Pernahkah Kawan GNFI melihat seseorang tiba-tiba jago mendesain, lancar mengedit video, bisa membuat website, atau mahir digital marketing, padahal ia tidak pernah mengikuti sekolah khusus di bidang itu?
Lalu kita bertanya dalam hati, “Kok bisa ya?”
Selama ini, banyak dari kita terbiasa berpikir bahwa belajar harus selalu dimulai dari guru. Ada kelas, ada pengajar, ada modul, ada ujian, lalu barulah kita merasa sedang belajar. Budaya seperti ini cukup kuat di Indonesia. Kita sering merasa belum siap belajar sesuatu kalau belum ada yang membimbing dari awal.
Padahal, zaman sudah berubah. Internet membuka akses belajar yang sangat luas. AI juga membuat proses belajar semakin mudah. Kita bisa bertanya, meminta penjelasan, mencari contoh, bahkan meminta arahan belajar hanya dari perangkat yang kita pegang setiap hari.
Dalam salah satu video YouTube pada 1 Juli 2026, William Jakfar, entrepreneur, kreator konten, praktisi digital marketing, sekaligus pendiri BelajarGPT, membahas bahwa belajar otodidak bukan sekadar menonton tutorial atau membeli course. Belajar otodidak membutuhkan cara berpikir yang aktif.
Belajar Otodidak Bukan Sekadar Menonton Tutorial
Masalahnya, banyak orang merasa sudah belajar hanya karena sudah menyimpan playlist YouTube, membeli kelas daring, atau mengunduh e-book. Padahal, semua itu baru tahap mengonsumsi informasi.
Ibarat ingin belajar berenang, kita tidak akan langsung bisa hanya dengan menonton video teknik renang selama berjam-jam. Pada akhirnya, kita tetap harus masuk ke air.
Di sinilah pentingnya memiliki mindset otodidak. Kita perlu tahu apa yang ingin dipelajari, mengapa ingin mempelajarinya, bagaimana cara memulainya, dan apakah kita sudah benar-benar pernah mencoba.
Salah satu kerangka belajar yang bisa digunakan adalah CLAP Method, yaitu Consume, Learn, Apply, dan Publish.
Tahap pertama adalah consume. Kita boleh belajar dari buku, video, course, artikel, atau AI. Namun, jangan berhenti di tahap ini. Terlalu banyak mengumpulkan materi tanpa praktik hanya membuat kita merasa sibuk, padahal belum tentu berkembang. Kebiasaan ini sering disebut knowledge hoarding, yaitu menumpuk pengetahuan tanpa benar-benar menggunakannya.
Tahap berikutnya adalah learn dan apply. Setelah memahami dasar, segera praktikkan. Tidak perlu menunggu sampai merasa sangat siap. Dalam belajar skill, ada konsep minimum viable competency, yaitu kemampuan minimum yang cukup untuk mulai melakukan sesuatu dengan layak.
Misalnya, Kawan ingin belajar video editing. Tidak perlu langsung menguasai semua fitur aplikasi. Mulailah dari kemampuan paling penting, seperti memotong video, menambahkan teks, mengatur suara, dan membuat alur cerita sederhana. Dari situ, kemampuan akan berkembang pelan-pelan.
Proyek, Komunitas, dan Keberanian Membagikan Karya
Belajar otodidak juga lebih efektif jika berbasis proyek. Daripada hanya mengikuti tutorial dari awal sampai akhir, lebih baik buat sesuatu yang memang ingin dibuat. Ingin belajar desain? Buat poster kegiatan kampus. Ingin belajar menulis? Buat artikel dan kirim ke media. Ingin belajar website? Buat portofolio sederhana.
Dengan proyek, kita dipaksa mencari solusi. Kita belajar bukan karena disuapi, tetapi karena membutuhkan jawaban. Di era AI, proses ini semakin terbantu.
Jika tidak punya mentor, kita bisa menggunakan AI untuk meminta penjelasan, contoh, kritik, atau urutan belajar. Namun, AI tetap hanya alat. Yang menentukan kemajuan tetap tindakan kita sendiri.
Selain itu, carilah komunitas. Mentor memang membantu, tetapi mentor yang tepat sering datang ketika kita sudah menunjukkan usaha. Komunitas bisa menjadi tempat bertanya, berbagi progres, dan melihat standar karya orang lain.
Tahap terakhir adalah publish. Banyak orang takut membagikan hasil belajarnya karena merasa belum cukup bagus. Padahal, orang lain tidak sepeduli itu dengan kesalahan kecil kita. Justru dengan memublikasikan karya, kita jadi punya rasa tanggung jawab untuk terus berkembang.
Pada akhirnya, belajar otodidak bukan berarti belajar sendirian. Belajar otodidak berarti berani mengambil kendali atas proses belajar sendiri.
Mulailah dari satu skill. Pecah menjadi beberapa sub-skill. Pilih bagian yang paling penting. Buat proyek kecil. Cari komunitas. Lalu bagikan hasilnya.
Karena hari ini, hampir semua hal bisa dipelajari. Pertanyaannya bukan lagi “Siapa ya gurunya?”, melainkan “Kapan kita mulai mencobanya?”
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


