jejak sejarah di museum aceh rumah tradisional yang menjadi pusat memori tanah rencong - News | Good News From Indonesia 2026

Jejak Sejarah di Museum Aceh, Rumah Tradisional yang Menjadi Pusat Memori Tanah Rencong

Jejak Sejarah di Museum Aceh, Rumah Tradisional yang Menjadi Pusat Memori Tanah Rencong
images info

Dok. Si Gam (Wikimedia)


Melihat sejarah panjang Aceh tidak lengkap tanpa berkunjung ke museum yang menyimpan artefak masa lalu. Kawasan ini menjadi tempat berkumpulnya warisan budaya yang bertahan sejak era prasejarah hingga zaman kesultanan.

Pemerintah Hindia Belanda membuka tempat ini pada tanggal 31 Juli 1915 di bawah prakarsa F.W. Stammeshaus. Ia adalah seorang kurator yang mengumpulkan banyak benda budaya dari tanah Aceh untuk diselamatkan.

Gubernur Sipil dan Militer Aceh saat itu, Jenderal H.N.A. Swart, menyetujui usul untuk membawa bangunan paviliun pameran kembali ke Aceh. Setelah masa kemerdekaan, pemerintah daerah mengambil alih pengelolaan secara penuh.

 

Sekilas Mengenai Museum Aceh

Bangunan awal museum berasal dari paviliun Aceh yang pernah dipamerkan di arena Pameran Kolonial Semarang pada tahun 1914. Paviliun tersebut meraih banyak penghargaan karena menyajikan koleksi paling lengkap pada masanya.

Kompleks cagar budaya ini dipindahkan ke Jalan Sultan Mahmudsyah, Peuniti, Banda Aceh, pada tahun 1969 atas prakarsa T. Hamzah Bendahara. Lahan seluas 10.800 meter persegi ini menjadi pusat pelestarian kebudayaan suku bangsa asli.

Proyek rehabilitasi terus berjalan sepanjang masa Pelita untuk membangun gedung pameran tetap, perpustakaan, dan laboratorium. Statusnya kemudian resmi naik menjadi Museum Negeri Aceh pada tahun 1980 melalui peresmian oleh Menteri Pendidikan.

 

Daya Tarik Utama Museum Aceh

Daya tarik utama kawasan ini adalah bangunan Rumoh Aceh yang dirancang berbentuk rumah panggung berbahan kayu pilihan. Bagian lantai sengaja dibuat setinggi 9 kaki dari permukaan tanah dengan topangan tiang yang kokoh.

Sistem konstruksi pasak tanpa paku besi membuat bangunan tradisional ini sangat fleksibel untuk dibongkar dan dipasang kembali. Model arsitektur lokal ini menjadi magnet utama yang paling banyak menarik perhatian wisatawan.

Kawasan ini juga memiliki gedung pameran tetap yang memadukan arsitektur tradisional dengan gaya modern. Di halaman depan gedung, berjejer beberapa buah meriam besi peninggalan Belanda yang berasal dari abad ke-17.

Benda pusaka yang paling populer di tempat ini adalah Lonceng Cakra Donya yang diperkirakan sudah berusia lebih dari 1.400 tahun. Lonceng besi ini merupakan hadiah muhibah dari Kaisar Tiongkok Dinasti Ming kepada Sultan Pasai.

Wisatawan juga bisa melihat langsung peralatan pertanian kuno seperti krong pade sebagai lumbung padi dan jeungki alat penumbuk padi. Semua artefak dirawat dengan sangat baik untuk menjaga memori kolektif warga.

 

Akses Menuju Museum Aceh

Lokasi museum sangat strategis karena berada tepat di pusat Kota Banda Aceh yang dekat dengan Lapangan Blang Padang. Wisatawan dapat menjangkau tempat ini dengan mudah menggunakan kendaraan pribadi maupun transportasi umum.

Jalan raya menuju gerbang utama sudah teraspal mulus sehingga memudahkan pergerakan rombongan bus wisata luar daerah. Papan petunjuk arah di sekitar jalan utama kota juga terpasang jelas untuk memandu para pelancong.

Tata ruang di dalam kompleks diatur dengan rapi sehingga pengunjung bisa berjalan kaki dengan nyaman dari satu gedung ke gedung lain. Suasana teduh langsung terasa berkat pepohonan yang tumbuh subur di sekeliling halaman.

 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Kawasan cagar budaya Museum Aceh melayani kunjungan wisatawan setiap hari sesuai dengan jadwal operasional berkala. Pengelola menetapkan tarif tiket masuk Rp5.000, anak-anak Rp3.000, dan wisatawan asing Rp15.000.

Seluruh dana dari hasil retribusi masuk dialokasikan kembali untuk membiarkan program perawatan inventaris buku dan sarana publik. Tempat ini menyimpan lebih dari 18.000 item yang terdiri dari benda sejarah dan ribuan buku.

Fasilitas pendukung di sekitar lokasi sudah tersedia dengan lengkap, mulai dari gedung pertemuan hingga toilet bersih. Beberapa pemandu lokal juga siap membantu memberikan informasi detail mengenai sejarah setiap benda.

 

Ayo Berkunjung ke Museum Aceh!

Mendatangi Museum Aceh memberikan kesempatan berharga untuk memahami lebih dalam identitas masyarakat dari masa ke masa. Koleksi benda pusaka dan arsitektur kuno menjadi bukti nyata kekayaan budaya yang tetap terjaga.

Bagi yang sedang berada di Banda Aceh, luangkan waktu untuk mampir dan melihat langsung warisan Kesultanan Aceh dari dekat. Pastikan datang lebih awal agar memiliki waktu cukup untuk menjelajahi seluruh area museum.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.