tersandera algoritma mengapa otak kita lebih suka menonton video pendek daripada video panjang - News | Good News From Indonesia 2026

Tersandera Algoritma: Mengapa Otak Kita Lebih Suka Menonton Video Pendek daripada Video Panjang?

Tersandera Algoritma: Mengapa Otak Kita Lebih Suka Menonton Video Pendek daripada Video Panjang?
images info

Foto oleh Swello di Unsplash


Kawan, seberapa sering kamu saat bersantai melakukan doomscrolling atau menonton video pendek di ponsel? Niat awalnya mungkin hanya lima menit untuk meregangkan otot dan melepas penat setelah beraktivitas, tetapi tiba-tiba layar terus digeser ke atas hingga tanpa sadar dua jam sudah berlalu.

Fenomena transisi dari konten berdurasi panjang ke format vertikal singkat ini terjadi begitu masif, mengubah cara Kawan mengonsumsi informasi sehari-hari.

Namun, mengapa Kawan merasa sangat sulit untuk sekadar meletakkan perangkat dan berhenti menggeser layar?

Sensasi "Gacha" di Ujung Jari dan Siklus Dopamin Instan

Alasan pertama berakar pada cara kerja otak Kawan yang merespons ketidakpastian. Setiap kali Kawan menggeser layar ke atas, mekanismenya bekerja sangat mirip dengan sistem gacha atau loot box di dalam permainan digital.

Otak Kawan tidak tahu video seperti apa yang akan muncul selanjutnya—apakah itu video komedi, tips informatif, atau justru berita buruk. Ketidakpastian inilah yang secara konstan memicu pelepasan dopamin.

baca juga

Dalam jurnal Applied Research in Quality of Life, Satici dkk. (2022) mengonseptualisasikan kebiasaan ini—khususnya ketika berfokus pada informasi negatif—sebagai doomscrolling, yaitu pemindaian imersif yang menjadi kebiasaan untuk mencari informasi negatif secara tepat waktu di umpan berita media sosial.

Siklus ini sangat adiktif karena terkait erat dengan ketakutan tertinggal informasi atau Fear of Missing Out (FOMO) serta kecanduan media sosial itu sendiri.

Platform menyajikan kepuasan instan yang jauh lebih cepat didapat dibandingkan ketika Kawan harus menunggu alur cerita terbangun dalam video berdurasi 20 menit.

Desain Antarmuka (UI) yang Menghilangkan "Gesekan" Berpikir

Dari kacamata perancangan sistem informasi dan desain User Interface (UI), platform video pendek dirancang dengan sangat presisi untuk meniadakan "gesekan" kognitif. Pada video panjang, penonton harus melakukan serangkaian pengambilan keputusan: mengeklik judul, melihat durasi, lalu menekan tombol putar.

Sebaliknya, antarmuka video pendek menghadirkan gulir tanpa batas (infinite scroll) yang dioptimalkan khusus untuk perangkat seluler.

Sistem ini secara efektif merampas jeda waktu alami yang biasanya digunakan otak untuk menyadari bahwa Kawan sudah terlalu lama menatap layar.

Desain sistem ini terbukti sukses besar dalam memonopoli perhatian. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh Violot dkk. (2024) dalam ACM Web Science Conference, video pendek (seperti YouTube Shorts) secara umum menarik jauh lebih banyak penayangan dan jumlah suka per tayangan dibandingkan video biasa. Bahkan, penelitian tersebut menemukan fakta mengejutkan bahwa video pendek bisa menarik rata-rata 110 kali lebih banyak penayangan dibandingkan dengan video reguler yang diunggah oleh kanal yang sama.

baca juga

Ilusi Produktivitas dan Kedangkalan Informasi

Meskipun video pendek mendominasi metrik penayangan, konsumsi ratusan informasi acak dalam waktu singkat sering kali hanya memberikan ilusi produktivitas. Menurut temuan Violot dkk. (2024), distribusi kategori konten sangat berbeda; video pendek utamanya menargetkan kategori hiburan, sedangkan video reguler mencakup variasi yang jauh lebih luas.

Lebih lanjut, video pendek tidak mampu mengungguli performa video reguler dalam kategori pendidikan dan politik.

Artinya, ketika audiens benar-benar ingin belajar atau mengonsumsi informasi serius yang membutuhkan kedalaman analisis, mereka tetap memilih video reguler.

Kedangkalan interaksi pada video pendek juga terlihat dari metrik komentar. Violot dkk. (2024) mencatat bahwa video reguler memiliki tingkat komentar per tayangan yang lebih tinggi dibandingkan video pendek.

Pengguna yang menonton video panjang menghabiskan lebih banyak waktu pada satu topik, sehingga mereka memiliki ruang kognitif yang cukup untuk terlibat dalam perdebatan atau diskusi di kolom komentar, dibandingkan penonton video pendek yang dengan cepat menggeser ke konten berikutnya.

Lebih jauh, kebiasaan menelusuri rentetan informasi yang cepat dan sering kali negatif ini membawa dampak psikologis yang nyata. Satici dkk. (2022) menemukan bahwa individu yang lebih banyak terlibat dalam doomscrolling lebih rentan mengalami tekanan psikologis (psychological distress), yang pada gilirannya menyebabkan penurunan kepuasan hidup serta kesejahteraan mental.

baca juga

Pada akhirnya, doomscrolling dan kecanduan video pendek bukanlah murni kelemahan kontrol diri Kawan sebagai pengguna. Fenomena ini adalah hasil dari benturan antara kecenderungan neurobiologis manusia dengan desain sistem informasi yang dioptimalkan secara ekstrem untuk menahan perhatian.

Memahami bahwa Kawan sedang berhadapan dengan algoritma yang dirancang untuk membuat Kawan terus menggeser layar adalah langkah pertama yang krusial.

Ke depannya, cobalah untuk merebut kembali kendali lewat jeda sadar—berhenti sejenak, tarik napas, dan tanyakan pada diri sendiri apakah konten berikutnya benar-benar sepadan dengan waktu Kawan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.