Kawan GNFI, setiap 12 Juli, Indonesia memperingati Hari Koperasi Nasional. Tapi pernahkah Kawan bertanya-tanya mengapa tanggal itu yang dipilih? Mengapa koperasi sampai disebut sebagai "soko guru" atau tiang utama perekonomian Indonesia?
Jawabannya tersimpan dalam sebuah kisah yang bermula di tengah gejolak perjuangan kemerdekaan, di Kota Tasikmalaya, 79 tahun yang lalu.
Kongres Darurat di Tengah Revolusi
Tanggal 12 Juli 1947 bukanlah hari yang biasa. Indonesia baru saja merdeka dua tahun, namun situasi masih sangat tidak stabil. Agresi militer Belanda mengancam kedaulatan bangsa dari berbagai penjuru. Di tengah kondisi itulah, para tokoh pergerakan koperasi memberanikan diri mengadakan Kongres Koperasi Pertama di Tasikmalaya.
Hasilnya, lahirlah organisasi tunggal bernama Sentral Organisasi Koperasi Rakyat Indonesia (SOKRI), sebuah kesepakatan bersama bahwa rakyat harus memiliki wadah ekonomi kolektif yang mandiri dari penjajah. Momen bersejarah inilah yang kemudian dijadikan sebagai Hari Koperasi Indonesia, dan diperingati setiap tahun hingga hari ini.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Media Akademik (2025) berjudul Sejarah Perkembangan Koperasi di Indonesia: Dari Masa Kolonial hingga Era Modern mengungkap bahwa sejak masa kolonial, koperasi telah hadir sebagai wadah ekonomi masyarakat, meskipun awalnya dibatasi oleh kebijakan pemerintah kolonial.
Sebagai respons terhadap dampak negatif kapitalisme dan eksploitasi tenaga kerja, gerakan koperasi muncul untuk memberikan alternatif ekonomi yang berkeadilan bagi rakyat kecil, termasuk membantu masyarakat yang terjerat utang rentenir.
Hatta dan Filosofi Koperasi sebagai Jalan Tengah
Tidak bisa berbicara soal koperasi Indonesia tanpa menyebut nama Mohammad Hatta. Bapak Proklamator yang juga dijuluki Bapak Koperasi Indonesia ini memiliki visi yang sangat kuat bahwa koperasi adalah bentuk ekonomi yang paling sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia yang mengedepankan asas kekeluargaan dan gotong-royong.
Pada kongres kedua koperasi yang dilaksanakan pada 15-17 Juli 1953, Hatta resmi ditetapkan sebagai Bapak Koperasi Indonesia, sebuah pengakuan atas pidato-pidatonya yang menginspirasi gerakan koperasi nasional, termasuk pidatonya yang bersejarah pada peringatan Hari Koperasi Nasional 12 Juli 1951.
Visi Hatta tentang koperasi kemudian terkristalisasi dalam Pasal 33 UUD 1945 yang menyebut bahwa perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan, yang secara implisit menempatkan koperasi sebagai bentuk badan usaha yang paling sesuai dengan konstitusi.
Koperasi: Kontribusi Nyata yang Terus Bertumbuh
Kawan, penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Literasiologi (2025) berjudul Perkembangan Ekonomi Koperasi di Indonesia menemukan bahwa dalam sejarah pembangunan ekonomi nasional, koperasi telah berperan dalam mendorong distribusi pendapatan, memperkuat ekonomi masyarakat, serta mengurangi ketimpangan sosial. Koperasi memiliki kontribusi nyata dalam mendukung sektor UMKM, peningkatan pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta penguatan ekonomi lokal di berbagai wilayah Indonesia.
Namun, penelitian yang sama juga mengidentifikasi pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan. Penguatan tata kelola, modernisasi sistem informasi, inovasi bisnis, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting untuk meningkatkan peran koperasi di era global. Tantangan kualitas manajemen, akses digital, dan daya saing masih menjadi hambatan yang perlu diatasi agar koperasi bisa benar-benar menjadi kekuatan ekonomi yang disegani di tingkat nasional maupun internasional.
Koperasi Merah Putih: Babak Baru di Era Prabowo
Hari Koperasi ke-79 tahun ini juga bertepatan dengan momentum bersejarah lainnya: pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sedang menggulirkan program Koperasi Desa Merah Putih, sebuah inisiatif untuk menghidupkan kembali semangat koperasi di level desa-desa Indonesia. Program ini bertujuan membangun ekosistem ekonomi berbasis komunitas yang terintegrasi dengan kebutuhan dan potensi lokal masing-masing desa.
Apakah program ini akan berhasil mengulang kejayaan koperasi di era Hatta? Hanya waktu yang bisa menjawab. Tapi semangat yang mendasarinya, bahwa ekonomi rakyat harus dikelola bersama oleh rakyat untuk rakyat, adalah semangat yang sama persis dengan yang menggerakkan para perintis koperasi untuk berkongres di Tasikmalaya 79 tahun yang lalu.
Soko Guru yang Harus Terus Dikokohkan
Kawan GNFI, 79 tahun bukanlah usia yang muda untuk sebuah gerakan ekonomi. Koperasi Indonesia telah melewati masa kolonial, revolusi kemerdekaan, Orde Baru, reformasi, hingga era digital. Ia telah bertahan dan terus relevan bukan karena dipaksakan, melainkan karena akarnya tertanam kuat dalam nilai-nilai paling mendasar masyarakat Indonesia: kebersamaan, gotong-royong, dan kepercayaan bahwa kemakmuran sejati hanya bisa dicapai bersama-sama.
Selamat Hari Koperasi Indonesia ke-79, Kawan. Semoga soko guru ekonomi rakyat ini semakin kokoh menyongsong Indonesia Emas 2045.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


