi. Lokasinya yang strategis di wilayah pedesaan juga memudahkan para peziarah luar kota untuk menemukan rute langsung.
Setibanya di area kompleks, pengunjung akan disuguhkan pemandangan tata ruang desa yang masih mempertahankan pola pemukiman tradisional Jawa abad lampau. Suasana asri pedesaan ini membuat lelah perjalanan panjang langsung sirna seketika.
Jam Operasional dan Harga Tiket
Kawasan wisata religi Masjid Jami Tegalsari terbuka bagi para pengunjung dan peziarah selama 24 jam penuh setiap harinya. Pengelola tidak menetapkan tarif tiket masuk resmi bagi siapa saja yang ingin beribadah atau berziarah ke makam keluarga kyai.
Meskipun tidak ada pungutan tiket, pengunjung diharapkan ikut menjaga kebersihan serta ketenangan di area sakral tempat ibadah. Saat momen Ramadan tiba, khususnya malam ganjil, area ini akan dipadati oleh puluhan ribu jemaah dari berbagai penjuru daerah.
Fasilitas penunjang di sekitar masjid sudah sangat memadai untuk kenyamanan para tamu, mulai dari area wudu yang bersih hingga tempat istirahat. Warung-warung makan milik warga sekitar juga berdiri rapi untuk menyediakan kebutuhan kuliner bagi para peziarah.
Ayo Berkunjung ke Masjid Jami Tegalsari!
Mendatangi Masjid Jami Tegalsari memberikan kita kesempatan berharga untuk melihat dari dekat perpaduan harmonis antara spiritualitas dan kebudayaan Jawa. Struktur kayu jati kuno dan keheningan di sekitar makam menjadi pengingat tentang besarnya pengaruh dakwah Islam masa lalu.
Bagi Kawan GNFI yang sedang berada di wilayah Ponorogo, luangkan waktu untuk singgah ke tempat ini demi merasakan ketenangan batin yang ditawarkan oleh atmosfer kuno masjid. Datanglah saat sore hari agar bisa menikmati suasana syahdu berlatar arsitektur abad ke-18 yang menakjubkan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


