Isu keberlanjutan mulai meluas menjadi perhatian dunia, khususnya setelah diperkenalkannya konsep ESG pada awal 2000-an, dan SDGs pada tahun 2015.
Saat itu, masalah keberlanjutan (sustainability) menjadi perhatian dunia korporasi ketika mereka menyadari bahwa keberhasilan bisnis tidak hanya bergantung pada faktor finansial saja.
Lahirnya konsep ESG (Environmental, Social, and Governance) dipicu oleh serangkaian masalah yang berkaitan dengan tata kelola, kerusakan lingkungan, dan permasalahan sosial. Semua masalah itu dapat berisiko fatal bagi keberlanjutan bisnis.
Setelahnya, PBB mencetuskan Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan sebagai blueprint keberlanjutan yang komprehensif, inklusif, dan universal, yang dapat diadopsi dan dilakukan oleh semua kalangan di dunia.
Kalangan perguruan tinggi pun terdorong untuk berkontribusi mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya melalui upaya-upaya akademik yang memberikan dampak pada 17 tujuan SDGs.
Keterlibatan dunia akademik itu tidak hanya dalam ranah keilmuan teoretis saja, melainkan diwujudkan melalui segala aktivitas pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat, yang di Indonesia dikenal dengan konsep tridarma.
Kebanggaan Reputasi Perguruan Tinggi
Komitmen perguruan tinggi dalam upaya keberlanjutan rupanya berkembang menjadi salah satu tolok ukur reputasi yang penting bagi institusi, selain reputasi akademik konvensional.
Banyak perguruan tinggi berlomba-lomba mencapai peringkat atas dalam instrumen pemeringkatan yang mengukur kinerja keberlanjutan. Peraihan posisi peringkat atas dalam tabel pemeringkatan itu menjadi kebanggaan reputasi kampus.
Saat ini, ada tiga raksasa pemeringkatan keberlanjutan global yang populer dan telah diakui di seluruh dunia, yakni Times Higher Education (THE) Sustainability Impact Ratings, Quacquarelli Symonds (QS) World University Rankings: Sustainability, dan UI GreenMetric World University Rankings.
Di antara ketiga pemeringkat keberlanjutan global itu, ada satu lembaga pemeringkat yang berasal dari Indonesia. Bahkan, pemeringkat ini merupakan pionir sistem pemeringkatan global yang lahir hampir satu dekade sebelum lembaga lainnya melirik isu serupa.
Pionir dari Depok ke Pengakuan Global
Inisiatif itu lahir di Universitas Indonesia (UI) pada tahun 2010, melalui UI GreenMetric World University Rankings. Berdasarkan data sejarah, UI GreenMetric menjadi pemeringkat global pertama yang berfokus secara spesifik pada isu keberlanjutan kampus.
Sebagai perbandingan, THE meluncurkan Impact Rankings pada tahun 2019, kemudian berganti nama menjadi THE Sustainability Impact Ratings pada tahun 2026.
Sementara itu, QS yang sebelumnya telah dikenal dengan pemeringkatan reputasi akademik QS World University Rankings (WUR) menyusul dengan meluncurkan QS World University Rankings: Sustainability pada tahun 2022.
Lahirnya UI GreenMetric didorong oleh sebuah idealisme bahwa universitas memiliki peran strategis sebagai agen perubahan sosial dan model bagi masyarakat dalam menghadapi tantangan peradaban masa depan, seperti perubahan iklim dan degradasi lingkungan.
Diprakarsai oleh Prof. Riri Fitri Sari, UI GreenMetric tidak sekadar daftar peringkat, tetapi berevolusi menjadi sebuah gerakan global.
Pada edisi perdananya tahun 2010, tercatat hanya 95 universitas dari 35 negara yang berpartisipasi. Namun, per edisi 2025, angka tersebut melonjak hingga mencakup 1.745 universitas dari 105 negara di berbagai benua.
Keunggulan UI GreenMetric terletak pada kerangka kerjanya yang berfokus kampus hijau, dengan landasan utama aspek lingkungan, ekonomi, dan kesetaraan/sosial.
Metodologinya mengevaluasi kebijakan dan kinerja kampus melalui enam kategori utama, yakni 1) penataan dan infrastruktur, 2) energi dan perubahan iklim, 3) sampah, 4) air, 5) transportasi, serta 6) pendidikan dan penelitian.

Lima perguruan tinggi Indonesia peringkat teratas UI GreenMetric World University Rankings 2025. (sumber: uigreenmetric.com, diakses 1 Juli 2026)
Standar Keberlanjutan Internasional
Melalui jejaring UI GreenMetric World University Rankings Network (UIGWURN) yang dibentuk tahun 2017, Indonesia kini memimpin diskusi akademik internasional mengenai penghijauan kampus dan berbagi praktik terbaik antar-universitas di seluruh dunia.
Pengakuan global pun datang dari berbagai pihak, termasuk International Ranking Expert Group (IREG). IREG Observatory on Academic Ranking and Excellence adalah lembaga internasional nirlaba independen yang mengawasi kualitas, transparansi, dan metodologi sistem pemeringkatan universitas di seluruh dunia.
Pengakuan ini menandakan UI GreenMetric sebagai salah satu instrumen pemeringkat keberlanjutan global yang sangat dihormati.
Memasuki tahun 2026, UI GreenMetric bertransformasi menjadi UI GreenMetric Sustainable University Rankings. Metodologinya ditingkatkan dengan menambahkan kategori ketujuh, yakni tata kelola dan digitalisasi.
Perubahan ini dilakukan untuk merefleksikan evaluasi yang jauh lebih holistik dan mendalam, tidak hanya berfokus pada lingkungan kampus hijau, melainkan meliputi cakupan keberlanjutan yang lebih luas.
Bahkan, UI GreenMetric juga memperluas ekosistem penilaian dengan meluncurkan Corporate Sustainability Rankings dan Sustainable City Rankings. Inovasi ini mempertegas evolusi UI GreenMetric dari instrumen keberlanjutan spesifik sektor pendidikan tinggi menjadi standar tata kelola keberlanjutan multi-sektor tingkat internasional.
UI GreenMetric menyelaraskan program dengan SDGs, tidak hanya mendukung institusi pendidikan tinggi, melainkan juga kalangan korporasi hingga perkotaan agar dapat mengukur progres keberlanjutan dan menghasilkan dampak nyata.
UI GreenMetric membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengikut dalam arus globalisasi pendidikan dan isu keberlanjutan, tetapi mampu menjadi pionir yang menetapkan standar keberlanjutan tingkat dunia.
Inilah bukti bahwa inovasi dari tanah air mampu memberikan dampak nyata bagi masa depan bumi, sekaligus mengingatkan dunia bahwa perjalanan menuju masyarakat berkelanjutan bermula dari sebuah visi besar di Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


