wonogiri jadi ibu kota mi ayam bakso apa istimewanya kudapan itu - News | Good News From Indonesia 2026

Wonogiri Jadi Ibu Kota Mi Ayam Bakso, Apa Istimewanya Kudapan Itu?

Wonogiri Jadi Ibu Kota Mi Ayam Bakso, Apa Istimewanya Kudapan Itu?
images info

Mi ayam bakso Wonogiri | WikimediaCommons/Aqilla Rahmi


Adakah Kawan GNFI yang suka mi ayam bakso? Jika iya, mungkin mi ayam bakso asli Wonogiri bisa menjadi pilihan untuk disantap.

Kawan, mi ayam Wonogiri merupakan salah satu kuliner termasyhur yang memiliki banyak sekali penggemar. Mi ayam khas Wonogiri, biasa disandingkan dengan bakso Wonogiri, adalah kudapan yang terkenal karena kuah beningnya nan sedap.

Saking terkenalnya mi ayam bakso khas Wonogiri, Kabupaten Wonogiri sampai mendeklarasikan diri sebagai Ibu Kota Mi Ayam Bakso. Deklarasi ini dilakukan dalam helatan Festival Mi Ayam Bakso Wonogiri 2026 yang berlangsung pada 3-4 Juli 2026 lalu di Alun-Alun Giri Krida Bakti, Wonogiri.

Wonogiri, Ibu Kota Mi Ayam Bakso

Deklarasi Wonogiri sebagai Ibu Kota Mi Ayam Bakso | Humas Polri
info gambar

Deklarasi Wonogiri sebagai Ibu Kota Mi Ayam Bakso | Humas Polri


Festival Mi Ayam Bakso Wonogiri 2026 sukses memecahkan Rekor MURI melaluui penyadian 5.555 porsi mi ayam bakso gratis. Tak hanya itu, agenda tersebut sekaligus menjadi momentum pendeklarasian Wonogiri sebagai Ibu Kota Mi Ayam Bakso.

Titel anyar itu diharapkan bisa memperkuat identitas Wonogiri sebagai daerah penghasil mi ayam dan bakso. Selama ini, mi ayam dan bakso memang menjadi salah satu “kekuatan” yang menghidupkan ekonomi masyarakat Wonogiri.

Selain menjadi sumber pundi-pundi rupiah, mi ayam juga sudah menjelma menjadi kuliner khas Wonogiri. Bahkan, di luar Wonogiri pun, banyak pedagang yang menjajakan mi ayam bakso dengan embel-embel “Wonogiri” di plakat atau banner-nya.

baca juga

Mi Ayam Bakso Wonogiri yang Legendaris

Kawan GNFI, sejarah mi ayam sebetulnya tidak lepas dari budaya Tionghoa. Faktanya, memang banyak sekali makanan Indonesia yang merupakan akulturasi dari budaya Tionghoa dengan budaya lokal Nusantara.

Merangkum dari berbagai sumber, dahulu banyak orang Tiongkok dan Arab yang merantau ke Nusantara, utamanya di Jawa. Orang Tionghoa memiliki budaya makan mi yang kuat. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa budaya makan mi di Tiongkok sudah ada sejak ribuan tahun silam.

Orang Tiongkok membawa budaya makan mi mereka ke Nusantara. Namun, di awal-awal kedatangan mereka, mi tak begitu populer di lidah masyarakat Nusantara.

Akan tetapi, mi sebetulnya cukup populer di kalangan masyarakat pecinan sendiri. Apalagi, seiring berjalannya waktu, semakin banyak orang-orang keturunan Tionghoa yang merantau dan tinggal di Indonesia.

Konon, di Pasar Gede, Solo, banyak orang Tionghoa yang berjualan mi atau bakmi. Makanan ini menggunakan daging babi sebagai pelengkap.

Di sisi lain, orang Wonogiri sendiri suka merantau. Salah satu kota tempat mereka merantau adalah Solo. Beberapa dari mereka pun bekerja di warung-warung mi milik etnis Tionghoa.

Nah, dari sinilah “transfer” pengetahuan itu terjadi. Para perantau ini yang awalnya bekerja bersama bos mereka kemudian kembali pulang ke kampung halaman dan mulai berbisnis mi.

Tak hanya itu, perantau asal Wonogiri ini ada juga yang membuka usaha di kota-kota besar, sepeti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Surabaya. Resep dan pengalaman turun temurun ini yang membuat mi ayam Wonogiri semakin meluas dan dikenal di banyak kota di Indonesia.

baca juga

Apa Istimewanya Mi Ayam Wonogiri?

Disadur dari situs resmi Pemerintah Wonogiri, mi ayam dan bakso khas Wonogiri terasa sangat spesial karena umumnya menggunakan resep keluarga yang sudah diturunkan dari satu generasi ke generasi di bawahnya. Bahkan, ada warung bakso legendaris tertua, yakni Pak Min, yang dipercaya menjadi pionir bakso Wonogiri yang dikenal di banyak kota di Indonesia.

Selain itu, bakso dan mi ayam kas Wonogiri dikenal dengan kuah bening dengan padanan mi yang kenyal. Di atasnya, masih ada ayam suwir yang lezat dan menggugah selera.

Rempah-rempah seperti kemiri juga digunakan dalam masakan untuk membuat rasanya semakin istimewa. Tak hanya itu, biasanya pedagang juga menggunakan minyak ayam bawang yang dibuat dari tumisan kulit ayam, bawang putih, jahe, dan rempah. Minyak inilah yang memberikan aroma harum dan menggugah selera.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.