Coba perhatikan orang-orang di kereta atau di kafe belakangan ini. Di antara HP layar penuh dan case AirPods yang bunyi klik saat dibuka, sebagian anak muda justru menjuntaikan kabel putih dari telinga ke saku. Kabel yang dulu kita anggap tanda "ketinggalan zaman" mulai muncul lagi, dan bukan cuma di satu-dua orang.
Fenomena ini punya angka, bukan sekadar kesan. Firma riset pasar Circana mencatat penjualan headphone kabel mulai naik pada 2025, lalu melonjak sekitar 20 persen di enam minggu pertama 2026. Sebelum ikut kaget, satu konteks penting: lonjakan itu terjadi dari titik terendah.
Penjualan headphone kabel sempat anjlok bertahun-tahun setelah AirPods populer, jadi kenaikan 20 persen ini rebound dari dasar, bukan tanda kabel mengalahkan wireless. Earphone nirkabel masih menguasai pasar dengan telak. Yang menarik bukan "siapa menang", melainkan kenapa arah yang sudah lama menurun tiba-tiba berbalik.
Alasan yang Paling Jujur: Dompet
Media Barat suka membingkai ini sebagai gaya hidup. Tapi alasan paling sederhana muncul berulang di forum dan wawancara pengguna: kabel lebih murah dan tidak rewel. Earphone kabel yang layak bisa didapat dengan harga puluhan ribu, sementara earbud nirkabel kelas atas harganya jauh di atas itu. Untuk anak muda yang penghasilannya banyak tersedot sewa kos dan kebutuhan harian, membayar mahal demi fitur yang jarang dipakai terasa mubazir.
Ada juga soal repot. Earphone nirkabel menuntut ritual: mengecas, mengecek baterai, memasangkan ulang saat koneksi putus di tengah lagu. Baterainya melemah dalam dua sampai tiga tahun, lalu jadi sampah elektronik karena hampir mustahil diganti. Kabel tidak minta apa-apa. Colok, dengar, selesai. Kamu bisa melempar earphone kabel ke dalam tas, mengabaikannya setahun, dan benda itu tetap hidup saat dibutuhkan.
Alasan yang Lebih Ramai Dibicarakan: Gaya
Di sisi lain ada lapisan estetika. Sejumlah selebritas seperti Bella Hadid dan Lily-Rose Depp berulang kali tertangkap kamera memakai earphone kabel, padahal jelas mampu membeli yang termahal. Justru di situ daya tariknya: terlihat cuek, tidak sibuk mengejar teknologi terbaru. Sebuah akun Instagram bernama Wired It Girls, yang berdiri sejak 2021, ikut merawat citra ini dan menjadikan kabel sebagai aksesori, bukan sekadar alat dengar.
Kabel juga cocok dengan gelombang nostalgia awal 2000-an yang sedang laku di kalangan Gen Z, sederet dengan kamera digital jadul dan ponsel Nokia lawas. Sebagian anak muda menyebutnya perlawanan kecil terhadap dunia yang serba otomatis. Menjuntai kabel di leher terasa lebih personal daripada dua earbud mungil yang hilang satu tanpa jejak.
Bagaimana di Indonesia?
Di sinilah cerita global perlu direm sebelum ditelan mentah. Bingkai "balik ke kabel" lahir dari negara tempat earphone kabel sempat benar-benar ditinggalkan. Di Indonesia, ceritanya berbeda. Earphone kabel di sini tidak pernah benar-benar hilang. TWS murah dan earphone kabel sama-sama terjangkau, dan banyak orang memakai keduanya bergantian tergantung situasi, bukan memilih satu kubu.
Jadi kalau ada anak muda Indonesia yang lebih sering mencolok kabel, motifnya mungkin lebih dekat ke soal harga dan kepraktisan ketimbang pemberontakan estetika ala pekan mode New York. Klaim bahwa Indonesia mengikuti "gelombang analog" yang sama masih perlu data lokal untuk dibuktikan, dan data itu belum tentu ada. Menarik untuk diamati, belum untuk disimpulkan.
Bukan Perang, Cuma Pilihan yang Melebar
Ironi kecil menutup cerita ini. Apple membuang colokan headphone dari iPhone pada 2016 dengan alasan masa depan tanpa kabel. Kurang dari sepuluh tahun kemudian, kabel muncul lagi bukan sebagai teknologi baru, melainkan sebagai sikap.
Wireless tidak akan tergeser. Yang terjadi bukan satu teknologi mengalahkan yang lain, melainkan pilihan yang melebar. Sebagian orang mau kesunyian tanpa kabel dan siap membayar untuk itu. Sebagian lain memilih benda sederhana yang selalu siap dan murah diganti. Kalau kamu termasuk yang mulai mencolok lagi, kamu tidak sedang ketinggalan zaman. Kamu cuma menghitung ulang apa yang sebenarnya kamu butuhkan dari sepasang headphone.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


