makna lagu untitled rex orange county sabotase diri dalam asmara - News | Good News From Indonesia 2026

Ketika Rasa Cinta Berubah jadi Benci pada Diri Sendiri, Bedah Makna Lagu "Untitled" dari Rex Orange County

Ketika Rasa Cinta Berubah jadi Benci pada Diri Sendiri, Bedah Makna Lagu "Untitled" dari Rex Orange County
images info

Foto oleh Gahan N Rao di Unsplash


Pernahkah Kawan GNFI berada di sebuah titik terendah dalam hubungan asmara? Titik di mana Kawan merasa sangat mencintai pasangan, tetapi di saat yang bersamaan merasa menjadi sosok yang toxic atau racun baginya?

Perasaan campur aduk antara cinta, rasa bersalah, dan ketidakpercayaan diri (insecurity) ini terekam dengan sangat indah—dan menyakitkan—dalam lagu "Untitled" milik musisi asal Inggris, Rex Orange County.

Bagi muda-mudi di Indonesia, nama Rex Orange County tentu sudah tidak asing lagi. Antusiasme luar biasa dari penggemar tanah air selalu terlihat nyata, terbukti dari betapa riuh dan membeludaknya lautan manusia saat ia menggelar konser di Jakarta beberapa waktu lalu.

Daya tarik Alexander O'Connor (nama asli Rex) di mata anak muda Indonesia bukan sekadar dari alunan melodinya yang santai, melainkan keberaniannya untuk menelanjangi sisi rentan dari kesehatan mental dan emosi manusia.

Berbeda dengan lagu patah hati pada umumnya yang sering kali menyalahkan keadaan atau kedatangan orang ketiga, "Untitled" yang dirilis pada tahun 2017 dalam album Apricot Princess ini, justru mengajak pendengarnya untuk menelusuri ruang gelap bernama self-sabotage atau sabotase diri sendiri.

baca juga

Ketergantungan dan Rasa Bersalah yang Menghantui

Pada bait-bait awal, kita langsung disambut dengan sebuah pengakuan dosa yang sangat transparan. Rex bernyanyi, "I make enough mistakes / And it feels like she's the only one that hears the things I say".

Kawan GNFI pasti bisa membayangkan betapa beratnya berada di posisi ini. Ia menyadari sepenuhnya bahwa dirinya penuh dengan kekurangan, kebiasaan buruk, dan sering membuat kesalahan karena egonya yang belum dewasa. Namun, ironisnya, sang kekasih adalah satu-satunya orang di dunia yang benar-benar memahaminya.

Kawan, bayangkan memiliki satu tempat bersandar, satu-satunya orang yang memvalidasi keluh kesahmu. Namun, di saat yang bersamaan, kamu sadar bahwa Kawan sendirilah yang terus-menerus menyakiti tempat bersandar tersebut.

Ada siklus beracun yang terbentuk di sini: ia sangat membutuhkan pasangannya secara emosional, tetapi ia juga dilumpuhkan oleh rasa bersalah setiap kali berada di dekatnya.

Krisis Kepercayaan Diri yang Mendalam

Lirik kemudian bergerak perlahan menuju rasa frustrasi dan kemarahan terhadap diri sendiri. "But why can't I be any other boy / That doesn't need a hand in love? / Someone that I would trust..."

Di bagian ini, kita melihat bagaimana krisis kepercayaan diri itu muncul dan mengambil alih pikiran. Rex mempertanyakan, mengapa ia tidak bisa menjadi seperti laki-laki lain yang lebih mapan secara emosional?

Ia berharap bisa menjadi sosok yang setidaknya bisa ia percayai sendiri. Sebab, Kawan GNFI, mari kita renungkan sejenak: bagaimana mungkin kita bisa meyakinkan orang lain untuk bertahan dan menaruh kepercayaan penuh pada kita, jika kita sendiri meragukan kapasitas diri kita sendiri?

Kegagalan untuk mencintai dan mempercayai diri sendiri inilah yang akhirnya membuatnya merasa gagal memberikan cinta yang pantas bagi pasangannya.

baca juga

Validasi Pahit: Mewajarkan Kebencian Sang Kekasih

Dari semua keputusasaan yang dibangun sejak ketukan nada pertama, puncak emosional dan makna terdalam dari lagu "Untitled" jatuh pada satu baris yang sangat menyayat hati: "And I don't mind if you hate me / 'Cause, baby, if I were you / I would probably hate me too".

Kawan GNFI, bagian penutup ini adalah sebuah validasi rasa sakit yang paling menyesakkan dada. Kebanyakan orang yang berbuat salah dalam suatu hubungan akan bereaksi secara defensif.

Mereka akan berusaha membela diri, mencari pembenaran atas kesalahannya, atau setidaknya memohon-mohon dengan air mata agar tidak ditinggalkan. Namun, apa yang dilakukan sang penyanyi di sini? Ia justru berpihak pada pasangannya.

Saking besarnya rasa cinta, empati, dan rasa bersalah yang ia miliki terhadap sang kekasih, ia secara penuh mewajarkan jika kekasihnya itu membencinya. Tidak ada pembelaan. Tidak ada alasan basa-basi.

Ia memosisikan dirinya di tempat pasangannya, memandang dirinya sendiri dari kacamata sang kekasih, dan dengan getir mengakui bahwa dirinya memang pantas untuk dibenci.

Kalimat "Kalau aku jadi kamu, aku juga pasti akan benci pada diriku sendiri" menunjukkan tingkat kesadaran diri (self-awareness) tertinggi manusia, yang sayangnya telah sepenuhnya diselimuti oleh kebencian pada diri sendiri (self-loathing).

Kawan, pada titik ini, lagunya bukan lagi bercerita tentang rasa takut kehilangan pasangan. Lagu ini memotret ketakutan terbesar yang bisa dialami seseorang dalam sebuah hubungan asmara: menyadari dengan penuh kesadaran bahwa kitalah sosok antagonis dalam kisah cinta kita sendiri.

Menjadikan Diri Sendiri "Rumah" yang Nyaman

Pada akhirnya, "Untitled" memberikan kita sebuah refleksi yang teramat berharga. Kadang kala, musuh terbesar dalam upaya mempertahankan hubungan yang sehat bukanlah masalah jarak, waktu, ketiadaan materi, atau orang lain, melainkan rintangan dari dalam: luka batin dan ketidakdewasaan kita sendiri.

Fenomena ini nyatanya sangat lekat dengan krisis seperempat abad (quarter-life crisis) dan isu kesehatan mental yang kini semakin disadari oleh generasi muda di Indonesia.

Bagi Kawan GNFI yang mungkin saat ini sedang merasakan hal serupa—merasa tidak cukup baik untuk pasangan tercinta, atau terus-menerus dihantui rasa bersalah—lagu ini seolah hadir menjadi pelukan hangat yang memvalidasi bahwa perasaan semacam itu nyata adanya.

Namun, untuk bisa mencintai orang lain secara utuh dan membahagiakan mereka, langkah pertama dan paling krusial yang harus kita ambil adalah belajar menerima, memaafkan, dan mencintai diri kita sendiri.

Lagu ini bukanlah sekadar ratapan sedih anak muda, melainkan sebuah pengingat tegas bahwa sebelum kita meminta seseorang untuk tinggal selamanya, kita harus memastikan bahwa "rumah" yang kita tawarkan di dalam diri kita sudah cukup nyaman untuk disinggahi.

Bagaimana menurut Kawan GNFI? Apakah lagu dari Rex Orange County ini pernah menjadi saksi bisu dari fase pencarian jati diri Kawan?

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.