Stasiun Rajapolah (RJP) merupakan stasiun kereta api kelas III atau kecil di Tasikmalaya. Terletak di Manggungjaya, Rajapolah, Tasikmalaya, stasiun ini berada di bawah tanggung jawab Daerah Operasi (Daop) II Bandung.
Stasiun Rajapolah berada di ketinggian +459, cukup tinggi jika dibandingkan stasiun-stasiun lainnya. Stasiun ini memang terletak di dataran tinggi.
Meskipun kecil, Stasiun Rajapolah berperan penting dalam mendukung konektivitas masyarakat Tasikmalaya menuju Jakarta dan Purwokerto. Awal tahun 2026, Stasiun Rajapolah resmi beroperasi kembali setelah beberapa waktu nonaktif. Uniknya, saat ini hanya ada satu kereta yang berhenti di stasiun ini, yakni KA Serayu.
Konon, Stasiun Rajapolah sudah dibuka sejak tahun 1893 oleh Staatsspoorwegen (SS). Dahulu, stasiun ini dikepalai oleh J. van Weerden.
Dulu, kurang lebih enam kilometer ke arah selatan daerah Babakanjawa, tepatnya setelah perlintasan sebidang jalan raya, ada percabangan jalur nonaktif menuju Stasiun Pirusa. Jalur ini dulunya merupakan jalur kereta pengangkut pasir dari Gunung Galunggung ke Stasiun Cipinang Jakarta.
Stasiun yang Hanya Layani Pemberhentian 1 Kereta Api
Kawan GNFI, per 14 Maret 2026 lalu, Stasiun Rajapolah resmi direktivasi. Hal ini ditandai dengan beroperasinya Kereta Api (KA) Serayu tujuan Pasarsenen-Purwokerto dan sebaliknya (PP) via Cikampek-Kiaracondong.
Disadur dari akun Instagram resmi PT Kereta Api Indonesia (Persero), KA Serayu melayani penumpang yang akan naik dan turun di Stasiun Rajapolah sebanyak dua kali sehari. Rute Pasarsenen-Purwokerto mulai berangkat pagi pukul 09.30 dan tiba pukul 20.35. Sementara itu, untuk rute Purwokerto-Pasarsenen, KA Serayu mulai berangkat di sore hari pukul 16.45 dan tiba pukul 04.17 pagi.
Pemberhentian di Stasiun Rajapolah ini diharapkan bisa mempermudah pelanggan setia KAI yang berada di Tasikmalaya dan sekitarnya. Masyarakat sekitar Stasiun Rajapolah bisa naik dan turun dengan KA Serayu tanpa harus repot lagi ke Stasiun Tasikmalaya.
Beroperasinya stasiun yang sudah berusia uzur ini juga dapat mempermudah mobilisasi dan akses transportasi yang lebih luas kepada masyarakat. Tak hanya itu, keberadaan stasiun kereta api aktif turut mendukung aktivitas ekonomi dan pariwisata daerah di Kabupaten Tasikmalaya.
KA Serayu, KA Murah Andalan Masyarakat
KA Serayu adalah salah satu kereta ekonomi subsidi (PSO) andalan masyarakat Jawa Barat dan sekitarnya. Tarifnya yang sangat murah membuat kereta ini menjadi pilihan utama untuk bepergian dari Jakarta ke Purwokerto maupun sebaliknya.
KA ini sangat legendaris. Jauh sebelum bernama “Serayu”, kereta ini sempat mengalami beberapa kali pergantian nama. Sejarah KA Serayu berawal dari peluncuran KA Patas Bandung-Jakarta tahun 1950-an.
Lalu, pada tahun 1978, PT KAI (Persero), saat itu masih bernama Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), melakukan perpanjangan rute. Tak hanya itu PJKA juga mengubah nama KA Patas Bandung-Jakarta menjadi Patas Banjar-Manggarai.
Menariknya, okupansi kereta ini sangat bagus. Walhasil, di tahun 1980-an, perjalanan kereta api ini diperpanjang. Bahkan, kereta ini juga disemati nama “Cepat Sidareja”.
Seiring berjalannya waktu, perpanjangan rute terus dilakukan hingga Stasiun Kroya. Pada 15 November 1990, kereta ini akhirnya resmi berganti menjadi KA Serayu seperti yang kita kenal sekarang. Nama “Serayu” diambil dari nama sungai legendaris di Jawa Tengah yang bermuara sampai Samudra Hindia.
1 September 2013, KA Serayu mengalami perpanjangan rute menjadi Pasarsenen-Purwokerto via Kiaracondong. Dengan demikian, KA Serayu memiliki jarak tempuh total sekitar 442 km.
Yang membuat KA Serayu selalu ramai adalah tarifnya yang murah meriah. Hanya dengan merogoh kocak sebesar Rp63.000-Rp67.000, penumpang sudah bisa menikmati perjalanan dengan kereta api yang nyaman dan aman.
Ada Kawan GNFI yang pernah naik KA Serayu dan berhenti di Stasiun Rajapolah?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


