legenda asal usul batu poaro cerita rakyat dari sulawesi tenggara - News | Good News From Indonesia 2026

Legenda Asal Usul Batu Poaro, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

Legenda Asal Usul Batu Poaro, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara
images info

Legenda Asal Usul Batu Poaro, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara | Pexels/mohd hasan


Batu Poaro adalah salah satu situs yang ada di Kelurahan Wameo, Kecamatan Batupoaro, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Konon ada sebuah cerita rakyat dari daerah Sulawesi Tenggara yang menceritakan tentang legenda asal usul Batu Poaro tersebut.

Menurut legendanya, batu ini merupakan tanda yang ditinggalkan oleh seorang ulama sakti di masa lalu. Batu ini menjadi pengingat sekaligus penanda atas sebuah kejadian yang pernah terjadi dulunya.

Simak kisah dari legenda asal usul Batu Poaro tersebut dalam artikel berikut ini.

Legenda Asal Usul Batu Poaro, Cerita Rakyat dari Sulawesi Tenggara

Dilihat dari buku Cerita Rakyat Buton dan Muna di Sulawesi Tenggara, diceritakan pada zaman dahulu Kesultanan Buton berada dalam masa jayanya. Kesultanan ini menjelma menjadi sebuah negeri yang makmur, aman, dan sentosa.

Pada suatu masa, datang seorang penyair dari tanah Arab ke daerah tersebut. Penyair tersebut bernama Syekh Abdul Wahid.

Penyair ini memiliki ketampanan yang di atas rata-rata. Setiap orang yang melihatnya akan terpesona dengan tampilan fisik dari Syekh Abdul Wahid tersebut.

baca juga

Kedatangan Syekh Abdul Wahid ini disambut dengan tangan terbuka oleh Sultan Buton. Sang sultan menerima Syekh Abdul Wahid sebagai tamu kehormatan di istana.

Sang penyair pun ditempatkan di sebuah kamar yang pintunya menghadap tangga menuju loteng. Loteng sendiri merupakan tempat istri serta selir-selir tertinggi sultan beristirahat.

Pada suatu hari, Syekh Abdul Wahid beraktivitas seperti biasa. Selain menjadi tamu, penyair tersebut juga menyebarkan ajaran agama Islam yang dia bawa dari tanah Arab.

Setelah beraktivitas seharian, Syekh Abdul Wahid kemudian kembali ke kamarnya. Di sana dia pun membersihkan badan dan mandi begitu sampai di kamar.

Saat selesai mandi, Syekh Abdul Wahdi tanpa sengaja menengadah ke arah loteng. Ternyata mata Syekh Abdul Wahid bertatapan langsung dengan mata istri sultan.

Istri sultan terpaku layaknya tersihir saat itu juga. Matanya tertuju pada ketampanan Syekh Abdul Wahid.

Tiba-tiba istri sultan langsung jatuh hati pada Syekh Abdul Wahid. Dirinya langsung melemparkan sapu tangan ke arah Syekh Abdul Wahid.

Hal ini langsung diketahui oleh sang sultan. Amarah sultan langsung meledak karena menduga Syekh Abdul Wahid sudah menggoda istrinya.

Sultan kemudian memerintahkan pengawalnya membawa Syekh Abdul Wahid ke hadapannya. Tanpa pikir panjang, sang sultan langsung menjatuhkan hukuman pada Syekh Abdul Wahid.

Sang penyair dihukum untuk dibuang ke laut. Pengawal terpilih pun diperintahkan untuk membawa Syekh Abdul Wahid.

Namun keajaiban tiba-tiba terjadi. Saat perahu sudah pergi jauh ke lautan, tiba-tiba Syekh Abdul Wahid terlihat berjalan dengan santai di tepi pantai.

baca juga

Melihat hal ini, sang sultan kembali memerintahkan pengawalnya untuk membawa Syekh Abdul Wahid ke lautan. Syekh Abdul Wahid kembali dibawa ke laut seperti perintah sang sultan.

Namun kejadian serupa kembali terulang. Ketika perahu sudah menjauh ke laut, tiba-tiba Syekh Abdul Wahid kembali berjalan dengan santai di tepi pantai.

Kejadian serupa terus berulang sebanayak tujuh kalinya. Hingga saat kali ketujuh, Syekh Abdul Wahid berkata bahwa dia akan kembali ke tanah Arab dan meninggalkan daerah itu.

Sebelum pergi, Syekh Abdul Wahid meninggalkan sebuah tanda di sana. Tanda ini menjadi pengingat jika di sana pernah terjadi ketidakadilan yang menghakimi orang tidak bersalah.

Setelah itu, Syekh Abdul Wahid mengembangkan sorban putihnya. Dalam sekejap, Syekh Abdul Wahid terbang dengan sorbannya dan kembali ke daerah asalnya.

Konon tanda yang ditinggalkan oleh Syekh Abdul Wahid inilah yang menjadi asal usul Batu Poaro. Batu ini juga menjadi tanda penyebaran agama Islam di daerah Buton dulunya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

IJ
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.